We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Apa Kata Ilmuwan Jerman Mengenai Perbedaan Anak Laki-Laki dan Perempuan
Apa Kata Ilmuwan Jerman Mengenai Perbedaan Anak Laki-Laki dan Perempuan E-mail
Rabu, 15 Juni 2005

kids, parenting, child development, kidss brain, smart kids, Majalah ”Eltern” di Jerman tahun 2005 melaporkan hasil studi mengenai perkembangan anak perempuan dan anak laki-laki. Berikut ini dipaparkan beberapa perbedaan kecil di antara keduanya sehingga dapat bermanfaat bagi para orang tua.

* Anak laki-laki tampaknya membutuhkan perhatian lebih banyak, sebaliknya anak perempuan terlatih untuk lebih mandiri. Sebuah studi jangka panjang terhadap keluarga menemukan bahwa anak laki-laki yang tinggal dengan orang tua yang kurang perhatian memiliki tingkat intelegensia yang lebih rendah dibandingkan dengan anak perempuan pada kondisi yang sama. Anak perempuan yang dikawal terlampau ketat justru memiliki tingkat intelegensia yang lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang lebih banyak diberikan kebebasan.

* Anak perempuan secara fisik telah lebih matang dibandingkan dengan anak laki-laki bahkan sejak sebelum lahir. Dalam rahim ibunya, tulang anak perempuan berkembang lebih awal tiga minggu dibandingkan dengan anak laki-laki, pada saat kelahiran perbedaannya menjadi lebih awal enam minggu, dan pada masa pubertas perkembangannya lebih maju dua tahun. Perkembangan motoris anak perempuan lebih cepat : ia dapat lebih dahulu makan dengan menggunakan sendok dan garpu, menggambar garis lurus dan menutup ritsleting.

* Beberapa bagian di dalam otak anak perempuan mempunyai perbedaan yang nyata terhadap anak laki-laki : jalur syaraf antara belahan otak kanan dan kiri dari anak perempuan terhubung lebih awal dan berkembang lebih kuat dibandingkan dengan anak laki-laki. Oleh sebab itu ia dapat berbicara dan kemudian membaca dengan menggunakan kedua belah otaknya, di mana anak laki-laki hanya menggunakan belahan otak kanannya. Sebagai konsekuensinya : sewaktu kecil, anak perempuan lebih awal dapat belajar berbicara, di sekolah ia lebih mudah menghubungkan bunyi dengan kata-kata, sehingga ia hanya melakukan kesalahan sedikit sewaktu berlatih menulis. Anak laki-laki dapat mengejar ketertinggalannya dengan tiga “mantera” yaitu : berlatih, berlatih dan berlatih.

*  Perkembangan otak anak laki-laki juga lebih lambat di daerah yang bernama frontal lobes (otak depan). Di sana dikendalikan rangsangan-rangsangan yang penting untuk pengendalian diri. Karena perkembangan bagian itu lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan, maka mendidik anak laki-laki yang relatif lebih ”liar” tersebut sedikit lebih sulit tapi justru lebih penting.

* Anak laki-laki menggemari permainan yang bergerak (dinamis), sedangkan anak perempuan lebih suka permainan yang tenang. Hal ini lebih sesuai secara alamiah : pada sebuah eksperimen terhadap simpanse menunjukkan bahwa penyebabnya adalah hormon maskulin yang disebut Androgen. Simpanse betina, yang diberikan porsi tambahan Androgen pada saat berada dalam kandungan induknya, menjadi lebih gaduh dan temperamental dibandingkan dengan teman-teman sejenisnya.

• Wanita dapat merintih atau mengaduh keras seperti seorang pria; hal ini diperkuat oleh hasil studi-studi terbaru yang menunjukkan bahwa anak perempuan (serta wanita dewasa) lebih hebat merasakan sakitnya. Salah satu penyebabnya adalah ia lebih dahulu mengenali rasa sakitnya. Saat ini para ahli menduga bahwa hormon feminin Estrogen yang meningkatkan kepekaan terhadap rasa sakit, sedangkan hormon maskulin Testosteron tidak hanya terbukti menyebabkan pria lebih agresif tapi juga menjadikan pria kurang peka terhadap rasa sakit.

Diterjemahkan secara bebas dari “Typisch Junge! Typisch Mädchen!“, http://www.eltern.de/forfamily/schule_erziehung/erziehung/tdw_typisch.html

 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement