|
Selasa, 10 Mei 2005 |
|
Setelah sukses sekaligus memancing kontroversi, karya Dan Brown kembali diluncurkan di pasaran. Malaikat dan Iblis (Angels and Demons) yang ditulis lebih dulu dari The Da Vinci Code, masih berkisah seputar kontroversi gereja, dengan tokoh utama yang sama, yaitu simbolog dari Harvard Robert Langdon.
Cerita berawal dari pembunuhan seorang ilmuwan sebuah institusi di Swiss dengan cap di dadanya, sehingga membuat sang direktur institusi memanggil Langdon untuk membantu mengungkap kasus tersebut. Cap di dada sang ilmuwan ternyata berupa ambigram (semacam kaligrafi yang maknanya tetap sama jika dibaca terbalik) bertuliskan Illuminati-sebuah persaudaraan kuno yang dibenci Gereja.
Diduga kelompok yang telah lama mati ini berupaya melakukan balas-dendam terhadap Gereja. Demi mencegah balas dendam tersebut, Langdon ditemani ilmuwan cantik Vittoria Vetra, pergi ke Vatikan, bertepatan dengan agenda pemilihan Paus yang baru. Mereka membantu pasukan Garda Swiss menemukan bom serta menyelamatkan 4 kardinal calon Paus yang diculik kelompok Illuminati, dengan memecahkan simbol-simbol Illuminati. Petualangan membawa mereka menyusuri situs-situs kuno di Roma yang misterius, dan kemudian mendapati sebuah konspirasi yang mengejutkan.
Dengan gaya bertutur yang amat menarik, Dan Brown memang membuat kita enggan menaruh buku sebelum membacanya sampai selesai. Secara kebetulan pihak penerbit meluncurkannya hampir bersamaan dengan wafatnya Paus Yohanes Paulus II, sehingga seolah-olah Dan Brown sedang menyajikan sebuah peristiwa nyata. Apalagi cerita berputar di sekitar conclave di Vatikan setelah Paus sebelumnya wafat secara misterius. Sebagai penulis, Dan Brown telah berhasil membuat penggemar kisah petualangan menjadi terkesima akan sejarah abad pertengahan yang penuh misteri. |