|
Buku Non Fiksi karya Torey L Hayden kali ini menceritakan tentang pengalaman Torey menghadapi Kevin, seorang remaja tanggung usia 16 tahun yang hampir setengah usianya menghabiskan waktu di lembaga perawatan mental dan panti panti asuhan.
Kevin hidup dalam dunianya sendiri dan memutuskan untuk memutuskan kontak dengan dunia luar dengan kebisuannya. Ia dijuluki dengan sebutan "Zoo Boy" karena tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dan selalu mengurung dirinya di bawah meja yang dikelilingi oleh kaki kaki tempat duduk. Ia takut air, tak mau mandi dan tak mau berganti pakaian.
Datangnya Torey ke dunia Kevin membawa kejutan bagi semua orang: sedikit demi sedikit Kevin berbicara!. Bahkan lama kelamaan tingkah laku Kevin berubah tak seperti Kevin yang pertama kali Torey temui. Bersamaan dengan kooperatif-nya Kevin bersuara, maka terkuak pula sisi hitam masa kecil kehidupan Kevin. Monster yang selama ini terpenjara oleh kebisuan Kevin akhirnya muncul melalui perkataan, perbuatan dan tuangan karya lukis yang Kevin lakukan ketika menghabiskan waktu bersama Torey di ruang terapi. Melalui bakat menggambarnya yang luar biasa, Torey kerap dibuat bergidik dengan lukisan-lukisan Kevin yang menggambarkan skenario kebrutalan yang teramat detail.
Kasus Kevin yang membawa Torey keluar masuk di kehidupan Kevin selama 2,5 tahun bahkan sempat membuat Torey frustasi mencari penjelasan dan jalan keluar masalah yang Kevin hadapi. Terlalu sedikit catatan tentang masa lalu Kevin. Tak ada penjelasan memuaskan mengapa Kevin begitu memiliki dendam membara, sekaligus memiliki ketakutan yang luar biasa. Dengan sedikit banyak bantuan koleganya--Jeff--, Torey akhirnya menemukan penjelasan kasus Kevin. Bahkan Toreypun berhasil mengumpulkan catatan yang terserak dari masa kecil Kevin. Darinya Torey mengetahui bahwa Kevin mengalami penganiayaan yang teramat parah di masa kecilnya. Penganiayaan yang dilakukan oleh ayah tirinya, yang bahkan sampai menyebabkan Carol--saudara wanita Kevin-- meninggal dunia. Kevin membenci sungguh ayah tirinya. Kebencian sekaligus kecintaan Kevin pun menggunung pada ibu kandungnya, yang sama sekali tak berbuat apapun melihat penganiayaan yang suaminya lakukan. Dengan terkumpulnya informasi berharga tersebut, Torey mulai merancang jalan keluar agar Kevin tak lagi terkungkung oleh dendam kesumat dari masa lalu yang ia hadapi. Torey mencari jalan agar seorang Bryan yang selalu Kevin impikan dapat menjadi kenyataan.
Bagi saya pribadi, mengikuti pengabdian profesi Torey dalam menghadapi kasus Kevin amat membuat saya terpaku. Terlepas dari emosi Torey yang turun naik, Torey begitu sabar menemani Kevin memperbaiki hidupnya. Saya begitu terkesan ketika Torey mengajak pertama kali Kevin ke Restaurant setelah bertahun tahun Kevin tak pernah keluar dari dunia kecil yang ia ciptakan. Begitu sabarnya Torey menunggu restaurant tutup hanya untuk menunggu Kevin yang tak mau keluar dari bawah meja makan. Begitu tenangnya Torey menghadapi Kevin yang seringkali mengeluarkan kata kata pedas pada dirinya, walau sebenarnya dalam hati Torey sendiri bergejolak. Rangkaian kata Torey "In the wreck of this world, love still works", "We can heal each other, if we listen" teramat memukau. Tak heran bahkan Kevin pun teramat mempercayai Torey akan selalu siap membantu dirinya bila satu saat ia mengalami kesulitan "Weisst du, ich will von hier weggehen und immer glauben, dass du mir wieder helfen wuerdest. Ich will nicht wissen, ob du es tun wuerdest oder nicht. Ich will nur wissen, dass ich dich gefragt habe und dass du nicht nein gesagt hast." (p. 320).
Mengikuti kisah Kevin sendiri membuat saya kembali diingatkan, bahwa kasih sayang, cinta dan didikan yang baik akan berpengaruh besar pada perkembangan emosi anak. Perilaku yang kita lakukan akan selalu teramati, dan kan disimpan baik di memori anak kita. Rekaman rekaman itu akan mengiringi perkembangan dirinya di sepanjang hidupnya, bukan tidak mungkin akan turut mempengaruhi tingkah laku dirinya di masa depan. Karenanya teramat bijak bila kita harus selalu memperhatikan tingkah laku kita baik dengan anak ataupun bersama anak.
Perpisahan Torey dengan Kevin bahkan membuat air mata saya menetes... Er drehte sich um und lief den langen Flur hinunter, der an diesem Winternachmittag hell erleuchtet war. Und so begleitete ihm kein Schatten. Ich stand regungslos unter der Tuer und sah ihm nach. Als er am andern Ende des Flurs angekommen war, blieb er stehen, wandte sich um und winkte. "Wiedersehn, Torey" rief er. "Ich werde dich nicht vergessen" sagt er, bevorer verschwand. "Ich dich auch nicht Kev. Ich werde dich nicht vergessen". Wiedersehn, Bryan, Selamat Tinggal Bryan..(p. 320). Satu penutup yang indah.
Bagi yang menyenangi liku-liku terapi dan psikologi remaja, buku ini teramat menarik untuk dinikmati. (DAI)
* Kevin kini berusia 30th-an. Ia berhasil menjalani masa kedewasaan dengan sukses. Kevin telah berhasil lulus dari Highschool dan College. Ia bekerja di rumah sakit dan amat menyukai pekerjaannya. Kevin menikah dengan Sue dan kini memiliki 2 putra: Daniel dan Matthew. Kevin bertekad untuk tak menyia nyiakan hal yang terpenting dalam hidupnya: istri dan dua putranya. Ia ingin menjadi ayah yang terbaik bagi Daniel dan Matthew.
|