|
Di milist WRM ada seorang Mommy yang curhat mengenai perilaku Putranya yang menyimpang setelah dekat dengan anak yang mempunyai sifat Agresif, demikian ia menuturkan "Putra saya saat ini berusia 4, 5 tahun. Beberapa bulan terakhir ini, saya menemui kesulitan ketika berhadapan dengannya. Dia seolah lain dari sifat yang selama ini saya pahami. Dia agresif, suka memukul, teriak - teriak, tidak sabaran dan mudah high temper, saya sempat kaget dengan hal seperti ini. Sebagai info, selama 5 bulan terakhir ini, saya satu rumah dengan mertua dan adik ipar saya yang mempunyai seorang putra berusia 4,8 tahun. Saya perhatikan, si anak itu memiliki sifat yang sekarang tertular pada anak saya dan saya sempat terpikir akan konsultasi ke psikolog.
Berkaitan dengan faktor penyebab lain seperti babysitter atau PRT, saya sudah telusuri dan ternyata mereka sama sekali tidak melakukan tindakan apapun (mukul, mencubit atau marah - marah) terhadap anak saya. Tapi yang pasti, akibat sering nonton salah satu kartun, dan film robot di beberapa stasiun TV. Dia juga kayaknya meniru tokoh tersebut dan selain itu juga meniru sepupunya tadi. Sudah 2 minggu ini, Saya melarang putra saya untuk menonton film - film kartun dan film robot tersebut tentunya dengan memberikan penjelasan, tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal? Mohon sharingnya.", Demikian Ia mengakhiri pertanyaannya.
Tanggapan pertama datang dari Mommies yang banyak memperhatikan tingkah pola keponakannya, beliau menarik kesimpulannya demikian : 1. Mungkin anak lagi senang berperan atau mengikuti karakter apa saja yang dia lihat (contoh: dari teman main, teman sekolah, TV, VCD) 2. Mereka butuh perhatian lebih & intensif apalagi bila ibu mereka bekerja, bila ibunya FTM dan mempunyai adik, mungkin si anak ingin menarik perhatian Ibunya yang terlalu sering memperhatikan adiknya 3. Biasanya anak yang agresif kebanyakan dari mereka pintar dan cerdas karena si anak lebih kreatif dan imajinatif.
Masih melanjutkan sharingnya " Cara mengatasinya, biarkan saja si anak melakukan apa yang di inginkannya tapi perlu pengarahan, pengawasan dan jangan terlalu banyak melarang kemauannya yang positif, takutnya justru "membunuh" kreatifitas dan daya imajinasinya karena anak seusia ini lagi dalam proses penjajakan lingkungan, penyesuain diri, mungkin bisa di bilang masa "puber" anak balita." Ujar beliau mengakhiri sharingnya.
Mommy yang bermukim di USA ini tidak mau ketinggalan sharing pengalaman pribadinya dalam mengadapi buah hatinya, demikian tuturnya." Ada anak yang cenderung lebih mudah meniru yang jelek-jelek (ini terjadi juga pada anak saya). Jadi kalau dalam satu kelompok ada anak yang bandel dan ada anak yang baik, dia cenderung meniru yang bandel. Susahnya lagi, si bandel itu kan anak orang lain, yang cara mendidiknya lain dengan kita. Jadi selama anak kita berinteraksi dengan si bandel, kemungkinan dia akan ikutan bandel terus.
Yang bisa kita lakukan hanya meminimalkan efeknya. Misalnya, kalau pada anak saya, setiap kali dia melihat anak/orang bersikap tidak baik, baik di TV maupun dalam kehidupan sehari-hari, saya selalu katakan ,"That's not nice". Bahkan waktu melihat film Tom & Jerry yang suka pukul-pukulan, saya selalu (berulang-ulang) mengatakan, "That's not nice, Hurting other people is not nice". Juga saat mereka mengolok-olok temennya (karena ikut-ikutan temennya), saya pegang kedua lengan anak saya, saya tatap matanya sambil bilang,"Honey, that's not nice. You hurt her feeling". Jadi tidak hanya teriak ,"Nggak boleh begitu ya" sambil lalu seolah-olah hal itu bukan hal yang penting. Memang hal itu perlu konsistensi. Misal suatu ketika anak saya berbuat sesuatu yang tidak semestinya dan menurutnya itu lucu. Memang lucu sih, saya juga kepingin ketawa (apalagi melihat mereka tertawa dengan lucunya). Tapi saya harus konsisten. Tidak ada lucu-lucuan jika tujuannya menyakiti orang lain (practical joke) atau merusak dengan sengaja."
Masih melanjutkan sharingnya, "Bertingkah agresif sih boleh saja (tidak terhitung barang - barang di rumah yang rusak oleh anak-anak saya), tapi memukul, menyakiti orang lain dan bersikap tidak sopan adalah lain soal. Juga, kalau merusaknya karena mereka curious, tidak masalah (misal apa jadinya kalau es lilin dimasukkan ke dalam video player? Kemarin suami saya jemur TV karena ada es lilin meleleh di dalamnya...kok bisa...). Tapi kalau sengaja membanting video player karena marah atau karena kemauannya tidak dituruti, itu berarti ada masalah besar dengan si anak."
Salah satu dokter yang jadi anggota milist pun tidak mau ketinggalan dengan sharingnya dan sarannya demikian, "Saya punya pengalaman yang sama dengan anda. Tetapi ini dengan anak tetangga yang seusia. Putra saya mempunyai karakteristik menarik diri, sangat sensitif, dan suka mengalah, tidak bisa melawan. Sedang anak tetangga, agresif, suka memukul, selalu berfikiran ingin mencoba mencelakakan anak lain. Situasi yang ada adalah setiap hari anak saya merasa tidak tenang, cemas, sedih, dan selalu menangis karena selalu dipukul. Dengan sendirinya anak saya juga mengambil beberapa perilaku ini, dia juga menjadi agresif. Hal ini sampai kami bicarakan dengan 2 (dua ) psikolog. Psikolog pertama bilang, katanya untuk merangsang anak saya yang menarik diri, baik. Psikolog yang kedua bilang, ya tidak baik, karena anak tumbuh harus dalam situasi sehat, aman, dan tidak mencemaskan.
Saya terima pendekatan yang kedua, yaitu larangan bermain bersama. Kami bicarakan dengan tetangga. Sampai kira-kira setahun dari umur 4-5 tahun mereka kita pisah. Sekolah yg semula sama sama di play grup juga saya pisah. Setelah agak besar, meski sampai sekarang (9 tahun) anak perempuan itu masih suka berbuat yang engga-engga, tetapi anak saya sudah mampu membela diri, mengambil sikap jika di"jahati".
Masih meneruskan sharingnya, "Saya rasa untuk memperbaiki perilaku agresif bukannya dicampur dengan anak yang kalem, apalagi kalau anak kalem itu lebih introvert, dengan harapan yang agresif akan jadi kalem. Barangkali tidak begitu, justru akan menyebabkan rasa tidak aman bagi perkembangannya. Saya pernah beberapa kali ke sekolah internat (asrama) di bilangan Noord Holland, ada dua sekolah yang saya lihat. Anak yang agresif ekrovert engga pernah dikumpulkan dengan yang introvert. Dua kelompok itu dibelah dua dengan pagar yang tinggi. Penanganan yang profesional saja begitu, masak kita mau mengharapkan berkebalikan?, ada baiknya dibicarakan baik-baik dengan orang tua anda, saudara, dengan penuh pengertian, tetapi tegas, bahwa anda juga perlu menciptakan lingkungan yang sehat buat anak anda." Ujarnya menutup diskusi mengenai Anak yang Agresif. (WRM/SA) |