|
Masalah pengasuhan anak, terutama pada anak Balita merupakan masalah utama para orang tua, apalagi bila mereka belum berpengalaman dalam mengasuh anak. Semakin tingginya kesadaran orang tua untuk memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi anak-nak mereka, di sisi lain menimbulkan beban psikologis dan kekhawatiran para orang tua, apalagi pendidikan dan pengasuhan anak di dalam rumah masih akan diwarnai dengan pergaulan anak dengan teman-teman ciliknya. Apa yang harus kita lakukan bila si kecil mengikuti perangai buruk teman bermainnya?
Sebagaimana keluhan seorang Ibu atas perkembangan perilaku anak laki-lakinya yang berusia 3,5 tahun. Sejak berteman dengan salah seorang anak laki-laki tetangga mereka, anak tercintanya ketularan mengikuti berbagai perangai dan perilaku yang tidak disukai oleh sang Ibu. Sudah dicoba berbagai cara bahkan dengan mengunci sang anak tercinta supaya tidak bermain dengan anak tetangga,namun belum berhasil. Sementara hubungan antara Ibu si anak dengan Ibu tetangga termasuk baik, sehingga sang Ibu tidak berkeinginan untuk menutup hubungan dengan sang tetangga.
Berbagai komentar segera masuk, ada yang memberikan saran, sharing pengalaman hingga yang urun keluhan karena mengalami hal-hal yang serupa.
Dari berbagai saran yang masuk, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh para ibu untuk mengatasi masalah ini:
1. Anak-anak Balita mempunyai kecenderungan untuk meniru hal-hal yang baru menurutnya. Mereka melakukan hal-hal yang menarik rasa ingin tahunya. Cobalah untuk menjelaskan secara perlahan dan bertahap mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Menanamkan pengertian mengenai baik dan buruk kepada anak-anak Balita memerlukan waktu dan kesabaran orang tua.
2. Memisahkan sama sekali anak-anak dari teman-temannya yang membawa pengaruh buruk, merupakan alternatif akhir bila alternatif lainnya tidak berhasil. Bila tidak ada alternatif teman lain untuk si kecil, sedapat mungkin dampingilah terus selama mereka bermain, sambil mengarahkan mereka. Bila perlu bicarakan bersama secara kekeluargaan dengan orang tua teman anak akan perkataan, perangai dan perilaku yang tidak ingin dilakukan anak-anak.
3. Seringkali anak Balita menjadi anak bermasalah/nakal, bertingkah laku atau berkata-kata tidak sopan atau tidak sewajarnya anak seusianya, karena mereka mencari perhatian dan kasih sayang orang tua. Sebab lain juga dimungkinkan oleh kekurangan anak tersebut dalam menguasai suatu hal. Kadangkala anak yang baru sembuh dari suatu penyakit, atau sedang mengalami penyakit kronik juga mencari perhatian lebih dengan bertingkah laku atau berkata-kata yang tidak biasa dilakukan anak sebayanya.
4. Pendekatan dengan penuh kasih sayang kepada anak, kesabaran dan mencari tahu sumber permasalahannya akan mempermudah orang tua dalam menghadapi anak-anak yang penuh dengan rasa keingintahuan dan ingin mencoba hal-hal yang baru.
5. Berilah kesempatan pada anak-anak untuk bereksplorasi, berkreasi dan berimajinasi sesuai dengan perkembangan usianya. Beri kesempatan untuk bermain dengan banyak melakukan aktifitas, baik di dalam maupun di luar rumah. Jangan lupa untuk terus menanamkan pengertian kepada anak untuk menghindari hal-hal yang membahayakan keselamatan dirinya.
6. Tanamkan rasa disiplin kepada anak, sekaligus mengenalkan hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh anak-anak, dari menanamkan pengertian hingga mengenalkan cara hukuman.
Kesabaran dan kasih sayang orang tua rupanya yang menjadi kunci utama dari pemecahan masalah. Namun bila segala cara sudah dipakai dan belum berhasil pula, seperti akhirnya yang dilakukan oleh Ibu yang mengajukan pertanyaan adalah dengan mengurangi intensitas pertemuan sang anak tercinta dengan temannya yang membawa pengaruh buruk, dengan membawa anak mengunjungi saudara dan kakek neneknya di akhir pekan.
Rupanya, di samping kesabaran dan kasih sayang, strategi dalam menjaga keseimbangan di antara komunikasi dan hubungan sosial dengan sekitar sangatlah perlu. (HI/WRM)
|