|
Rabu, 15 Juni 2005 |
Judul filmnya kalau diterjemahkan secara bebas artinya Si Penerjemah. Bayangkan kalau menonton film Indonesia dengan judul seperti itu. Pasti peminatnya sedikit. Yang dipikir pasti film tentang hal-ikhwal penerjemahan. Tapi bukan itu yang diangkat The Interpreter.
Silvia Broome (Nicole Kidman), seorang interpreter atau penerjemah simultan di kantor PBB secara tidak sengaja mendengar pembicaraan telepon mengenai rencana pembunuhan presiden salah satu negara di Afrika yang akan memberikan sambutan di Sidang Umum PBB. Semula hal itu tidak dianggap serius, tapi setelah menyadari bahwa nyawanya juga terancam maka ia pun menghubungi pihak keamanan. Maka diutuslah Tobin Keller (Sean Penn) untuk melindungi sekaligus mencari tahu kebenaran ancaman tersebut, karena ada kemungkinan Silvia hanya mengarang-ngarang ancaman tersebut. Perbedaan visi membuat kedua orang itu awalnya sulit bekerja sama. Namun, seiring waktu mereka malah menemukan persamaan yang akhirnya menyatukan keduanya. Tentunya film ini tidak lantas jatuh dalam adegan cinta lokasi klise antara keduanya. Hubungan mereka lebih manusiawi dan realistis. Itulah kekuatan film ini. Dan Silvia Broome ternyata memang bukanlah sekadar penerjemah biasa di kantor PBB. Masa lalunya mulai terkuak satu-persatu hingga klimaksnya.
Sang sutradara kawakan, Sidney Pollack, berhasil meramu setiap adegan sehingga berisi dan jauh berbeda dari film action a la Hollywood pada umumnya. Ditambah akting Kidman dan Penn yang sudah teruji dan membuat film ini semakin hidup. Apalagi syutingnya benar-benar asli di Markas PBB, bukan setting buatan. Diakhir cerita, saya pun tercenung. Seorang penonton di samping saya berceletuk, "Dalem banget." Memang, film ini penuh makna. Apalagi ditambah 'hiasan' ledakan bom membuat kita seakan tertohok, bukankah itu yang sedang kita hadapi di negeri sendiri? |