|
Pindah rumah terkadang sangat berpengaruh bagi seorang anak. Anak yang tadinya ceria seketika menjadi muram yang membuat orangtuanya menjadi risau. Hal ini terjadi pada seorang mom di We R Mommies.
"Aku dan keluarga baru pindah rumah sekitar 3 mingguan yang lalu. Di lingkungan yang dulu anakku Rafa (17 bulan) banyak sekali teman yang berdekatan rumahnya dan juga jarak umurnya. Jadwal main Rafa waktu itu sewaktu bangun tidur pagi sekitar jam 10 an sampai waktu makan siang, dan sore hari setelah mandi sambil makan barengan dengan anak yang lainnya, bukan hanya main dengan yang sebaya tapi dengan pengasuh anak lainpun Rafa sering bercanda.
Nah Moms, semenjak pindah ke rumah baru, lingkungannya berbeda sekali dengan yang dulu, lebih sepi karena masing-masing anak main di halaman rumahnya sendiri-sendiri, lagipula pengasuh Rafa dan juga asisten di rumah juga baru. Pengasuhnya baru sekitar 1,5 bulan mengurus dia, dan asistenku ini baru ½ bulan kerja di rumah. Semenjak dari situ perilaku Rafa kalau kuperhatikan jadi berbeda. Dia tidak mau lepas dari aku kalau aku ada di rumah, sampai kalau aku akan ke WC pun dia minta ikut.
Awalnya kupikir karena memang suasana rumah baru dia masih penyesuaian dan mengenali tempat. Tetapi kok keterusan sampai sekarang, sampai-sampai kalau aku pulang kerja, mau mandi, mau makan saja susah sekali Rafa minta digendong terus. Sudah gitu tadinya dia anaknya ceria banget senengnya ketawa dan becanda. Kalau nonton barney bisa loncat-loncat sambil joget dan tepuk tangan. Eh sekarang jadi tidak semangat, nonton barney biasa saja. Terus makan juga jadi susah, lemes, lalu kaya suka ngelamun,jadi cengeng banget dikit-dikit nangis. Apakah berarti Rafa stress? Gimana ya Moms treatment buat Rafa supaya dia kembali ceria?"
Tanggapan datang dari mom yang menanyakan bagaimana dengan kondisi kesehatan si anak? "Cek dulu bagaimana kondisi badannya maksudnya Rafa sedang demam, batuk, pilek, tumbuh gigi baru, sariawan atau tidak. Kalau memang yakin Rafa 100% sehat berarti kondisi psikisnya yang perlu diperhatikan. Sebelum pindah rumah apa Rafa sudah cocok dengan pengasuh barunya tapi mungkin Mom belum bisa menilai ya? Karena baru 1,5 bulan.
Kondisi fisik sehat, dengan pengasuh baru sudah cocok mungkin Rafa ingin bersosialisasi punya banyak teman seperti waktu belum pindah. Kira-kira dilingkungan rumah apa ada anak yang sebaya Rafa? coba saja undang mereka untuk bermain dirumah atau Rafa bersama pengasuhnya atau Mom bermain ke rumah anak-anak sebayanya. Kan bisa sekalian sebagai pendatang baru berkenalan dengan tetangga di lingkungan barunya. Konsekuensinya Mom mesti cuti atau bisa juga dilakukan saat hari Sabtu & Minggu."
Tanggapan juga datang dari seorang mom yang berbagi pengalaman tentang adanya gangguan pada rumah.
"Kalau dulu aku ngalamin yang sebaliknya, aku disaranin untuk segera pindah rumah karena rumah kontrakanku itu katanya ada penunggunya yang selalu mengganggu Chaca. Ceritanya ada temen dari paman yang berkunjung kerumah waktu itu. Ternyata teman si paman ini 'orang pinter' dan waktu dia datang Chaca sedang sakit, habis sakit satu minggu terus sembuh satu minggu kemudian sakit lagi. Menurut dia Chaca sering sakit-sakitan karena diganggu penunggu rumah dan tanpa diminta dia langsung memeriksa Chaca dan sekeliling rumah dan menurutnya kami harus segera pindah rumah. Aku tidak bisa percaya begitu aja kan ucapannya, lagi pula menurut keyakinanku percaya dengan dukun adalah musyrik dosa besar. Tapi akhirnya enam bulan kemudian kami pindah rumah dengan pertimbangan karena rumah itu memang rumah tua yang sirkulasi udaranya memang kurang baik, agak-agak lembab dan perlu diperbaiki oleh pemiliknya. Bukan berarti kita tidak percaya kalau mahluk ghaib itu ada ya, di agamaku kita wajib percaya eksistensi mahluk ghaib di dunia ini. Jadi mungkin saja dirumah Mom memang sudah ada "penghuninya" sebelum mom pindah. Tapi kita tidak perlu panggil dukun/orang pinter untuk mengatasi masalah ini, kita perbanyak saja ibadah sesuai keyakinan Mom Hilda."
Lain halnya seorang mom yang menceritakan pengalamannya selama pindah dari satu state ke state yang lain. Tetapi beliau tidak mengalamai masalah dengan putranya. Hal ini disebabkan mom tersebut sudah terbiasa pindah sejak anak dalam kandungan. Dan juga karena bawaan si kecil yang easy-going dan friendly. "Dan selama ini kemana pun aku selalu bersamanya. Dibawa kesuper market semua orang di hai, di dadahin, sampai malu mamanya. Di bawa ke park, sampai anjing-anjing, burung-burung, bunga-bunga ikut di dadahin dan diajak ngomong!
Mom yang berada di Amerika ini, juga membagikan pengetahuannya yang di dapat dari majalah parenting di US. Menurut artikel di majalah tersebut, pindah rumah memerlukan kesiapan mental dan fisik bagi anak-anak, apalagi bagi balita. Karena di masa balita ini mereka mencoba membangun identitas diri dan belajar mengenal berbagai macam hal yang tentu saja membutuhkan rasa aman dan nyaman. Dia mencontohkan sendiri kepindahan keluarganya dengan anak-anak yang berumur bervariasi dari anak usia SD-TK. Sementara suami-istri sibuk bekerja orangtua disarankan berusaha memperkecil friksi yang timbul dari pindah rumah tersebut
Cara yang dianjurkan sebelum pindah:
1. Mensosialisasikan atau memberi pengertian mengenai pindah rumah kepada anak-anak dengan contoh yang dimengerti anak dan dengan bahasa anak. Apa yang akan terjadi bila pindah rumah. Akan berpisah dengan teman-teman lama dan rumah/lingkungan lama.
2. Mengajak melihat rumah baru dan daerah sekitarnya, sesering mungkin, sehingga anak-anak tidak merasa asing dengan rumah baru. (Pastinya sulit bila daerah baru sangat jauh). Dalam hal ini bisa dipakai pengenalan melalui buku,majalah,brosur atau foto rumah baru. Ajak anak-anak berperan serta aktif dalam pemilihan rumah/daerah baru.
3. Ajak anak-anak berperan aktif dalam pengambilan keputusan sekitar kehidupan di tempat yang baru. (pemilihan sekolah, pemilihan aktivitas ekskul,pemilihan eksterior, interior dan perabotan rumah).
4. Bila anak-anak menolak untuk pindah rumah dengan berbagai alasan, bukalah percakapan untuk memberikan pengertian bahwa pindah rumah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak dengan alasannya.
5. Kumpulkan informasi yang lengkap mengenai rumah baru, dan daerah baru, sekaligus mencari teman di lingkungan baru bila memungkinkan.
Mengingat usia Rafa yang masih 17 bulan, pastinya Rafa merasa kehilangan "MUKA-MUKA" yang dia kenal selama ini. Karena di usia ini yang paling penting adalah keberadaan seseorang/oRANG-orang yang paling dikenalnya yang memberikan rasa aman, rasa terlindungi dan rasa sayang.
Mengingat yang aku alami, berhubung aku selalu bersama Fadlan kemanapun aku dan suamiku pergi, meskipun setiap hari kita ketemu orang dan tempat yang berbeda, keberadaanku atau keberadaan suamikulah yang membuatnya selalu feel at home.
Mudah-mudahan Rafa cepat beradaptasi dengan rumah baru ya. Selama ini yang aku usahakan untuk Fadlan (berhubung kita selalu berpindah dan tinggal di tempat baru):
1. Open House setiap datang ke rumah baru dengan sebelumnya mencari kenalan atau tetangga yang bisa berteman dengan kita dan anak. Terutama karena aku tinggal di LN, maka aku menghubungi teman Indonesia atau mix-couple yang tinggal di dekat rumah baru,say hi, lewat telpon atau e-mail, atau minta tolong teman untuk dikenalkan dengan teman di tempat baru.
Kalau aku tinggal di Indonesia, Insya Allah, OPEN HOUSEnya sekaligus selamatan dan ngundang pengajian/jemaah mushalla atau mesjid terdekat, dan juga tetangga sekitar sekaligus memperkenalkan diri. Buat Mommies yang beragama lain, bisa dengan mengundang jamaat tempat ibadah masing-masing yang diikuti.
2. Build Support System: mencari kenalan atau terutama tetangga terdekat yang bisa berteman dengan keluarga atau dengan anak. Sulitnya memang kadang bila kita tinggal di daerah URBAN, yang perlu waspada dalam membuka rumah untuk orang lain.
Jajaki kemungkinan berteman dengan tetangga, bisa dengan say hi secara informal saat sehari-hari, undang informal di waktu week end (bisa minta tolong RT atau kepala komunitas setempat dengan menyediakan rumah sebagai tempat berkumpul arisan RT/perkumpulan komunitas berikutnya), membuka mata rumah-rumah mana di sekitar yang mempunyai anak sebaya Rafa.
Aku juga menyediakan rumahku buat pertemuan informal Mommies, anytime sepanjang seizin suami dan day-time dan bukan weekend, aku juga menawarkan pada Mommies yang perlu DAY-OUT untuk beberapa waktu dapat menaruh anak mereka di rumahku for free. Dengan seizin suamiku, yang ingin aku full take care Fadlan. Tanpa terbebani tanggung jawab bila membuka DAY CARE untuk anak lain. Mungkin untuk Mommies yang diberi izin dan sepakat dengan suami, ini juga peluang untuk membuka day-care sekaligus memberikan teman bermain pada anak.
Aku membuat grup dengan Mommies yang punya anak sebaya, dari grup makan,grup belanja,grup exercise, grup jalan-jalan, etc meskipun kadang cuma dengan satu Mommies dan membuat skedul regular,misalnya exercise setiap hari Senin, dst.
Jadinya, selama aku exercise,atau belanja, atau jalan-jalan, atau masak atau ngebakso bersama, Fadlan sekaligus bermain dengan anak-anak Mommies yang segrup denganku.
Kebetulan mereka tinggalnya tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh, tapi punya interest dan motivasi yang samadenganku.
3. Bantu anak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dengan mencurahkan perhatian yang lebih pada saat-saat transisional. Mungkin sekarang Rafa merasa sangat kehilangan dengan bergantinya assistant dan baby-sitter di rumah. Kalau kondisinya mendesak, ambillah cuti misalnya 3 hari sampai seminggu. Kecuali kalau sangat urgent, hanya untuk bersama Rafa, assistant dan Baby sitternya, hingga Rafa merasa familiar dengan orang-orang baru dan situasi baru. Rencanakan secara matang bila memang akan mengambil cuti sekaligus mengoptimalkan persiapan teman untuk Rafa, bisa saja mengundang tetangga atau teman dengan anak sebaya Rafa hanya untuk acara ngebakso bersama, atau acara BABY OPEN HOUSE misalnya.
4. Cari tahu aktivitas atau interest/minat Rafa yang paling disukainya. Pada Fadlan, ternyata dia paling suka jalan-jalan (dia jalan sendiri sesekali digendong atau pakai stroller ringan kalau dia capek) dan komputer serta baca buku, dan musik. Sekarang ini dia hobi baru, difoto. Asal sudah lihat kamera langsung gaya deh, biar ngambek atau nangis setiap difoto langsung senyum dan ketawa biar masih berlinang air mata. Mainannya tidak jauh-jauh dengan yang aku kerjakan, kalau aku masak ribet deh, semua alat dapur dia yang pakai termasuk bahn-bahannya. Mungkin Rafa bisa diajak main bareng Baby Sitter dan assistant Mom. Kalau Rafa suka nyanyi ya, lewat nyanyi kalau suka dibacain cerita ya lewat cerita, kalau sukanya jalan- alan dan main model ciluk ba...ya minta supaya baby sitter dan assistantnya Mom sering main bersama Rafa.
5. Jangan lupa untuk mengecek kondisi fisik Rafa. Mungkin karena perubahan sekeliling ini kondisibadannya sedang lelah sehingga keceriaannya berkurang. Beri waktu pada Rafa untuk istirahat sekaligus 'mencerna' sekeliling dan orang-orang di sekitar yang baru.
Last but not least....BERDOA....mudah-mudahan diberi keberkahan, keselamatan, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan di rumah yang baru." (MD/WRM)
|