We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Sekolah lagi atau menambah anak
Sekolah lagi atau menambah anak E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Sabtu, 07 Mei 2005

Dalam menapaki jalan kehidupan satu demi satu sebagai perempuan, kita sering dihadapkan pada dilematis pilihan dari kesempatan-kesempatan yang muncul di dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang dilontarkan oleh seorang Mommy, yang pada mulanya menanggapi diskusi bertopik "Takut hamil lagi", dan menyampaikan bahwa dirinya belum berkeinginan menambah anak karena ingin meneruskan studinya. Namun timbul kegundahan apakah keinginannya ini dapat diwujudkan sepenuh hati, karena kekhawatirannya bahwa keinginannya meneruskan studi di LN tidak semulus dan semudah seperti yang diidamkan. Suami beliau menyerahkan keputusan pilihan pada sang Mommy dan menyarankan dirinya untuk berdoa dan memohon petunjuk Tuhan, namun hal ini malah semakin membuat gundah dirinya pada pemilihan prioritas, memilih keluarga atau memilih kesempatan studi ke LN.

Seorang Mommy memberikan tanggapan, bahwa dirinya juga memendam kerinduan untuk meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi. Kegundahannya untuk meneruskan studi sudah diutarakan kepada orang tuanya, yang memberikan masukan untuk lebih memprioritaskan dirinya pada kehidupan keluarganya sekarang sebagai seorang istri dan seorang ibu. Apalagi ayah dan suami beliau mempunyai keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan waktu dan situati yang paling tepat baginya untuk meneruskan studi suatu saat. HalKeyakinan tersebut mendasari sang Mommy untuk menyakini pula bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar di usia berapapun. Beliau pun menceritakan pengalaman pribadi bertemu dengan seorang nenek bernama Cheryl di Lebanon, Oregon yang kembali ke bangku kuliah setelah berusia mendekati 50 tahun.

Mommy yang lain menyarankan agar mengikuti apa yang disarankan oleh sang suami, yaitu berdoa dan menyerahkan diri pada petunjuk Tuhan. Namun ia juga menambahkan, bahwa secara pribadi ia kecewa dengan sistem pendiikan di Indonesia, dan lebih cenderung untuk memilih mengembangkan kualitas dan potensi diri melalui dunia kerja. Ia mencontohkan pengalaman seorang temannya yang berhasil di dalam karir meskipun tanpa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Tanggapan balasan dari Mommy yang gundah menyampaikan bahwa timbulnya dilema pada dirinya terutama malah karena dukungan dan saran atasan kerja sang Mommy sendiri yang bahkan menawarkan akan membantu dari mengenalkan profesor hingga mengajarkan bahasa Jerman kepada sang Mommy. Apalagi bidang yang ditawarkan berhubungan langsung dengan pekerjaan yang sekarang ditekuni dan merupakan kelanjutan dari sekolah terdahulu. Benar-benar suatu kesempatan yang dan tawaran yang sukar untuk ditolak. Namun sebagai seorang ibu, beliau tidak ingin pula jauh dari anak dan keluarga tersayang. Membayangkan membawa anak yang masih kecil sambil melanjutkan sekolah di LN pastilah tidak akan mudah. Karena itu sang Mommy meminta informasi dari Mommies yang berada di LN akan gambaran Mommies yang sekolah di LN sembari membawa anak dan keluarga.

Banyak tanggapan segera masuk dari Mommies yang tinggal di LN. Salah seorang Mommy menyampaikan bahwa banyak perempuan Indonesia yang melanjutkan studinya di sana dengan meninggalkan anak dan suami. Bahkan ditambahkannya bahwa selama ini belum pernah ditemuinya perempuan Indonesia yang sekolah membawa anak dan suami. Alasan utamanya karena ingin lebih konsentrasi pada studi dan karena faktor mahalnya biaya penitipan anak. Mommy ini mengingatkan untuk melihat untung ruginya melanjutkan studi di LN dengan meninggalkan suami dan meninggalkan anak di bawah pengasuhan kakek nenek mereka , dibandingkan dengan bila studi sambil membawa anak. Setengah bercanda ia mengingatkan pula peluang dan bahaya meninggalkan suami dalam jangka waktu lama.

Seorang Mommy yang tinggal di Jepang mengucapkan dukungan sambil mengingatkan bahwa setiap pilihan itu ada konsekuensinya tergantung dari sisi sebelah mananya kita mau melihat. Ia menyarankan bila ingin membawa keluarga, agar pada semester ke dua agar dapat mengenal lingkungan terlebih dulu. Ia menambahkan bahwa di Jepang pemerintah Jepang memberikan subsidi bagi mereka yang penghasilannya di bawah rata-rata, dan mahasiswa termasuk yang masuk kategori ini karena dianggap tidak berpenghasilan.

Beberapa informasi lain mengenai kehidupan mahasiswa asing di Jepang, antara lain :

  • Untuk perumahan, selain asrama kampus ada rumah susun yang bisa
    diajukan setelah tinggal minimal 6 bulan disana, biayanya juga disesuaikan dengan besarnya penghasilan dan perhitungan pajak ybs.
  • Biaya sekolah anak disesuaikan dengan penghasilan orang tua.
  • Wajib mempunyai asuransi kesehatan bagi mahasiswa. Mahasiswa diberikan fasilitas dapat mengikuti asuransi kesehatan negara, yang menanggung sepenuhnya biaya dokter dan kesehatan untuk anak usia
    balita bahkan setiap bulannya diberi subsidi khusus untuk si anak. Untuk pemegang polis sendiri (mahasiswa asing) mendapat fasilitas gratis general check up setiap awal semester, hanya membayar 30% dari biaya periksa dokter dan obat, selebihnya ditanggung oleh asuransi
  • Untuk tempat-tempat tertentu di Jepang pemerintah daerahnya memberikan tunjangan kelahiran bagi setiap kelahiran di daerah tersebut sebesar 300.000 yen atau sekitar Rp 25.000.000.

Mommy ini juga menambahkan informasi web-site bagi informasi studi di Jerman: atau web-site perkumpulan perempuannya

Mommy yang ada di Perancis ikut memberikan masukan. Menurutnya budaya Indonesia sangat berbeda dengan budaya suaminya. Tahun lalu ia menyelesaikan studi bahasa Perancis dan sekarang ini harus menyelesaikan studinya agar tahun ini bisa mendapatkan diploma CFG. Ia mengakui cukup sulit menjalaninya bila tidak dibantu oleh suami dan mertuanya, khususnya dalam menjaga anak. Kalau membayar pengasuh anak di kota kediamannya per-jam sekira 7 Euro dan untuk Halte-Garderie semacam TPA biaya tahun lalu sekitar per-jam 3 euro. Sedangkan untuk crèches /TPA untuk anak-anak yang usianya dari 9 bulan sampai 2 th 6 bulan atau 3 tahun, dari pagi sampai sore biayanya tergantung gaji orang tua. Penerapan mata uang bersama Euro menjadi salah satu penyebab banyaknya harga barang-barang yang naik.

Mommy lain memberikan saran agar sebelum memutuskan dipertimbangkan segala konsekuensi logis dengan mencapai kesepakatan keluarga. Menurutnya pribadi, melanjutkan pendidikan ke LN dengan membawa anak namun tanpa suami akan cukup sulit. Terutama karena keberadaan suami di sisi istri mengandung banyak segi positif, selain menjadi partner pendamping istri saat studi juga akan terlibat langsung dalam urusan keluarga dan anak. Ia berpendapat pula bahwa melanjutkan studi di LN bagi perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki anak memang tidak semudah rekannya yang masih bujangan, yang dapat full konsentrasi pada studi. Apalagi bila suami juga sama sama studi atau malahan bekerja. Meskipun hal itu bukan suatu hal yang tidak mungkin.

Program Master di Jerman menurutnya tidak semuanya gratis, meskipun bila dibandingkan dengan biaya semester di UK atau di USA bisa dikatakan sangat murah. Mahasiswa di Uni Eropa dibebani biaya administrasi tidak lebih dari 100 dollar per semester dengan kewajiban mengikuti asuransi. Namun hal ini tidak berlaku pada semua program master, karena ada pula program master terutama yang merupakan program yang biayanya kadang menyamai biaya semester perkuliahan di USA. Oleh karena itu sarannya, sebelum memasuki satu bidang studi, akan lebih baik bila benar-benar mengetahui segala aturan dan persyaratan yang ada.

Di Jerman, biasanya di tiap universitas ada bagian yang mengelola TK buat para mahasiswanya. Hanya sayangnya sangat ketat persaingan untuk masuk di sana. Sedangkan untuk TK negri juga menerapkan sistem antri. Sayangnya lagi, tidak semua kota di Jerman memiliki Kindergarten/Kinderkripppe yang cukup baik dalam jumlah memadai. Sehingga perlu dipertimbangkan pula mengenai pemilihan kota tinggal. Meskipun ada alternatif Tagesmutter (ibu asuh), namun sangat sulit mencari Tagesmutter yang dapat dipercaya dengan biaya yang terjangkau. Meskipun ada tarif khusus untuk mahasiswa, menurut sang Mommy tarif ini pun masih mahal.

Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah sistem paket yang biasanya dijumpai pada program master, yang mengharuskan mahasiswa mengikuti semua perkuliahan yang di tawarkan pada semester berjalan. Perkuliahannya bisa berjalan dari pagi hingga sore hari. Meskipun ada kebijakan dispensasi bagi perempuan yang mempunyai anak di bawah usia 3 tahun untuk mendapatkan Erziehungszeit /cuti kuliah atau kerja untuk mengurus si kecil hingga sang anak berusia 3 tahun. Namun bagi mahasiswa asing yang bermaksud untuk studi selama 2-4 semester, nampaknya keringan ini akan sulit untuk diperoleh.

Mahasiswa di Jerman wajib mempunyai asuransi kesehatan. Bila memilih asuransi swasta/gesetzlich selayaknya memilih yang paling rasional/guenstig dengan melihat perbandingan premium yang harus dibayar dengan besar tanggungan yang ditawarkan. Anak yang berusia di bawah usia 18 tahun yang masuk di dalam asuransi orang tua tertanggung sepenuhnya oleh asuransi. Namun setelah reformasi kesehatan, pada asuransi swasta/gesetzlich sekalipun cakupan biaya kesehatan yang ditanggung asuransi berkurang meskipun premiumnya naik.

Hak-hak yang diperoleh mahasiswa asing di Jerman tergantung dari jenis izin tinggalnya. Bila izin tinggalnya sebagai pelajar maka dirinya dan anak-anaknya tidak berhak memperoleh bantuan sosial dari negara, berupa Kindergeld (uang tunjangan anak bulanan) ataupun Erziehungsgeld (uang pengasuhan anak bulanan). Bila melahirkan anak, akan memperoleh uang tunjangan melahirkan/Entbindungsgeld dari asuransi yang besarnya kurang lebih 150 dollar.

Seorang Mommy kembali menambahkan tanggapannya, dan menyatakan bahwa melanjutkan sekolah di saat sudah berkeluarga memang suatu pilihan yang tidak gampang. Belum tentu semua suami bisa mendukung sepenuhnya pilihan istri dan tidak semua suami bersedia meninggalkan pekerjaannya untuk menemani istri yang akan melanjutkan studi. Meskipun bila suami yang melanjutkan studi, tidak sedikit istri yang rela berhenti bekerja demi mendampingi sang suami. Terlepas dari hal itu, hanya yang menjalaninya yang lebih mengetahui. Karena apa yang bagus untuk orang lain belum tentu cocok untuk diri kita, begitu juga sebaliknya. Demikian pula dengan kebijakan di suatu negara, belum tentu sama satu negara dengan negara yang lainnya. Bahkan tidak jarang di dalam satu negara sekalipun, bila berbeda kota akan berbeda pula kebijakannya. Ia mengakhiri komentarnya dengan menambahkan bahwa meskipun pemerintah Jerman telah mensubsidi biaya studi sehingga memungkinkan kuliah dengan biaya murah dan atau mendapatkan beasiswa hingga bebas biaya kuliah, namun tingginya biaya hidup di Uni Eropa merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan pula.

Mengakhiri diskusi, Mommy yang mengajukan pertanyaan menyampaikan bahwa dirinya akan berdoa untuk mendapatkan jawaban atas dilema yang dihadapinya, sekaligus terus mencari semua informasi yang diperlukannya dalam menentukan pilihan yang akan diambilnya. (HI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement