|
Mengapa bayi bisa menjadi kuning? Apakah faktor genetik berpengaruh? Adakah pencegahan yang bisa dilakukan? Betulkah bayi kuning harus dijemur? Apakah ASI terpaksa dihentikan sejenak bila bayi kuning? Bagaimana pula pengaruh jamu? Adakah dampak di kemudian hari bagi anak dengan riwayat bayi kuning? Beragam pertanyaan seputar bayi kuning dari pengalaman sehari-hari, bermunculan dalam seminar online We R Mommies yang kedua ini.
4. Mama, Pakein Dong Bajunya! Melewati usia dua tahun, anak sudah dapat diharapkan untuk mulai belajar berpakaian dan mengganti pakaian sendiri. Namun seringkali sampai lewat usia ke tiga pun anak masih dibantu untuk berpakaian. Yuk kita ajak balita kita berpakaian sendiri! Kiat No.1 Bagi pemula, mulailah dengan mengenalkan cara melepas pakaian sendiri sambil mengajarkan cara memakai kaus kaki sendiri. Seterusnya sampai baju hem dan celana maupun jaket. Repetisi adalah kata kunci untuk semua latihan balita. Kiat No.2 Sediakan baju-baju yang mudah untuk dipakai sendiri oleh balita. Jangan lupa pujian bila mereka berhasil melakukannya sendiri. Sepatu dan baju dengan magic tape/Velcro pastinya akan jauh lebih mudah dipakai daripada yang bertali atau berkancing. Jaket-jaket dengan ristleting yang mudah dipasang, kancing yang ukurannya ‘friendly’ untuk balita, celana dengan pinggang karet adalah pilihan yang membantu balita kecil berpakaian sendiri. Kiat No.3 Meskipun berpakaian sendiri nantinya diajarkan sebagai keterampilan tingkat TK, namun anak umur 3 tahun sebenarnya secara motoris sudah memiliki kemampuan untuk dapat berpakaian sendiri. Untuk memudahkan berpakaian untuk keesokan harinya, siapkan tempat khusus yang disepakati bersama, apakah berupa laci baju, lemari baju, lemari kain, lemari gantung dll, yang di dalamnya berisi pakaian anak yang akan dipakai keesokan harinya. Tak mempunyai semua itu? No problem. Sisihkan waktu setiap malam untuk memilih bersama si kecil baju untuk keesokan harinya dan siapkan di samping tempat tidur.Melatih kebiasaan anak untuk ‘take control’ atas dirinya sendiri sangat penting pada tahapan umur ini. Kiat No.4 Pernah coba cara ‘The Flip”? Bentangkan jaket atau hem terbuka di lantai dengan kerah atau bagian kepala di depan kaki anak. Suruh anak menunduk, masukkan tangan kanan dan kiri lalu balik jaket ke belakang, seperti waktu kita membalik dadar telor dengan satu balikan. Coba berkali-kali dengan ‘fun’! 5. Rambutku Keren Kalau Nggak Sisiran! Biasanya anak balita mulai menyadari bahwa rambutnya bisa bertambah panjang bila tak dipotong. Banyak di antara balita yang suka melihat dirinya sendiri di cermin, dan mulai ‘mencintai’ penampilannya sendiri. Tak jarang mereka suka penampilan yang beda, sehingga tak mau bila mempunyai gaya sisiran yang sama dengan anak lain. Kiat No.1 Banyak anak balita yang tidak mau lepas dengan sisir bayi mereka, padahal rambut mereka sudah tumbuh lebih tebal dan panjang. Sediakan sisir rambut khusus untuk mereka,untuk menjaga higienis dan mencegah penularan berbagai masalah rambut. Kiat No.2 Rajin-rajinlah mendongeng dengan cerita berkisar mengenai rambut. Intinya untuk mengajak anak rajin bersisir, berkeramas, dan menjaga kebersihan rambutnya. Tak ada salahnya membuat dongeng mengenai peri rambut atau mengenai rambut wedhus gembel (rambut yang kusut menjadi satu karena tak pernah dirawat sejak kecil) Kiat No.3 Buat balita perempuan, aneka hiasan rambut dan pita yang lucu-lucu dapat menggugah anak untuk rajin merawat dan menyisir rambutnya. Potongan rambut yang lucu dapat menarik hati balita kita untuk rajin merawat rambutnya. Kiat No.4 Balita senang bila mempunyai tempat tersendiri bagi mereka. Sediakan satu cermin mini dan satu rak kecil untuk peralatannya berpakaian dan berdandan. 6. Kutuan? Iiiiiiih….. Ini masalah yang ada dari masa ke masa. Sebersih apapun anak kita di rumah,bila sudah kita kirim dia ke luar rumah/bersekolah dll, akan membuka kesempatan baginya untuk tertular kutu rambut. Kiat No.1 Rajin-rajinlah mengecek kesehatan rambut anak. Ibu-ibu kita dulu rajin meminyaki kepala anak sekaligus mengecek keberadaan si kutu ini. Sekarang mungkin banyak ibu-ibu muda yang tak lagi menggunakan minyak rambut untuk anak-anaknya. Banyak cara lain untuk mengecek, dengan memberi tonik rambut, memberi aneka hiasan rambut, dan ajin menyisir rambut anak. Kiat No.2 Bila kita menemukan telur-telur kutu dan barisannya, ada berbagai cara yang bisa dilakukan: - menggunakan sampo atau obat anti kutu rambut - mengoleskan Vaseline ke rambut anak dan menutupnya dengan shower cap selama 24 jam - menyisir rambut anak dengan sisir khusus untuk mencari telur dan kutu rambut Kiat No.3 Bersihkan dan cuci semua baju, mainan, tempat tidur dan semua yang memungkinkan menjadi tempat hidup dan bersarangnya kutu rambut. 7. Takut Tukang Cukur? Yes! Aduh malunya, saat kita membawa anak balita ke salon atau tukang cukur, eh si mungil malah menangis meraung-raung tidak mau dipotong rambutnya. Sebelum rasa takut anak menjadi sebuah fobi yang mendalam, kita dapat mencoba kiat-kiat berikut: Kiat No.1 Ajak balita berbicara mengenai berbagai model rambut anak.tanyakan model rambut favoritnya. Dengan mengikutsertakan si kecil dalam memilih penampilannya sendiri, akan menambah motivasi anak untuk memotong rambutnya. Kiat No.2 Ajak balita ke tempat tukang cukur atau salon. Pilih tukang cukur atau salon yang berpengalaman memotong rambut anak balita. Cari tempat yang ‘kids-friendly’, misalnya yang menyediakan buku cerita anak, mainan anak, film anak, atau perlengkapan memotong rambut yang bertemakan karakter anak-anak. Kiat No.3 Anak balita sudah mempunyai ‘gengsi’ terhadap teman. Ajaklah teman anak yang tidak pernah menangis saat dipotong rambut untuk bersama-sama pergi ke salon atau tukang cukur. Melihat temannya tenang-tenang dicukur, biasanya akan membuat balita kitapun ‘gengsi’ dan tenang saat dipotong rambut. Kiat No.4 Bila semua tak berhasil ? Kenapa tak mencukur atau memotong sendiri rambut anak ? Biasanya anak ada yang tak mau dipegang oleh orang yang tak dikenalnya, namun bila mamanya sendiri yang memotong rambut, ia akan senang saja. 8. Aku Maunya Baju Yang Itu! Perang memilih dan memakai baju di saat hendak bepergian keluar rumah, bukan masalah yang baru bagi balita. Kadang memakai acara tarik urat dan tangis serta raungan anak yang bersikeras hendak memakai pakaian yang dipilihnya. Orang tua mana yang tak kesal, di saat anak hanya mau memakai satu baju favoritnya yang sudah dipakai tiga hari berturut-turut? Atau sebal dengan tingkah anak yang tak mau dipakaikan padanan bajunya, malah memilih baju yang kita anggap paling ‘norak’ ? Kiat No.1 Jangan ikuti emosi diri. Dengan suara tenang, tetap pujilah pilihan pakaiannya, namun segera alihkan perhatian dan katakan bahwa ia dapat memakai baju pilihannya setelah pulang dari acara yang akan diikuti. Kiat No.2 Jangan ragu menolak pilihannya, bila menyangkut masalah keselamatan dan keamanan diri. Jangan biarkan anak balita bermain di luar dengan pakaian yang kebesaran, setengah berpakaian, atau pakaian yang tak sesuai dengan musim dan kepentingannya. Kiat No.3 Meskipun selera mode kita mungkin berbeda dengan selera mode orang tua kita atau mertua kita, pada saat mengunjungi mereka, sedapat mungkin jangan membiarkan anak balita kita datang dengan baju yang kelihatan terlalu provokatif atau tidak disenangi oleh orang tua/mertua kita. Kiat No.4 Jangan biarkan anak kita berpakaian seenaknya, saat memasuki rumah ibadah, pesta perkawinan atau acara penting keluarga, acara resmi sekolah dan acara resmi lainnya. Sebaliknya jangan biarkan pula balita kita ‘over-dressed’, pada kesempatan casual/pesta anak-anak yang tak formal. Jadikan anak balita kita nyaman di manapun, kapanpun, pada acara apapun, dengan siapapun,karena ia memakai pakaian yang tepat dan sewajarnya. Selamat Ber’fun’ ria dengan balita kita. |