We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Kesehatan Anda arrow Apakah Saya Menderita Obsessive-Compulsive Disorder?
Apakah Saya Menderita Obsessive-Compulsive Disorder? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 27 April 2005

Suatu hari seorang mom di milis We R Mommies berbagi cerita mengenai kebiasaannya mencuci tangan tiap menit, mengatur seisi rumah dengan susunan sesuai urutan abjad, menggantung baju harus ke arah yang sama, meletakkan barang baru harus di urutan paling bawah, dan bahkan ia sulit tidur jika pintu kamar mandinya belum tertutup. "Menurut teman-teman, saya ini agak freak out', selalu khawatir ini itu. Katanya lagi saya tuh paling ribut soal kebersihan, dikit-dikit takut nggak steril. Malah kata suami saya germphobia," katanya."Mosok sih saya seperti Monica Geller di film Friends atau tokoh yang diperankan Jack Nicholson di film As Good As It Gets? Apakah yang seperti ini termasuk obsessive-compulsive disorder?"

Ternyata yang bersangkutan tidak sendiri. Seorang mom lain juga menceritakan kebiasaannya yang harus mengikuti aturan dan sistem tertentu dalam melakukan kegiatan sehari-harinya. "Bahkan suami sempat sebel berat karena saya ngerapiin susunan barang di Supermarket sama barang di Mall!" katanya. Tetapi ia mengaku kebiasaannya ini sudah bisa dihilangkan. Ia memberikan saran bagi mom tadi, "Sepanjang nggak stress dengan life style sekarang, juga suami dan anak melihatnya sebagai suatu kewajaran, saya pikir malah banyak manfaatnya. Mungkin hanya perlu dimoderasi kualitas maupun kuantitas untuk hal-hal tertentu..."

Seorang mom berprofesi dokter memberikan tanggapan. Menurutnya, untuk mendiagnosa seseorang terkena Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) ini perlu pengamatan dan syarat-syarat yang panjang dan tidak mudah. Katanya, yang lebih sering terjadi adalah Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD), karena OCD kondisinya biasanya lebih parah. Disebut OCPD pun bila gejala sudah berlangsung lama (biasanya muncul sejak usia remaja) dan mengganggu kerja serta hubungan sosial.

Jadi menurutnya lebih baik berpikir tak terlalu jauh dulu. Ia memberikan 8 kriteria gejala OCPD, dan jika ada 4 gejala atau lebih pada diri seseorang, maka kemungkinan dia mengalami OCPD. Kriterianya adalah sebagai berikut :
1. Kalau mengerjakan sesuatu harus detil, rapi, dibuat daftar, teratur dan terjadwal.
2. Merasa banyak ragu dan sangat hati-hati jika akan melakukan sesuatu
3. Perfeksionis dalam menyelesaikan tugas-tugas
4. Terlalu hati-hati, teliti dan bekerja berlebihan dan tak mau melakukan kegiatan menyenangkan atau berteman.
5. Sangat taat pada aturan sosial
6. Kaku dan keras kepala, pelit
7. Tidak mau menerima pendapat orang lain dan suka memaksakan pendapatnya
8. Tanpa alasan menolak melakukan sesuatu jika diminta oleh orang lain, enggan mendelegasikan tugas/ bekerja sama dengan orang lain.

Jika ada 4 kriteria atau lebih, sudah berlangsung lama dan mengganggu hub sosial dan pekerjaan, ia menyarankan untuk memeriksakan diri ke psikiater.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) itu, dan apa perbedaannya?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Yang dimaksud dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gejala jiwa neurotik yang ditandai adanya pikiran yang berulang (obsession) dan menghasilkan tingkah laku yang berulang (compulsion). Seorang yang berpikir tangannya kotor akan mencuci dan membersihkan tangannya hingga dirasanya sudah bersih. Kelihatannya wajar saja, tetapi pada penderita OCD kegiatan mencuci tangan ini dilakukan berulang-ulang, bisa menghabiskan waktu sampai satu jam per harinya, dan dia akan merasa tegang dan sangat gelisah jika tidak melakukannya. Hal itu memang dapat meringankan obsesinya tetapi hanya bersifat sementara.

Gejala-gejala OCD meliputi :
- munculnya pikiran-pikiran atau bayangan yang terus menerus mengganggu
- ingin menghilangkan pikiran dan bayangan tersebut, tetapi merasa tidak kuasa
- sulit berhenti jika sudah mulai mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang, seperti menghitung, mencuci tangan, bersih-bersih, menyusun benda-benda. Terus menerus melakukan hal tersebut sampai dirasa semua beres.
- merasa khawatir akan banyak hal buruk yang mungkin terjadi jika tidak hati-hati
- munculnya dorongan-dorongan untuk menyakiti orang lain, meskipun mengetahui bahwa dia tidak akan melakukannya.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa OCD berkaitan dengan adanya gangguan komunikasi antara otak bagian depan (orbital cortex) dengan struktur sel saraf dalam otak yang dinamakan basal ganglia. Struktur basal ganglia ini berkaitan dengan rasa, pikiran dan pergerakan anggota tubuh. Kekurangan suplai serotonin (substansi yang menyampaikan informasi antarsel di otak) di area ini diyakini mempengaruhi terjadinya OCD, dan peningkatan konsentrasinya seringkali membantu meringankan gejala-gejala OCD. Walaupun begitu belum ada yang dapat menyimpulkan penyebab munculnya gejala OCD secara pasti.

Gangguan ini bisa menimpa semua orang dari berbagai golongan usia.Sebuah survei di Amerika Serikat tahun 1990 mengungkapkan, 1 dari 50 orang dewasa mengidap gangguan ini. Lebih dari sepertiga penderita OCD mengatakan gejalanya sudah muncul sejak mereka masih anak-anak. Rata-rata orang dewasa yang mengalami gangguan ini sadar bahwa kebiasaannya itu tidak masuk akal, tetapi mereka terbelenggu dan tidak bisa melepaskan diri. Adapun anak-anak yang menderita OCD biasanya tidak menyadari bahwa yang dilakukannya itu tidak normal.

Penanganan yang dilakukan bagi penderita OCD dan dirasa cukup efektif sampai saat ini ada 2 macam yaitu Cognitive-Behavioral psychotherapy (CBT) dan pengobatan medis dengan Serotonin Reuptake Inhibitor (SRI)

Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD)

Dr. Steven Phillipson, direktur klinis di Center for Cognitive-Behavioral Psychotherapy New York, dalam papernya berjudul "Obsessive Compulsive Personality Disorder: A Defect of Philosophy, not Anxiety" menyatakan bahwa OCPD harus dibedakan dengan OCD. Menurut buku panduan "Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders", mereka yang menderita OCPD disibukkan dengan detail, daftar, aturan, susunan, perfeksionisme, dan kontrol mental dan interpersonal yang membuatnya bersifat kaku dan tertutup. Mereka yang menderita OCPD tidak selalu melakukan ritual-ritual tertentu seperti yang dilakukan penderita OCD, dan mereka juga seringkali terobsesi dengan kesempurnaan dalam kehidupan personal dan profesionalnya. Selain itu juga mereka cenderung sangat hati-hati mengendalikan emosi dan tingkah lakunya, sehingga tampak "dingin" dan menyendiri.

Perbedaan yang paling nyata diantara keduanya adalah, OCD merupakan anxiety disorder, sementara OCPD adalah personal/philosophical disorder. Mereka yang mennderita OCD mengalami kegelisahan (anxiety) yang mendorong mereka melakukan hal-hal (compulsion) untuk menghilangkan kegelisahan itu. Mereka merasa menderita dan menyadari penyakitnya serta ingin menghilangkan/menghentikannya. Sementara penderita OCPD merasa bahwa cara hidup mereka (yang penuh dengan standar dan sistem tertentu) adalah benar dan cara orang-orang lainlah yang "salah". Disfungsi pemikiran inilah yang memunculkan kegelisahan dan gangguan psikis lainnya. Mereka tidak menyadari masalah yang dideritanya. Karenanya, OCPD lebih sulit ditangani dan seringkali mengganggu hubungan sosial.

Paper ini juga sedikit menyinggung tentang film As Good As It Gets yang menjadi contoh di atas tadi, yang menurutnya memberi gambaran yang tidak tepat tentang penderita OCD. Meskipun sang tokoh digambarkan banyak melakukan ritual-ritual yang khas penderita OCD tetapi perilakunya secara keseluruhan yang pemarah, senang bertengkar, tidak toleran dan penyendiri merupakan bentuk berlebihan dari gejala OCPD sebagai gangguan utamanya.

Jadi apa yang sebenarnya diderita oleh mom tadi, OCD atau OCPD? Memang sulit mengatakannya bagi kita yang bukan profesional. Tetapi jika terasa mengganggu kehidupan sehari-hari dan juga hubungan sosial, lebih baik mengikuti saran mom dokter tadi : segera periksakan diri ke psikiater.(DD/WRM)

Sumber :
http://www.ocfoundation.org/
http://www.ocdonline.com/
diskusi milis We R Mommies

 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement