We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Kecantikan arrow Disiplin vs Kreativitas: Haruskah Menjadi Dilema?
Disiplin vs Kreativitas: Haruskah Menjadi Dilema? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 03 Mei 2005

Tema Disiplin vs Kreativitas mewarnai diskusi moms di milis We R Mommies beberapa minggu belakangan ini.  Diawali dengan penuturan seorang mom yang menanyakan tentang batasan yang harus diperhatikan antara membebaskan kreativitas dan disiplin "merapihkan". "Masalahnya anak anakku  yang berusia 5 dan 3 tahun terlalu "aktif", sehingga sepertinya tidak bisa melihat  keadaan rumah yang sedikit rapih" tulis mom ini.  Beliau juga menceritakan bahwa aktivitas kreativitas yang melibatkan aksi "obrak abrik" seluruh sudut rumah selain menggembirakan dirinya namun sekaligus menyusahkan sang mom. Tak lain tak bukan, sang  mom lah yang terkena efek "rapih-rapih" hasil petualangan si kecil yang memiliki energi luar biasa. Beberapa tips "rapih rapih" sudah beliau coba, entah dengan trik kotak sedih - kotak senang, reward dan tips tips lainnya, namun nampaknya belum memberikan hasil yang optimal. Karenanya beliau menanyakan bagaimana cara efektif mengajarkan anak disiplin membereskan mainannnya tanpa mengganggu energi berkreasi yang anak miliki.

Tanggapan pertama datang dari seorang mom member milis We R Mommies yang mengisahkan kisah senada.  Beliau menceritakan tentang "aksi kreatif" putrinya yang gemar sekali membongkar keranjang cucian dan tempat sampah.  Tak hanya sebatas itu, putrinya pun menyukai kegiatan "bongkar bongkar" di lemari yang telah tersusun rapih. " Aku jadi ingin bertanya, perlu tidak sih melarang anak yg terlalu aktif seperti saat ia  bereksplorasi dengan keranjang sampah? Bila ya,  bagaimana trik efektif menjalankannya?" tanya mom ini saat  menutup postingan dengan tema terkait.

Aksi "bongkar bongkar" ternyata tak hanya terbatas pada si kecil dengan jenis kelamin wanita, karena mom satu ini pun mengisahkan "nasib" yang serupa menimpa dirinya. " Aksi bongkar bongkar putraku tak hanya terbatas pada keranjang cucian, bahkan kotak mainan rasanya tidak pernah dalam keadaan rapih.  Tak hanya itu, komputer dan laptop pun kini mulai menjadi sasaran barunya. Dan biasanya, bila dilarang maka akan semakin bersikeras putraku untuk mencobanya" ungkap beliau di milis WRM.  Bila kondisi "berantakan"-nya sudah tak terkendali, maka mom ini biasanya langsung mengalihkan si kecil untuk beraktivitas yang lain.  Bahkan bila nampak si kecil sedang mengeskplorasi keranjang cucian, mom inipun malah mengajak si kecil untuk kembali membereskan kembali hingga putranya merasa bosan. "Tapi benar tidak ya cara saya mengajarkan disiplin pada si kecil" tanya mom ini di akhir tulisannya.

Berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah bermunculan, mom ini menuliskan di WRM tentang hal berikut.  Menurut beliau, sebaiknya orang tua  jangan  melarang anak saat ia melakukan aksi eksplorasinya (termasuk di dalamnya aksi bongkar bongkar). Namun bersamaan dengan itu, anakpun harus sedikit demi sedikit diajarkan untuk turut pula merapihkan mainan yang baru saja ia gunakan. " Kalau saya biasanya melakukan sebuah trik.  Bila si kecil menjatuhkan mainannya, maka kami meminta agar ia juga memasukkan mainan yang baru saja ia jatuhkan ke dalam kotak mainannya.  Bila berhasil masuk, maka kami semua memberikan hadiah berupa tertawa lebar dan bertepuk tangan.  Biasanya si kecil akan menikmati permainan tersebut" tulis mom ini. Menurut beliau, ajaran disiplin membereskan mainan buat si  kecil adalah hal yang penting selain memberikan kebebasan pada si kecil untuk berkreasi.

Bagi mom satu ini, beliau meyakini bahwa memang ada masa masa sang anak gemar melakukan aksi "berantakan" dan "bongkar bongkar". Namun ia yakin, satu saat masa ini akan berlalu. Untuk menanamkan kebiasaan merapihkan mainannya, beliau  membagi tips berikut: " Setiap anak saya telah selesai dengan satu permainan tertentu dan akan beralih ke permainan yang lain, maka mainan yang baru saja dimainkan harus terlebih dahulu dirapihkan" tulis beliau. Peraturan ini tak hanya berlaku di dalam rumah sendiri, namun juga harus dilaksanakan saat si kecil bermain di rumah orang  lain. Biasanya seiring dengan bertambahnya umur, maka kekooperatifan sang anak akan bertambah.

Selain itu beliau menginformasikan tentang tips yang diberikan oleh Montessori dalam mengajarkan kebiasaan merapihkan mainan pada anak anak. Montessori menyarankan agar disediakan tempat sederhana yang mudah dijangkau oleh anak untuk menyimpan mainanannya.  Tempat penyimpanan inipun harus dikategorisasi sehingga memudahkan anak untuk mengenal dimana mainan tersebut harus diletakkan. Salah satu keuntungan dari metode ini adalah sang anak akan mengetahui ditempat mana dapat dijumpai mainan/peralatan yang diinginkan.

Perihal "mengobrak-abrik" peralatan rumah tangga oleh si kecil yang memang sulit untuk dihindari, mom ini membagi tips dengan berusaha menjalin komunikasi dua arah dengan sang anak. "Nah kalau yang ini, saya hanya sering-sering mengatakan bahwa yang berkewajiban menjaga rumah dan kebersihan adalah saya. Dan tugas itu dapat berjalan dengan bantuan semuanya, karena bila tidak demikian maka ibu akan repot, lelah dan akhirnya sakit" demikian mom ini membagi tipsnya. Mengikutsertakan sang anak dalam kegiatan rumah yang sederhana juga merupakan salah satu alternatif untuk mengajarkan anak tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kerapihan rumah.  Selain sang anak merasa dilibatkan dalam upaya menjaga kebersihan rumah, merekapun juga dapat menikmati acara permainan "membantu ibu". 

Satu hal lagi yang mom ini biasa lakukan saat meninggalkan rumah: rumah harus sebisa mungkin dalam keadaan bersih dan rapih agar anak anak terbiasa dengan kondisi dan kebiasaan seperti ini. "Saya coba konsisten untuk hal ini, karena efeknya terasa sekali. Ketika pulang sehabis jalan-jalan atau pergi jauh biasanya kita akan merasa lelah. Nah bila saat masuk ke rumah mendapati ruangan dalam keadaan berantakan, biasanya emosi akan terpengaruh" papar mom satu ini. Intinya beliau berpendapat bahwa masalah disiplin memang benar-benar harus dimulai dari hal hal yang kecil. Peran orang tua sebagai teladan pun teramat penting, karena biasanya anak akan mengikuti dan mencontoh apa yang dilakukan oleh sang orang tua. 

Hal di atas serupa pula dengan apa yang dilakukan oleh mom satu ini.  Selain itu beliau juga setuju dengan prinsip merapihkan mainan terlebih dahulu sebelum beralih ke permainan yang lain.  Beberapa alternatif yang beliau ajukan untuk strategi membiasakan tradisi merapihkan mainan adalah sebagai berikut:

  • 1.Orang tua harus menjadi "bagian" dalam aktivitas merapihkan mainan agar terdapat leader dan fungsi teladan.  Bila anak anak telah terbiasa, maka dapat dipercayakan kegiatan "rapih rapih" tanpa orang tuanya.
  • Jadikan acara "beberes" ini sebagai ajang permainan.  Misalnya saat mengembalikan balok balok/lego, letakkan wadahnya kira-kira semeter (atau lebih tergantung usia anak). Lemparkan balok-balok lego itu ke dalam wadah. Setiap yang masuk mendapat poin 1 dan yang mendapatkan poin terbanyak akan diberikan reward tertentu seperti diperkenankan bermain komputer terlebih dahulu dll. 
  • 3. Lakukan pemilahan. Semisal si kakak memasukkan mainan berwarna hijau, si adik yang berwarna biru dan ibu yang berwarna merah. " Orang tua harus pintar pintar melihat proporsi jumlah mainan menurut warna atau jenis atau pengelompokan lainnya supaya terkesan adil" demikian ungkap beliau.

Pendapat senada juga datang dari mom yang akan memiliki putra sarjana. Beliau menceritakan bahwa prinsip di atas juga berlaku di rumahnya. "Membereskan bersama adalah hal yang penting, terlebih bila baru saja ada kunjungan dari  teman temannya. Di kamar mainnya adalah daerah kekuasaannya namun syaratnya ya  tetap rapi. Ia saya izinkan untuk mencoret-coret dinding, jadi tembok benar benar penuh lukisan ala 'Picasso'. Konsekuensi? Kamar di cat tiap 6 bulan sekali. Hasilnya beberapa tahun kemudian anakku ini tergolong anak yang cukup kreatif. Ia pernah ikut lomba poster untuk olympiade fisika mewakili
sekolahnya, lumayan jadi finalis. Terus jadi moderator atau apalah di web animasi, ikut lomba komik dan jadi redaktur untuk buletin di kampusnya. Dia juga bikin comic strips untuk buletin tersebut."
tulis beliau.  Di postingannya berkaitan dengan tema ini beliau ingin menegaskan bahwa disiplin tidak harus berlawanan dengan kreativitas, namun dapat berjalan serasi dan beriringan.

Berbeda dengan pengalaman para moms yang setuju dengan aktivitas bersama merapihkan mainan, maka mom ini menilai dengan adanya "bantuan" semisal pembantu rumah tangga, maka anak anak cenderung akan tidak serius dalam melakukan aktivitas tersebut.  Berbeda saat mereka tak ada asisten untuk membantu, maka biasanya mereka akan merasa bertanggung jawab terhadap mainan yang disentuhnya. Penggunaan schedule juga beliau tawarkan sebagai alternatif mengatasi "kepusingan" atas kondisi rumah yang berantakan akibat pengeksplorasian.

"Saya misalnya mempunyai schedule per minggu/hari untuk cooking time, craft time, music time, quiet time, 'playing outside' time, dll. Pada saat cooking/craft/music (=messy time) itu, mereka boleh bereksplorasi apa aja, serupa dengan kita. Kitanya mungkin ikutan messy dan terlihat juga sedang bermain, padahal kita sebenarnya 'mengontrol' mereka supaya tidak terjadi mess up di luar kendali. Saya biasanya pilih pagi hari (dan sebentar di sore hari buat kakaknya yang baru pulang sekolah). Mengapa pagi hari? karena pagi biasanya jarang ada tamu yang tiba-tiba muncul. Biasanya rumah bener-benar messy sekali pada saat saat itu. Siang, saat quiet time, barulah rumah dibereskan. Semua painting, craft & any messed up tools disimpen di lemari yang tinggi. Saya katakan pada anak anak:  everyone needs a privacy. Privacy-nya saya, ya biasanya waktu quiet time & tv time-nya mereka. Sejauh ini sih, mereka bisa menghargai" demikian cerita beliau.

'Scheduling' itu ternyata tidak hanya bermanfaat buat mom ini, namun buat anak anak beliau. Scheduling, rutinitas, batasan-batasan, ternyata memberi mereka rasa aman. Anak-anak memang butuh bereksplorasi dan berkreasi. Sejak diberikan waktu khusus dan difasilitasi untuk 'messy,' biasanya anak anak menjadi jarang melakukan aksi "berantakan" yang merepotkan.

Mom satu ini sebagai penganut one at the time juga menerapkan prinsip bermain satu satu "Jadinya kalau main tidak boleh semuanya. Harus dikeluarkan satu-satu".  Tentang aksi corat coret, beliau telah mengantisipasi dari awal dengan menyediakan terlebih dahulu kertas untuk menggambar, sehingga sedari kecil anak anak telah diperkenalkan media yang benar untuk menuangkan ide corat coretnya.  Untuk semua mainan, buku milik anak anaknya, beliau meletakkannya dibawah sehingga mudah dijangkau oleh anak anak. Demikian halnya rak buku, sehingga saat anak anak selesai membaca, mereka dapat mengembalikan langsung ke tempatnya semula. Peraturan tersebut juga berlaku saat temannya berada di rumah dan saat anak anaknya bermain di rumah orang lain.

Dua moms yang lain bahkan menceritakan tentang suasana rumahnya yang tak pernah sepi dari eksperimen putra putrinya.  Sulitnya, ketika terjadi proses "bargaining" untuk merapihkan mainan yang digunakan, maka yang muncul adalah adu argumentasi yang tak ada habisnya.  Argumentasi ini tak hanya membuat sang moms "senewen" tapi juga sekaligus dapat mengundang senyum dan tawa. Kunci mengatasinya? "Tunggu saat anak anak sudah naik ke tempat tidur, baru proses "pembersihan" dimulai" tulis mom satu ini.

Ternyata tak hanya mom yang ada di dalam negeri yang menghadapi masalah "obrak abrik" si kecil, mom ini bahkan mengisahkan tentang keadaan rumahnya yang tak pernah tidak dalam keadaan "berantakan". " Waduh kadang kan kalau baru pulang kerja, rumah berantakan, tapi saya sih tetam mementingkan urusan memberi makan dan bermain bersama anak terlebih dulu. Baru beres-beres dilakukan setelahnya" demikian tulis mom dua putra ini. "Ada saat anak anak boleh messy di rumah seperti saat painting, play dough, main dapur dapuran yang menggunakan air dan berbasah-basahan. Setelah selesai mereka harus ikut membereskan. Lalu barang barang itu disimpan ditempat yang mereka tidak dapat mengambil kembali, walau kadang tetap terjadi kecolongan" tulis mom ini mengawali postingannya. Beliau juga menekankan bahwa anakpun harus diajar bertanggung jawab atas perbuatan (termasuk messy) yang ia lakukan "Biar tidak sempurna, tapi yang aku inginkan mereka belajar bertanggung jawab juga". Walau rumah biasanya di siang hari dalam keadaan berantakan, namun dengan bantuan suami sang mom, maka rumahpun dapat disulap menjadi sangat rapih saat sebelum menjelang tidur.

Mom satu putra yang bermukim di belanda ini bahkan berbagi cerita tentang kekreativan anaknya.  "Tapi sepakat dulu ya, apa itu kreatif. Menurut yang punya dongeng katanya kreatif itu adalah cara-cara seorang anak memecahkan masalah dengan caranya sendiri. Jadi seringkali unik dan  original. Kreatiflah yang membuat seorang anak fleksibel dalam segala hal, termasuk cara bermain. Anak yang memiliki kreatifitas sedemikian banyak, biasanya selalu memiliki banyak ide. Dan karena terlalu  banyaknya ide, maka kadang orang tua dibuatnya susah karena ia ingin mencoba segala sesuatunya sendiri" cerita sang mom.

Anak yang kreatif kadang terlalu tidak sabar untuk mengetahu segala sesuatunya. Akibatnya kadang banyak barang ataupun mainan yang "rusak" karena keingintahuannya yang besar. Namun beliau berpendapat bahwa hal tersebut adalah salah satu bagian pengungkapan kreativitas yang sang anak miliki, karenya orang tua harus pandai pandai menyikapinya. Putra beliau yang tak hanya kreatif namun juga perfeksionis bahkan tak habis habisnya menguji kesabaran kedua orang tuanya "Bila ide kreativitasnya sedang ada di benaknya, ia mirip sekali dengan anak yang tak punya ide. Segala sesuatunya harus mirip dengan apa yang ia inginkan, tak boleh ada yang sedikit  berbeda".

Tak hanya sebatas menceritakan pengalaman sehari hari di rumah, beliau pun juga mengisahkan pengalaman yang ia alami saat mendampingi putranya menjalani rangkaian tes kesiapan anak sebelum masuk sekolah. "Saat ia berusia 4 tahun, anak saya diminta untuk menggambar boneka teddy bear. Ternyata putra saya hanya menggambar outline bonekanya saja, tak heran sih, karena putra saya memang tidak begitu tertarik dalam hal menggambar. Ia baru benar benar bisa menggambar teddy bear saat berusia 6 tahun dengan segala detailnya seperti jari jemari perut yang telah tertutup baju, kaki dengan jari, rambut dllnya" demikian tulis beliau. Disiplin menurutnya sulit untuk diterapkan pada putranya, kecuali aturan yang mungkin dibuat sendiri oleh putranya.

Mom satu putra dan satu putri yang sedang  merantau pula memberikan pengalaman sehari hari dalam hal kreativitas dan disiplin pada anak anaknya. Di keluarga beliau berlaku aturan dasar: semuanya ada proses mulai-main-selesai, hal ini berarti bahwa setiap selesai satu mainan dimainkan maka langsung dibereskan, baru beralih pada mainan yang lain; permainan tertentu juga dilakukan di tempat tempat tertentu; sebelum berangkat tidur, semua sudah dalam keadaan rapih dan berada di tempatnya masing masing.

"Itu aturannya. Tapi dalam pelaksanaannya, tetap tergantung sikon. Tergantung sepak terjang si kecil. Kalau sedang deras ide kreativitas, kan biasanya akan terlihat, ya dibiarkan saja. Beres-beresnya terakhir aja menjelang tidur. Atau sudah ada kesepakatan sebelumnya bagaimana. apakah akan dibereskan saat itu juga, satu per satu atau sekaligus. Kalau bisa di pause, ya langsung beres beres saat itu juga" cerita sang mom.

Beliau juga menganggap penting kemampuan orang tua dalam membaca sikap anak. BIla "masa heboh" datang, baik sekali bila mainan dilokalisir dan anak diperkenankan untuk memilih akan main di ruangan mana. Namun selanjutnya si anak hanya terbatas main di ruangan tersebut " Mau jungkir balik, bikin hutan belantara monggo, asal tidak keluar dari ruang itu. Jadi yang berantakan satu ruang itu aja. Kalau ada tamu, ya harus maklum tamunya. Begitulah keadaannya kalau ada anak di rumah. Kalau yang lagi berantakan ruang tengah, ya tamu harus mengungsi ke kamar".

Pelokalisasian tidak hanya bisa diterapkan pada anak yang sudah agak besar, namun juga pada si kecil yang masih bayi " Daripada semua laci dan lemari dioprek-oprek dan aku kebanyakan ngomong 'jangan', lebih baik aku sediakan satu lemari "serba ada". Bila anak anak sedang "full loaded", langkah  mengajak anak main di luar rumah sambil melakukan aktivitas permainan out door juga menjadi pilihan yang menarik." tulis beliau.

Selain sikon, usia tentu saja mempengaruhi tahap pengenalan "awal-main-selesai". Makin kecil sang anak maka jelas orang tua alam semakin capek dalam urusan "beres-beres". Namun di sini tetap dituntut kekreativan sang orang tua dalam hal mengenalkan " what,why, where, which, dan how - nya" dengan cara yang menyenangkan.."Untuk membantu anakku, aku usahakan mempermudah urusannya. Aku sediakan satu kotak/keranjang untuk satu jenis permainan, misal kotak puzzle, kotak konstruksi, kotak musik, dll. Jadi tiap dia ingin main sesuatu maka dia akan mengambil kotak itu aja. Setelah selesai, nanti dimasukin kembali ke kotak itu lagi, baru di taruh di tempatnya semula." ungkap beliau. Untuk anak yang belum bisa membaca, strategi gambar di depan kotak juga merupakan cara efektif untuk mengajarkan anak mengidentifikasi tempat masing masing barang. Bila sang anak sudah mulai dapat membaca, gambar dapat diganti dengan tulisan. Hal ini memiliki keuntungan yang lebih dimana si kecil sudah dapat  belajar mengkategorisasi dan matematika secara tidak langsung.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah fungsi teladan.  Jangan harapkan anak akan disiplin dalam merapihkan mainannnya bila sang orang tua  tidak berusaha menjalankan hal yang serupa. Konsekwen adalah hal yang patut pula diperhatikan untuk menjamin berlakunya kesepakatan yang berlaku " Pernah kejadian, kita sudah sepakat agar anakku harus membereskan mainannya sebelum dia tidur. Eh ternyata dia tidak mau. Uh, adu mulut terjadi dan akhirnya dia merapihkan tapi sambil ngambek.Besok-besoknya aku tambahkan kesepakatannya: kalau dia tidak mau merapihkan mainannnya, aku yang akan membereskan tapi aku bereskan SEMUA mainannya. Lalu akan aku masukkan ke kantong plastik sampah yang besar dan aku taruh semua di gudang selama satu minggu. Hehehehe, rupanya yang ini manjur " demikian mom ini menutup postingan dengan tema terkait. (DAI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement