We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Semangkok Besar Cinta Untukku dan Untukmu
Semangkok Besar Cinta Untukku dan Untukmu E-mail
Pengirim: hani iskadarwati   
Selasa, 17 Mei 2005

Sewaktu zaman masih imut-imut, begitu tersipu-sipu mengintip film Cinta Dalam Sepotong Rotinya Garin Nugroho mengenai cinta. Kok cinta segitiga dijadikan tema? Apalagi perselingkuhan digambarkan begitu eksplisit meskipun menawan.

Setiap menonton film yang ada adegan romantisnya, saya selalu jadi tertegun dan malu untuk membuka mata. Bukan salah nilai moral yang kita anut di Indonesia, namun rasanya sangat jengah untuk melihat hal yang privat dipertontonkan di muka publik, meskipun itu hanya melalui media film. Kadang batasan antara romantisme dan vulgarisme menjadi begitu kabur bila yang berbicara sudah banyak kepentingan-kepentingan di dalam proses pembuatan filmnya.

Begitu pula saya melihat suatu perkawinan. Bagi siapapun ternyata tidak sesederhana ijab kabul atau sumpah perkawinan yang hanya melibatkan pengantin, saksi nikah, dan wali hakim. Ternyata begitu menjadi satu periuk, tidak berlaku lagi satu piring berdua seindah panorama. Begitu banyak cinta yang lain yang ikut campur di dalam perkawinan.

Betapa tidak? Sebagai seorang anak kita cinta akan orang tua kita yang pastinya terdiri dari ayah dan ibu. Sedangkan suami kitapun pastinya cinta akan orang tuanya, yang juga terdiri dari ayah dan ibu. Setulus hatiku semurni cintaku.....sayang percayalah aku....adalah penggalan bait sebuah lagu lama yang kadang ikut saya gumamkan di waktu mandi. Ini gara-gara tetangga sebelah rumah dulu penggemar Radio Sonora dan tak tanggung-tanggung pakai loud speaker super woffer, sampai tanpa susah payah banyak lagu lama ikut melekat di memory.

Lalu cintaku yang tulus dan cintamu yang tulus bersatu, bak semangkok bakso dengan mihun kuah bening tanpa mi kuning, tanpa saos, tanpa sambel, tanpa kecap, tanpa bawang goreng, tanpa seledri, tanpa cuka, tanpa urat, tanpa sum-sum, tanpa lemak, tanpa toge, tanpa sawi.

Ternyata sebuah perkawinan tak bisa selamanya hanya berupa semangkok bakso bihun kuah bening. Ada orang tua, ada mertua, ada saudara sendiri, ada saudara ipar. Ada teman dan ada anak-anak yang menambah variasi cinta dan rasa di dalam perkawinan. Belum lagi akan diwarnai dengan banyak suka dan duka hingga berbagai konflik dan perbedaan pendapat di antara kita.

Seringkali saya mendengar curhat perempuan, pasangannya OK berat, tapi mana tahan dengan ibunya. Ternyata, ibu sang pasangannya pun curhat, keluarga calon menantu anaknya sih OK berat, cuma nggak nahan sama calon menantunya! Nah Lo!

Kadang kala, hingga terwujud suatu perkawinan, ada banyak hal yang dikompromikan bersama. Seorang teman ibu saya, akhirnya mengizinkan anaknya menikahi gadis yang "sama sekali tidak disukai" oleh sang Ibu. Waktu menjelaskan alasannya, sang Ibu berkata bahwa itu dilakukan karena anaknya benar-benar mencintai gadis tersebut. Demi cinta pada sang anak tersayang!

Lain lagi yang dilakukan seorang anak yang memutuskan membatalkan pertunangannya karena tak disetujui orang tuanya dan memilih menikahi calon yang disediakan oleh orang tua. Demi cinta dan bakti pada orang tua!

Hubungan antara manusia di dalam perkawinan kadang menjadi jauh lebih kompleks daripada hubungan bukan di dalam perkawinan. Adanya keterikatan, dan komitmen serta tanggung jawab yang menyertai di bawah stempel hukum dan agama merupakan suatu pengikat yang kuat, meskipun bukannya tanpa celah.

Konflik antara suami dengan istri, anak dengan orang tua, atau elegi menantu terhadap sang mertua menjadi tema-tema klasik yang diangkat dalam cerita-cerita hingga ke layar lebar. Bila di dalam sinetron Jepang dan Korea, ibu mertua yang judes dan membully' menantu masih menjadi tema abadi. Ternyata Hollywood masih merelease tema pertikaian antara menantu dan ibu mertua, seperti film romans komedi J.Lo "Monster In-Law".

Yang paling takjub, ketika suatu hari bertemu dengan seorang Ibu yang kemana-mana pergi dengan seorang Ibu lain yang pada mulanya saya kira Ibu kandungnya. Ternyata kemudian baru saya ketahui, Ibu yang lebih tua adalah ibu mertuanya. Berbagai konflik di dalam rumah tangga, perseteruan dengan Ibu kandung, perselingkuhan suami dan mertua laki-laki, dan banyak hal yang lain, membuat menantu dan ibu mertua menjadi sehati dan saling mendukung satu sama lain .

Banyak contoh campur tangan orang ke tiga di dalam keluarga, meskipun bukan merupakan perselingkuhan, menambah cita rasa percintaan dan perseteruan di dalamnya. Masalah, anak, keuangan, karir hingga hobi dan penghayatan keagamaan, menjadi topik-topik yang kerap memicu perbedaan.

Begitu hangatnya masalah komunikasi dan relationship antar manusia dibicarakan, sehingga kita mengenal banyak buku dan penulis mengenai masalah komunikasi, hubungan antar manusia dan psikologi. Di Indonesia siapa yang tak kenal psikolog kondang yang mengisi rubrik psikolog di koran dan majalah?

Bahkan kita rajin melahap berbagai buku impor baik dalam bahasa aslinya maupun yang sudah diterjemahkan. Masih ingat seri Chicken Soup For Your Soul yang dan berbagai buku mengenai How to Talk to......begitu populernya sampai ada terjemahannya dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Tak hanya referensi dari Barat, banyak pula wise-witty-wisdom dari berbagai budaya yang masuk ke toko-toko buku di Indonesia. Dari buku-buku mengenai kesehatan, kecantikan, meditasi dan penyembuhan hingga filosofi ala Cina, India, Tibet, Jepang dan lain-lain.

Setelah mencuatnya nama Oprah Winfrey dengan kegiatan humanitariannya, plus tentu saja Program Diet ala Oprah, siapa tahu anak asuhnya, Dr.Phil juga akan ikut meramaikan pasaran buku di Indonesia. Meskipun banyak yang pro dan koNtra dengan Oprah dan Dr.Phil, mereka menjadi salah satu contoh industri psikologi populer.

Saya sendiri? Sekarang masih asyik berbakso ria, ya dengan suami, dengan anak, dengan teman.....selalu dengan formula yang sama. Mula-mula bakso mihun dengan kuah bening, setelah puas dengan yang bening satu persatu saya tambahkan aksesori pelezat dan penganeka rasa...hingga ludes semuanya! Suamiku....?
Masih training makan bakso....berhubung masih belajar mengerti bahwa semua masakan Indonesia adalah paduan cinta dari segala rasa. Dari gado-gado, soto hingga nasi rames dan menu masakan pesta perkawinan, bahkan yang paling simple nasi goreng atau mi goreng...semua campuran dari banyak bahan dan rasa.

Filosofiku ? Masakan Indonesia menggambarkan cinta yang kompleks dan menyatu, susah-susah gampang.....Saya katakan padanya. Semangkok bakso adalah bagaikan cintaku dan cintamu yang berpadu menyatu.....mencari ingridients yang tepat dan rasa yang cocok memerlukan, kesabaran, pengertian, pengorbanan dan bermangkok-mangkok cinta yang tak putus hanya karena kepedesan dan salah rasa! Nah Lo! Dia cuma nyengir...maklum kalau istrinya masih belajar masak!


Louisville
2005

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement