We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Pendek arrow Golden Years
Golden Years E-mail
Pengirim: Diana Mochamad   
Kamis, 09 Juni 2005

Kitty mengetuk pintu kamarku dan beranjak masuk, agak terkejut melihatku duduk di meja tulis. Ia menyapa selamat pagi dan mulai membuka tirai-tirai jendela kamar. Ia tak ingin menganggu, membiarkan aku duduk menyelesaikan buku harianku. Kami memiliki kebiasaan selalu menulis buku harian, Ibu yang mendisiplinkan hal ini. Kurasa hal ini karena nenek-neneknya masih menerapkan pendidikan zaman Ratu Victoria. Seperti biasa ia membantuku membersihkan wajah dan berdandan, pagi ini kami akan berbelanja ke kota, Jim kakakku satu-satunya yang akan mengantarkan kami.

Orangtua kami bisa dikatakan cukup berada, mereka memiliki tanah pertanian di luar kota New York sejak beberapa generasi silam, tempat dimana kami tinggal sekarang ini. Ayah merupakan sosok yang cukup dihormati, ia tak banyak bicara dan rajin membaca, baginya hidup adalah belajar dan bekerja keras. Sementara Ibu, ia menyukai kehidupan alam bebas, mencintai kuda, dan menghabiskan waktunya di kebun. Sedangkan Kitty adalah seorang anak imigran Irlandia yang ikut kami dan menjadi salah satu teman terdekatku.

Ayah bukan orang yang serakah, hidupnya sederhana walaupun semua orang tahu ia memiliki simpanan yang tidak sedikit di bank. Beliau menabung dengan rajin dan menanamkan uangnya secara bijaksana sehingga terhindar dari bencana Black Thursday saat pasar Wall Street hancur. Pada saat negeri ini dilanda depresi hebat, bisa dikatakan keluarga kami terhindar dari bencana tersebut. Meskipun seorang petani, keluarga kami berpikiran terbuka, Ayah ingin anak-anaknya sekolah yang setinggi-tingginya, tidak harus menghabiskan hidup di ladang. Karena itulah Ayah ingin Jim serius dengan sekolahnya. Jim yang sehari-hari berkuliah di Columbia University, hari ini pulang ke rumah. Aku menemuinya di meja dapur, dan seperti biasa kami saling menggoda.

Suasana meja makan pagi itu mendadak sepi ketika Ibu dengan mata berair menyalakan radio dan dengan suara serak berkata, “Jepang menyerang Pearl Harbour,”. Kami semua membisu, Kitty terisak-isak di sudut ruangan, Ayah tampak terpukul tapi jauh di lubuk hatinya ia sudah menduga hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Jauh-jauh hari sejak Jerman menyerang Polandia tahun 1939 yang lalu ia sudah merasa khawatir, ia sudah sering menyebut-nyebut hal ini. Hanya Ibu yang selalu berusaha menenangkan kami, atau mungkin lebih tepatnya mengingkari kemungkinan suatu saat Amerika akan ikut terlibat perang yang saat ini sedang berkecamuk di Eropa.

Tiba-tiba Milford dan Matt, dua orang sahabatku yang tinggal di dekat rumah kami, menghambur masuk ke dapur; bersama dengan Jim mereka ramai membicarakan hal ini. Aku tahu, dalam hatinya, Ayah tak ingin putra tunggalnya berangkat berperang, walau ia tak berbicara sepatahpun, aku tahu dalam hatinya perang yang lain sedang berkecamuk.

Rencana kami berbelanja ke kota pun batal, Jim berangkat seorang diri menemui kawan-kawannya. Sambil berjalan ke halaman, aku, Milford dan Matt ramai berkomentar tentang pidato Presiden Roosevelt yang baru saja kami dengar lewat radio. Sesaat di antara kami bertiga, hanya Milford yang masih sibuk berbicara, sementara aku dan Matt terdiam. Matt hanya memandangku lama-lama dan dengan perlahan ia berbicara pada Milford, “Milford, aku ingin berbicara berdua dengan Mae,”. Milford melihatku sejenak lalu ia pun pergi.

Beberapa lama setelah Milford menghilang, Matt tetap tak bersuara sepatahpun. Sesaat, ia meraih tanganku dan berkata, “Mae, aku tak ingin kehilangan dirimu,”. Hanya itu. Tapi aku mengerti benar apa maksudnya. Kami saling mencintai sejak lama, tidak hanya sebagai sahabat, jauh lebih dalam. Matt selalu mendapat tempat yang lain di hatiku. Perang membawa hubungan kami semakin dekat. Angin siang membawa butiran salju kecil-kecil di sekelilingku, hinggap di rambut Matt, hinggap di rambutku. Baunya menerobos udara siang dan dinginnya menghantam lembut pipi kami.

Matt dan Milford keduanya adalah sahabat kanak-kanakku, orangtua mereka masing-masing memiliki tanah di dekat tanah kami. Sewaktu kami kecil, saat musim dingin seperti ini, kami bertiga sering bermain di tengah hutan di tanah milik orangtua Matt atau berseluncur dari atas bukit sampai Ibu Matt berseru memanggil kami untuk masuk ke dalam dan meminum cokelat hangat buatannya. Saat musim panas kami berenang di sungai kecil di tanah milik orangtua Milford, memetik strawberry atau berkuda di tanah milik Ayah. Kami saling mengenal begitu dekatnya. Tanah kami adalah tempat kami tumbuh.

Matt memiliki seorang kakak perempuan bernama Katrina, dia tidak terlalu cantik tapi rambutnya sangat pirang keemasan dan bola matanya lebih biru dari langit musim panas. Entah kenapa dari dulu ia tak terlalu suka padaku. Ia telah menikah dengan seorang pria keturunan Jerman, yang memutuskan untuk kembali ke negara asal nenek moyangnya pada saat Führer memanggil seluruh keturunan ras Aryan sejati untuk pulang membela tanah air mereka. Katrina memutuskan ikut sang suami, meninggalkan desa kami dan tinggal di Berlin. Pada akhirnya Matt selalu tahu, ia dan Katrina tak akan sama seperti dulu lagi. Sahabatku yang seorang, Milford memiliki banyak adik laki-laki dan perempuan, mereka semua hampir serupa, berambut merah dan bermata sayu.

Saat Perancis diduduki Jerman dan Hitler mulai menyerang Inggris, para lelaki dan anak-anak muda di desa kami beramai-ramai mendaftarkan diri untuk berangkat berperang melawan fasisme. Keluarga kami masih sanggup menahan-nahan Jim, Matt dan Milford, tapi tidak setelah peristiwa Pearl Harbour. 4 hari kemudian, tanggal 11 Desember 1941, Jerman menyatakan perang melawan Amerika. Ibu pucat-pasi saat mendengar berita ini lewat radio, seolah-olah ia sadar, Jim mungkin berangkat dan tidak akan kembali. Malam itu Jim, Ayah dan Ibu saling bersitegang, mereka ingin Jim tetap melanjutkan kuliahnya di Columbia, sedangkan Jim ngotot akan berangkat ke Georgia bergabung dengan 101st Airborne Division.

Jim sudah tak dapat dibendung lagi. Ibu, aku dan Kitty kini mulai rajin merajut selendang untuknya dan menisik pakaian-pakaiannya, Ibu membeli kaus kaki dan mantel yang terbagus di toko untuknya. Jim berkelakar, ia tak sedang pergi berpesta tapi berperang. Ibu tertawa sambil menangis mendengarnya. Setiap malam di depan perapian, kami berempat menikmati detik-detik menjelang keberangkatan Jim. Ibu dengan foto-foto masa kecil kami, Ayah dengan cerita-cerita konyolnya. Dan tiap siang, aku dan Matt melewati saat-saat terakhir kebersamaan kami. Ia tahu aku akan segera memulai tahun awalku di Barnard. Ia bangga sekaligus terharu aku akan segera berangkat ke kota New York, namun ia pun khawatir meninggalkanku di sana sendirian, apalagi Jim tak lagi berada di Columbia, tak ada seseorang yang akan menjagaku. Ah, Matt, tak sedikitpun ia khawatir tentang dirinya, tak sedikitpun ia memikirkan kesendiriannya nanti yang jauh dariku, jauh dari rumah dan tanah kami, dari hutan, sungai dan padang rumput tempat kami tumbuh.

Ia tak banyak memberbicarakan Katrina. Aku tahu pada saat-saat seperti ini hal itu rasanya tak mungkin. Keluarga mereka tak lagi sering menerima khabar dari Katrina, perang makin menggila di Eropa, tak ada lagi berita gembira yang dapat dibawa dari benua tersebut. Seminggu sebelum keberangkatannya, Matt datang menemui Ayah dan menyatakan keinginannya untuk menikah denganku seusai perang. Ia tak ingin melakukan hal itu sekarang, tidak pada saat ia akan berangkat ke Georgia dan pada saat aku akan masuk ke Barnard. Ia ingin melakukannya nanti setelah perang berakhir, “Biar menjadi pemicu semangatku untuk tetap hidup dan pulang ke rumah dalam keadaan utuh,” ujarnya. Aku tak ingin tertawa. Sesuatu yang tak diucapkannya bagiku adalah, ia tak ingin meninggalkanku dalam keadaan menjadi seorang janda.

Aku mengantarkan Matt, Milford dan Jim ke stasiun. Tak ada lagi yang terucapkan di antara kami. Jim tak lagi menggodaku, Milford tak lagi bicara tiada henti, dan Matt, ia tetap Matt-ku yang dulu. Aku berlari-lari di samping kereta yang beranjak pergi, tanpa suara, mengikuti Matt yang menatapku dari jendela. Tangan kami makin terengkuh jauh, kereta melaju kian cepat, kulepaskan genggamannya, ia melambai-lambai dan hilang jauh hingga tinggal setitik.

Hari-hari terasa lama berlalu. Kami bergantung penuh pada surat-surat mereka. Tak kusangka Jim, Matt dan Milford cukup rajin menulis surat, kadang sampai 2 atau 3 sekaligus, seakan-akan tak ada cerita yang terlewati. Tak kusangka pula mereka cukup pandai dan penuh perasaan dalam merangkai kata-kata. Jim yang biasanya selalu berulah menjadi penuh kasih sayang dalam surat-suratnya, Milford yang konyol menjadi lebih dewasa, dan Matt makin berani mengungkapkan perasaannya. Surat-surat mereka menjadi harta yang tak ternilai, aku membacanya berulang-ulang, di depan perapian, di meja makan, di bawah pohon, di dekat sungai, di kamar tidur. Hidupku serasa bergantung pada lembar demi lembar kertas yang mereka kirimkan.

Latihan mereka sangat berat, dalam satu suratnya Jim mengeluh, ia sudah bosan dengan latihan fisik dan baris-berbaris, ia ingin segera berangkat berperang. Teman-temannya ada yang menaruh hormat karena ia berbekal pendidikan Columbia, meskipun pada saat pertempuran hal itu tidak lantas menjadikannya lebih istimewa dari yang lain. “Tidak menjadikanku anti peluru,” tulis Jim. Surat Matt bernada lucu, “Setiap orang saat ini bermimpi menghantam Nazi di wajah Normandy,”. Ia pun mulai terkesan khawatir kapan mereka segera dikirim dan entah kemana, ke Eropa atau ke Pacific.

Selama beberapa waktu mereka tak lagi mengirim khabar, kami menduga mereka akan atau mungkin sudah berangkat, dan menulis surat pada saat seperti itu jelas tak mungkin. Suatu kali tanggal 6 Juni 1944, kami membaca berita Eisenhower memutuskan untuk menyerang Eropa melalui Pantai Normandy di Selat Inggris. Operasi ini dinamakan Overlord. Aku mendengar berita yang sama pula melalui Milford tentang operasi besar-besaran ini. Matt sempat pula menulis surat pada saat ia berada di dalam kapal yang membawanya ke Perancis. Ia menghibur kekhawatiranku atas berita Tembok Atlantic yang dibangun oleh Hitler di sepanjang pantai barat Eropa, yang khabarnya tak dapat ditembus sama sekali. Ia berkelakar, “Oleh-oleh apa yang bisa kubawa untukmu? Bagaimana kalau kumisnya Hitler?”.

Sesaat hening, tak ada surat satupun yang datang. Koran-koran mulai ramai memberitakan nama-nama korban yang berjatuhan. Selalu ada saja anak tetangga dan kenalan kami yang namanya tercantum di sana. Ibu duduk saja di dekat jendela, menunggu hari kapan Jim tiba-tiba menyeringai di depan pintu seperti dulu dan menghabiskan isi lemari di dapur. Kebunnya tak secantik dulu, ia tak lagi tertarik pada bau tanah dan rumput, ia hanya ingin putra tunggalnya. Saat Jim berada di New York saja, baginya sudah terasa jauh, kini tak terbayangkan bagaimana beratnya berada ribuan mil berbeda benua dipisah samudera.
Musim semi bulan Juni itu, aku membaca buku di bawah pohon, tiba-tiba angin bertiup lain. Cukup lama kami tak menerima khabar dari Jim, Matt ataupun Milford. Ayah menghibur, “Mereka sedang berjemur di Monaco atau berpesta di Paris,”. Kulihat Kitty berlari-lari menemuiku, membawa surat dari Jim. Tak seperti biasanya, ia kelihatan pucat. “Matt. Mereka bilang ia tertembak di Pantai Omaha saat mendarat di sekitar Vierville, 20 km dari Bayeux,”. Aku tak mendengar lagi suara Kitty. Tak mungkin, pasti bukan Matt, ia selalu berhati-hati. Kami selalu khawatir, Jim lah yang paling nekad di antara mereka bertiga dan Milford yang paling ceroboh. Matt tak pernah melangkah tanpa mempelajari dulu apa yang ada di depannya. Tentu bukan Matt-ku.
Aku berjalan saja tanpa arah di padang rumput kesayangan kami, angin mengangguk-anggukkan bunga dandellion dan membawa bulunya terbang jauh. Keindahan musim semi ini terlalu pahit. Orangtua Matt sangat terpukul. Mereka telah kehilangan kedua anaknya dalam perang ini. Katrina karena ikut sang suami dan Matt yang gugur. “Mae, apa yang akan kau lakukan?” tanya Ibu Matt. Aku tak berpikir sejauh itu, hari-hari terakhir kulewati tanpa berpikir apa-apa, semuanya seakan kosong dan berhenti, terjebak dalam waktu.
Surat-surat Jim dan Milford yang kini menemani kami, mereka bercerita kepedihan demi kepedihan dalam perang. Musim dingin bulan Desember 1944, mereka ditugaskan ke Belgia dan bertempur dalam perang Bulge di hutan Ardennes, terjebak di kota kecil Bastogne yang memakan ribuan korban tentara Amerika. Pasukan Jerman mengepung dari segala penjuru, seakan tak ada lagi tempat untuk bernapas. Malam hari saat adu senjata berhenti, ia bahkan sanggup mendengar suara-suara tentara Jerman yang tertahan hanya beberapa ratus meter saja di depannya.
Jim berharap saat itu ia berada di rumah bersama kami duduk di depan perapian yang hangat, bukan menghabiskan malam Natal di lubang perlindungan di dalam tanah. Musim dingin di Bastogne sama ganasnya, mereka hanya dikelilingi oleh salju di tengah hutan yang membeku pada ketinggian 2000 kaki.
Ia masih pedih dengan kegagalan mereka menguasai jembatan Arnhem di sungai Rhine pada Operasi Market Garden bulan September yang lalu di Belanda. Puluhan ribu tentara sekutu terutama dari Inggris tewas dalam operasi itu. “Montgomery berambisi menyelesaikan perang ini pada tahun yang sama,” komentar Ayah saat membaca surat Jim. “Aku rindu rumah,” Jim menutup suratnya.
Milford menulis ia kehilangan banyak teman di Pantai Normandy, banyak korban yang terluka lalu hanyut terbawa ombak hilang entah kemana. Surat-suratnya tak lagi seriang dulu. Tulisan mereka, koran dan radio adalah harapan kami satu-satunya. Setiap hari kudengar tentara sekutu bergerak maju inci demi inci.
Tiba saatnya aku berangkat ke New York, tahun awalku di Barnard segera dimulai. Rumah dan tanah kami makin sepi, gudang dan lumbung di ladang kelihatan besar dan kosong. Orangtua kami berharap Jim suatu saat nanti akan pulang dan merawat tanah turun-temurun ini.
Kami mendengar khabar tentara Amerika berhenti di Remagen, mereka menemukan Ludendorff, satu jembatan yang tersisa dari keseluruhan yang telah dihancurkan oleh tentara Jerman. Kini mereka dapat menyeberangi Rhine. Sejak zaman Romawi, tak ada satupun pasukan asing yang sanggup melewati Rhine, kecuali Napoleon pada tahun 1805. Kini tentara Amerika menginjakkan kaki mereka di tanah Hitler. Kami semua berharap-harap cemas. Begitu banyak cerita pilu yang muncul kemudian, termasuk saat tentara Amerika membebaskan kam-kam konsentrasi yang ditinggalkan oleh tentara SS.

Milford bercerita ia mendapat cuti beberapa hari dan memutuskan untuk berlibur ke Paris, di sana ia bertemu seorang gadis Perancis dan mereka saling jatuh cinta. “Kami seperti kau dan Matt,” ujarnya. Aku menyeka mataku yang berair. “Ia tak pernah ke Amerika dan ingin tahu seperti apa New York, suatu saat ia akan kuajak melihat Liberty, patung hadiah darinya untuk rakyat Amerika,” ujar Milford. Kulipat surat dari Milford. Ia memberiku ucapan selamat karena telah berhasil menjadi salah satu mahasiswi Barnard.

Pagi di bulan Mei 1945, jalan-jalan sepanjang New York penuh massa, orang berpesta dan menari mendengar berita menyerahnya tentara Jerman. Aku berlari di sepanjang Times Square yang penuh oleh manusia, berharap segera keluar dari kota ini dan pulang ke rumah. Ayah-Ibu pasti menantikan Jim, aku pun tak ingin ketinggalan. Sepanjang jalan kulihat banyak orangtua yang menangis, ada yang terharu ada yang pula yang sedih, anak-anak mereka membayar perang yang begitu mahal ini dengan nyawanya.

Matahari sore menari-nari lewat jendela dan Jim kelihatan menjulang di depan pintu, Ibu hampir pingsan karena terkejut dan tak percaya. Kami menangis berpelukan. Ia tak lagi Jim yang dulu, perang membuatnya lain. Ia bukan lagi remaja yang senang mendengarkan musik, ia sudah menjadi laki-laki. Namun ada yang tersisa, residu perang tak dapat terhapus dari dirinya. “Saat teman di samping hancur oleh mortir, seseorang hanya bisa bersyukur dirinya masih bernapas,” ujar Jim. Saat Ibu bertanya apa yang akan ia lakukan sekarang, kembali ke Columbia? Ia menjawab singkat, “Berharap terhindar dari Pacific,”. Perang di Pacific masih belum reda, di belahan bumi yang lain air mata belum mengering.

60 tahun kemudian, seorang laki-laki mengetuk pintu rumahku, memperkenalkan dirinya sebagai Maximilian, anak Katrina. Atas permintaan almarhumah ibunya, ia berusaha mencariku kemana-mana. Jauh dalam lubuk hatinya, Katrina tahu tak ada yang lain bagi Matt selain diriku. Maximilian kehilangan hampir seluruh keluarga dari pihak ayahnya saat Berlin jatuh dan saat sekutu mengebom Dresden habis-habisan. Ayahnya seorang pilot Luftwaffe yang meninggal dalam perang. Ia dan Katrina – ibunya sempat berpindah-pindah selama di Jerman, mereka berhasil menyeberang ke barat sewaktu Berlin dikuasai Uni Soviet. Ia bercerita bagaimana Ibunya mengenang masa kecil kami di sebuah desa di pinggiran New York. Katrina tak ingin kembali ke Amerika walaupun perang telah lama usai, ia memilih tinggal bersama Maximilian di sebuah kota kecil di perbatasan Jerman dan Swiss sepanjang sisa hidupnya. Bahasa Inggris Maximilian sangat bagus, ia lulusan Oxford.

60 tahun berlalu, aku telah menikah dengan seorang laki-laki yang sama baiknya seperti Matt. Kami tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian Massachusetts, ia telah meninggal lebih dulu 2 tahun yang silam. Anak-anakku telah menikah, cucu-cucuku pun telah dewasa. Maximilian mengamati foto-foto mereka di atas perapian. Ia ingin tahu seperti apa Paman Matt, satu-satunya adik kandung ibunya. Aku bercerita tentang Matt, yang sebetulnya cerita itu kutujukan untuk diriku sendiri. Ia menunjukkan foto-foto Matt yang tak banyak jumlahnya peninggalan Katrina. Aku menceritakan kapan foto-foto itu dibuat. Dalam foto itu senyum kanak-kanak Matt, aku, Milford, Jim dan Katrina menggantung dengan bebasnya. Kami sangat jauh dari perang kala itu. Suara piano, gramophone dan bau kue dari oven yang memenuhi rumah kami waktu itu. Aku dan Maximilian saling berbagi foto, berbagi kenangan-kenangan bisu yang tercetak dalam gambar, membiarkan diri kami terperangkap dalam waktu.
Jim yang meninggal lebih dulu. Rumah dan tanah kami di New York telah lama dijual sewaktu ia pindah ke negara bagian Florida. Milford kudengar menikah dengan gadis Perancisnya dan tinggal beberapa lama di Canada sebelum akhirnya pindah ke Australia. Ia sempat membawa gadis itu ke Amerika dan memenuhi impiannya untuk melihat patung Liberty. Tahun 1990 saat perang dingin usai dan komunis jatuh, ia dan istrinya mengunjungi Berlin. Dulu Milford pernah bermimpi suatu saat dapat berbaris masuk ke kota itu, sebuah mimpi yang tak pernah kesampaian. Stalin lebih dulu merenggutnya.
Maximilian mengundangku ke Eropa, baginya hanya aku lah penghubung masa lalunya. Orangtua Katrina meninggal tak lama setelah perang usai, tanah mereka dibeli oleh bank. Tak ada lagi keluarga ia yang ia kenal. “Mae, engkau harus melihat rumahku di Jerman, engkau harus bertemu anak-anakku,” ujarnya sebelum pamit. 60 tahun yang lalu tak mungkin anak seorang Nazi mengetuk pintu rumahku, duduk di ruang tamuku, minum dari teko yang sama dan mengundangku untuk datang pula ke rumahnya.

Kuputuskan untuk menerima undangannya. Ia menjemputku di Charles de Gaulle. Sebelum mengunjungi rumahnya di Hamburg, yang ingin kulakukan pertama kali adalah “melihat” Matt. Setelah 60 tahun, ditemani Alexi, salah seorang cucuku dan Maximilian – anak Katrina, keponakan Matt, aku menuju Normandy American Cemetery and Memorial yang letaknya sekitar 170 mil sebelah barat Paris. 

9 ribu lebih tentara Amerika dimakamkan di sini, di sebuah bukit terjal menghadap Pantai Omaha dan Selat Inggris. Salah satunya adalah Matt. Merekalah yang tertinggal di pantai ini dan tak pernah kembali pulang. Seperti yang lain, makam Matt menghadap ke barat, menghadap ke arah rumah mereka.

*Mengenang D-day, 6 Juni 1944, Invasion of Normandy, World War II*

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement