We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Ekonomi Keluarga arrow Bayang-bayang Pedofilis, Waspadalah!
Bayang-bayang Pedofilis, Waspadalah! E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Kamis, 07 Juli 2005

Masih segar dalam ingatan kita, Febi seorang bocah berusia 10 tahun, ditemukan tewas secara mengenaskan di sebuah rumah kosong. Diduga korban diperkosa sebelum dibunuh. Polisi tidak tinggal diam melihat hal ini. Beberapa minggu kemudian si tersangka berhasil dibekuk polisi. Ia mengakui, 2 tahun sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama terhadap seorang gadis kecil tetangganya.

Sebagai orangtua, tentunya kita ikut prihatin dengan kejadian ini. Dan membuat kita bertanya-tanya, sudah sedemikian parahkah kondisi keamanan saat ini (contoh kasus di Jakarta), sampai-sampai ruang bermain anak-anak sekarang harus dibatasi dan penuh pengawasan? Ngeri bayang-bayang pedofilis yang "senang" mengintai anak-anak.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Menjadi seorangtua yang overprotective atau malah sebaliknya?

Yuk, kita simak pendapat Mommies, member WRM.

Seorang Mom dengan dua putra usia sekolah dasar mengomentari, bahwa silahkan saja orang menganggap ia overprotective. "Better safe than sorry," katanya. Walaupun kedua anaknya laki-laki, tetap saja ia merasa khawatir. "Wong orang yang sakit jiwa juga sekarang gak peduli laki/perempuan, dewasa/anak-anak, bahkan anak kandung juga digarap," sambungnya dengan nada sedih.

Untuk itu, beliau berbagi tips untuk melindungi anak-anaknya, dengan memposisikan dirinya sebagai "bodyguard". Singkat cerita, yang dilakukan untuk buah hatinya adalah :
1. Sejak kelas 1 SD anak-anak diikutkan taekwondo. Selain maksudnya untuk beladiri, juga buat melatih motorik dan disiplin. 
2. Meskipun sekarang anaknya maunya didrop aja, lalu masuk sendiri, tetap saja baru ditinggal setelah memastikan dia benar-benar masuk ke sekolah/tempat les.
3. Kalau di tempat umum, bagi anak-anak balita khususnya, jangan sampai lepas dari pengawasan mata. Kalau anak-anak seumur SD, biasanya sudah mau-maunya sendiri. Selama sosok anak itu masih ada di ekor mata, sang Ibu masih bisa nyambi belanja atau ngobrol.
4. Di rumah, kalau tidak ada yang bantu ngawasin, harus main dalam lingkungan rumah batas pagar. Kalau ada yang ngawasin, boleh main ke luar/ taman.
5. Dibekali wejangan-wejangan mama, bahayanya kalo berkeliaran sendiri, jangan mau diajak bicara, diberi barang, dijanjiin sesuatu oleh orang gak kenal. Juga jangan lupa berdoa untuk setiap langkah dan perbuatan.

"Mudah-mudahan sih kalo kita sudah membekali yang baik sejak kecilnya, nanti saat anak-anak ini sudah malu punya bodyguard (baca:dibuntutin mama), mereka sudah punya bekal yang cukup," demikian sarannya.

Tambahan tips datang dari seorang Mom dengan putri berusia 3 tahun. Beliau mengajarkan anaknya untuk :
1. Jangan mau dicium sama sembarang orang apalagi kalau sampai dipeluk-peluk atau dipegang-pegang anggota badannya (khususnya alat kelamin), dan jangan membuka bajunya di depan orang "luar" rumah.
2. Sebisa mungkin tidak mengijinkan dia menonton acara tv yang mempertontonkan adegan orang dewasa.
3. Membiasakan diri anak untuk memberi laporan apa yang telah orang lain lakukan padanya, entah memegang ataupun mengelus pipi. "Biasanya sih anakku nolak diperlakukan begitu sama orang lain, kecuali aku udah kasih ijin," katanya. "Nanti kalau anakku sudah agak besar, aku juga akan membekalinya dengan ilmu bela diri," harapnya.

"Masalah kriminalitas di Jakarta dan daerah sekitarnya memang sudah makin buruk tiap tahunnya dan sebetulnya makin nggak ada bedanya aja sama di luar negeri. Okelah kalau di kota kecil mungkin lebih bisa ditolerir tapi namanya metropolitan di negara manapun kayaknya kok banyak kasus yang sama yah. Dunia emang makin gila," seorang Mom mengungkapkan keprihatinannya.

Beliau turut berbagi cerita, mengenai bagaimana menjaga anaknya dari tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Menurutnya, sejak sang buah hati belum lahir, ia dan suami sudah sepakat untuk meminimalisasi kemungkinan yang tidak diinginkan. "Nggak ada tuh barang-barang anak kami satupun yang bertuliskan or berinisialkan nama dia. Padahal anak tetangga lagi seru-serunya pakai topi, baju, tas dll yang ada sablonan nama mereka tapi aku nggak ngileerrr," beliau berbagi saran.

Beliau juga merasa diuntungkan dengan keadaan anaknya yang memiliki stranger anxiety yang cukup besar. "Dia kalau sama stranger duhhh nggak bisa kompromi sama sekali. Nggak mau dideketin kalau stranger itu ngotot deketin dia akan jerit-jerit histeria sampai amat sangat mengundang perhatian. Pertama-tama malu juga sih punya anak kok nggak friendly gitu tapi dengan maraknya kasus kriminal belakangan ini rada bersyukur juga siiihhh. Walaupun gitu tetep aja memang kita sebagai ortu harus super waspada. Papanya udah ngotot aja ntar klo Ruth masuk usia playgroup (rencana kami mo masukin dia play group 3 tahun) aku harus udah jadi FTM!!!" tegasnya.

"Supaya beneran ada yang supervise our daughter secara langsung mulai dari pintu gerbang sekolah sampai kelas," lanjutnya. Menurut beliau hal tersebut memang terkesan overprotective.  "Tapi mencoba melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk buah hati juga amanah dari Tuhan kan, anak kan titipan dariNya," tutupnya dengan manis.

Seorang pedofilis ataupun pelaku kejahatan terhadap anak, bisa ditemui di mana saja, bahkan bisa siapa saja, yang terkadang justru malah orang-orang terdekat. Yang menjadi korban pun bukan hanya anak perempuan, tapi juga anak  laki-laki.

Berikut adalah pengalaman seorang Mommies.

"Jadi teringat ponakan temen sekantor aku, usianya baru 8 th, tau sendiri kan mom perkembangan anak sekarang usia 8 th aja sudah menstruasi badanya bongsor dan cakep pula," katanya membuka perbincangan, "ga nyangka lho, sang pedofil ini temen akrab bapak si anak itu sendiri [sebut si anak A], awalnya ortu A pikir, temen bapaknya [Sebut Om B] ini cuman becanda muji-muji si A di depan bapaknya, malah suatu waktu Om B minta ke bapak A untuk minang A, karena bapak A mikir Om B cuman becanda, pinangan itu di anggap angin lalu saja."

"Hingga suatu saat Om B ini sudah tidak tahan lagi dengan maaf ya [nafsunya] akhirnya A di paksa untuk melakukan hubungan intim/usaha pemerkosaan, aduh kebayang ga sih anak usia 8 th ngelawan laki-laki yang sudah berusia hampir 40 tahun, ga ada daya kan, untungnya sebelum itu terjadi [hubungan intim] Om B ini saking nafsunya sudah keluar duluan[baca : ejakulasi dini]. Menurut hasil visum dokter, allhamdulillah banget selaput vagina A tidak lecet ataupun sobek, cuman sekarang A lagi terapi di psikolog soalnya dia masih agak-agak trauma kalau ketemu dengan lelaki dewasa," katanya penuuh keprihatinan.

Beliau juga ingin menambahkan, bahwa selain tips-tips yang sudah dibagi oleh para Ibu-ibu WRM, bahwa basic pendidikan agama juga penting untuk membekali anak-anak kita.

Seorang Mom dengan putri kecilnya juga turut cemas dan prihatin dengan kondisi keamanan seperti ini. Beliau berkomentar, "soal pedofilia memang bikin merinding. Aku juga sempet cemas pas tau punya anak cewek, tapi trus aku pikir sekarang juga banyak kasus pedofil yang menimpa anak lelaki, kayak korban-korbannya Robot Gedek."

"Jadi intinya cowok atau cewek sama saja resikonya," simpulnya.

Sarannya untuk tidak memancing niat orang berbuat jahat adalah dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang memancing mereka. Menurutnya, anak perlu dibekali ilmu bela diri dan self-esteem yang kuat. Ia bahkan sudah berencana memasukkan anaknya ke klab wushu di deket rumah, kalau sang anak sudah berusia 3-4 tahun.

"Aku merasakan banget pentingnya beladiri, kalau tidak bisa self defense, rasanya takut kalau liat orang yang lebih kuat/besar. Yang susah tuh masalah self esteem. Katanya anak yang percaya diri, lebih berani speak up," katanya seraya menutup perbincangan.

Kasus-kasus pedofilia di Indonesia masih tergolong belum sebanyak di luar negeri. Oleh sebab itu, Mommies WRM yang kebetulan tinggal di negeri orang turut berbagi cerita.

Seorang Mom WRM yang kebetulan berdomisili di Belanda, mengutarakan pendapatnya. "Wuih serem ya memang kalo bicara masalah ini." Beliau merasa bersyukur tinggal di sebuah kota kecil di Belanda yang relatif cukup aman, terutama bagi anak-anak.

Justru dahulu beliau sempat paranoid sekali waktu masih tinggal di
Bandung, karena tiap hari mendengar berita-berita semacam itu. "Nanti kalo balik ke Bandung mudah-mudahan nggak begitu-begitu amat kayak dulu lagi," harapnya penuh  kecemasan.

Beliau berbagi cerita, bahwa setelah berkonsultasi dengan guru ngajinya, perasaannya jadi lebih tenang.

"Waktu itu guru saya bilang, kadang-kadang kita jadi orangtua memang suka lupa, merasa anak adalah milik kita. Padahal sebetulnya, anak 'hanya' sekedar titipan. Kalo pusing-pusing anak nggak mau makan, sakit, takut diculik takut ini-itu, ya lapor aja sama yang menitipkan. Mohon dengan sungguh, titipkan dengan sangat kepadaNya, supaya anak kita dijaga baik-baik olehNya. Karena sebagai orangtua kita nggak mungkin bisa 24 jam mengawasi mereka. Tapi kalau Dia, Dia bisa jadi 'pengawas' 24 jam, karena Dia lah sesungguhnya pemilik anak kita."

Mendengar hal tersebut, beliau sampai menitikkan air mata. Karena menurutnya,
memang betul, selama ini, ia sering mengaku-ngaku bahwa  anak-anak sepenuhnya miliknya, sampai-sampai lupa bahwa ada Pemilik yang sebenarnya.

Sejak itu, beliau merasa jadi lebih tenang dan ringan. "Usaha tetep, tapi hati yakin, pede dan tenang aja, bahwa anakku akan baik-baik aja karena sudah aku titipkan pada Pemilik yang sesungguhnya. Dan aku juga yakin, Tuhan itu kan berbuat sesuai prasangka umatnya ya. Kalo prasangka kita baik, mudah-mudahan Dia juga akan memberikan yang terbaik buat kita,"sarannya bijak.

"Sedih melihat kenyataan dunia yang sudah banyak berubah. Kalau aku baca-baca koran banyak terjadi penculikan anak jadi takut, apalagi tahun lalu waktu telpon ke rumah orangtua. Orang ua bercerita untuk hati-hati dengan anak jangan sampai keluar sendirian," tutur seorang Mom yang tinggal di Perancis, dengan prihatin.

Ia melanjutkan, "kalau di Perancis, anak-anak kalau bermain di taman atau ke mana-mana selalu dengan orang tua. Pulang sekolah harus ada orangtua atau keluarga yang menjemputnya dan itupun harus ada otorisassi dari orang tua untuk guru bahwa siapa yang menjemputnya. Kalau di Denpasar khususnya yang di desa, yang aku ingat anak-anak masih bisa pulang sekolah sendiri. Jika lihat pemandangan itu rasanya indah dan ada kehidupan," katanya sambil mengenang masa-masa kecilnya.

Seorang Mom di Colorado yang memiliki anak perempuan, juga merasakan kekhawatiran yang besar terhadap masalah keamanan bagi anak-anak. Beliau merasa sedih dengan pergaulan anak-anak sekarang, yang sudah banyak terpengaruh budaya barat, yang justru pada akhirnya memicu timbulnya pedofil-pedofil.

"Dari cara berpakaian cewek-cewek Jakarta yang sudah berani, sex bebas (kurang pendidikan agama yang kuat) dan bermunculannya club-club malam yang amat digemari anak anak muda saat ini (mereka tentu saja menyediakan minuman beralcohol kan?!), dan juga sinetron-sinetron dan tayangan-tayangan televisi yang menampilkan artis-artis sexy dan penari latarnya. Itu menurut pengamatan saya semasa masih di Jakarta (terakhir saya di jakarta tahun 2002)," katanya saat membuka percakapan.

Kemudian beliau melanjutkan, "saya pernah makan malam di sebuah resto Brazil diatas gedung BNI 46 (kalau tidak salah) dan setiap malam jumat mereka menampilkan penari-penari perut yang akan menghampiri setiap meja dengan pakaian yang minim dan goyangannya yang tidak pantas dilihat (astaghfirullah salah satu penari itu adalah sepupu saya sendiri yang diam-dia tanpa setahu keluarga mencari uang tambahan). Budaya kita yang masih memegang teguh kesopanan dalam tata berbicara, berpakaian, dll, saya rasa sudah mulai hilang bergantikan dengan budaya barat yang amat sangat bebas dan cenderung mendewakan uang/materi."

Beliau sendiri merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia (Jakarta terutama) karena baginya disanalah berada keluarga dan teman-teman baiknya. Untuk beribadah pun mudah, di mana mana banyak musholla dan masjid yang bisa  dimampiri dan senantiasa ada Adzan yang mengingatkan waktu sholat.

"Walaupun kelihatan tenang dan damai ditempat kediaman saya di Denver tapi baru-baru ini telah tertangkap seorang pemerkosa berantai di daerah sekitar. Setelah saya lihat wajahnya, tidak nampak tuh wajah penjahat, malah orang ini berwajah baik dan bersih (orang kulit putih). "

Maka dari itu, beliau merasa lebih senang jika bisa kembali ke Jakarta bersama dengan putrinyadan dengan tanpa pikiran macam-macam tentang masalah pedofil ini. "Insya Allah saya serahkan saja sesuatu yang ga bisa saya temukan jalan keluarnya pada Allah Swt."

Singkat kata, menurutnya, "di mana saja pasti ada orang jahat, kita pun ga bisa menilai manusia dari ras, penampilan, harta atau betapa tinggi pendidikannya, karena hanya orang yang takut pada Tuhannya lah yang tidak akan mampu melakukan kejahatan, bukan karena wajahnya yang serem atau karena orang itu tidur dipinggir jalan. Banyak kok kejahatan (misal pedofil) yang justru datang dari keluarga sendiri atau malah tetangga dan orang orang yg punya power (power=uang, jabatan, terkenal)."

"Di Jerman sini juga kekhawatiran yang sama makin kuat. Di sini kejadian kayak gini lumayan juga.  Dari pertama aku dateng dan liat aku punya anak, cewek pula, banyak yang ngingetin untuk hati-hati," kata seorang Mom di Jerman.

Masak sih? Pikirnya waktu itu. Seiring waktu, beliau jadi tahu.  "Ya emang lumayan sering denger berita gini di sini. Apalagi aku punya temen yg suka 'parno' (baca: takut), jadi dia selalu 'laporan' kalau ada kejadian begini. Temenku itu selalu bilang penjara Jerman bukan penuh sama pencuri seperti umumnya di Indonesia, tapi penuh orang-orang gila."

Beliau melanjutkan, "sebagai orangtua, aku jelas khawatir, tapi ya realistis aja. Kuatkan usaha dan doa. Lalu.....pasrah. Aku usahakan nggak digerogoti kekhawatiran. Lebih milih siapkan strategi dengan tenang, apalagi pas dihadapan anak-anak," demikian sarannya.

Beliau mengibaratkannya seperti kata pepatah, "kalau takut kaki kotor ketika berjalan, daripada mengkarpeti seluruh permukaan bumi, ya mending masing-masing orang pake sandal. Jadi kami coba atur strategi untuk "memakaikan" anak-anakku (dan kami juga) dengan sendal. Sedikit demi sedikit anakku di 'didik' juga tentang ini. Kenalkan dirinya itu seperti apa. Tanamkan apa yang harus dia jaga. Gimana dia harus bersikap dengan orang asing. Bagaimana dia harus bertindak jika dalam kesulitan, dan ingatkan terus akan Tuhan, dst."

Dan seperti Mommies WRM yang lain, ia berencana untuk membekali anaknya dengan ilmu bela diri. Beliau juga menambahkan, kalau di Jerman, peraturannya, anak yang belum sekolah dasar tidak boleh ditinggal sendirian. Kemana pun pergi harus ada yang mengawasi. "Jadi selama ini anakku belum pernah sendirian. Jadi aku masih bisa tenangan."

Mommies WRM lain yang tinggal di Jerman, ikut urun pendapat. "Untuk putra tertua  kami  (6.5 th), kami juga selalu mengingatkan padanya agar  jangan mudah mengakrabkan diri pada orang (remaja/dewasa)  yang tak dikenalnya. Mengingat ia sudah saya perbolehkan berangkat-pulang  ke/dr  TK  di  depan   rumah,  saya  selalu mengingatkan  agar langsung  pulang  ke  rumah tanpa mampir atau ngobrol  dengan  siapapun (tentu dengan pengawasan saya yang memantau perjalanannya  dari  TK  ke rumah dari balkon rumah). Demikian halnya  saat memberikan kepercayaan padanya untuk sekedar membeli roti  di  toko roti di ujung jalan, tetap kami perbolehkan, namun dengan  sedikit  pengawasan.  Kami  juga  sedikit mengajarkan perlindungan  sederhana  padanya  bila  ia  berada dalam keadaan/kondisi kasus-kasus darurat,  mengingat  ia  sudah mampu membedakan mana tindakan yang perlu atau tidak."

"Dunia  memang  sepertinya  makin tidak ramah pada anak ya, semoga  kita  diberikan  kekuatan  yang  mencukupi  untuk menjaga titipan Dia yang tak ternilai harganya, amin."

Pembicaraan ini terus bergulir dan semua menjadi semangat untuk berbagi cerita. Seperti seorang Mom yang sekarang tinggal di Amerika. Beliau menceritakan, bahwa kasus pedofilia di Amerika adalah gudangnya.

"Kasus yang masih segar adalah terbunuhnya Jessica L. yang diculik dari tempat tidurnya. Bayangkan Mom, dari tempat tidur, bukan di jalan atau di taman. Makanya kami takut sekali masalah ini," katanya dengan cemas. Sampai-sampai suaminya memasang alarm di semua jendela dan pintu.

Beliau juga melarang anak-anak main di depan rumah (biarpun di halaman sendiri, karena halaman depan tanpa pagar) tanpa ada pengawasan darinya. Jadi anak-anak mereka hanya bebas bermain di halaman samping dan belakang.

"Kalau kami berada di suatu tempat (masjid misalnya), sering anak saya nangis karena ingin bermain dengan teman-temanya di halaman masjid (sementara orang dewasa semua ada di dalam). Saya hanya bilang, "No!", titik. Biarinlah dibilang overprotective, better safe than sorry."

Kemudian beliau berbagi cerita, "beberapa waktu yang lalu, ada mantan pedophile yang diwawancarai di CNN. Aduh...tampangnya tuh kayak bapak-bapak next door, udah tua dan keriputan. Dia bilang orang seperti dia setiap kali berpapasan dengan anak-anak (laki-laki/perempuan) langsung pikiran jadi kacau. Padahal dia sudah ikut berbagai terapi. Tapi dia berniat untuk sembuh total makanya dia welcome any help, masuk penjara juga mau (dulu dia pernah beberapakali dipenjara dengan kasus serupa). Bahkan untuk langkah preventive, dia memberi tahu tetangga dan co-workers tentang dirinya, sehingga mereka turut mengawasi."

"Saya juga ngeri kegiatan outbond, camping, dsb, karena beberapa kali terjadi si anak diculik dengan cara merobek tenda. Bahkan saking takutnya, suami melarang saya jalan-jalan di seputar neighborhood tanpa dia. Katanya ,"Kalau ada mobil berhenti dan kamu atau anak-anak ditarik ke dalam mobil, bagaimana?" Suami juga rajin mengumpulkan kaset, buku dan video tentang "smart street", tips menghadapi kejahatan, dsb. Dan dia selalu mengajak (maksa sih...hehehe) saya untuk menyimak dan berdiskusi. Wah...bener deh...saingan sama FBI. Maklum Moms, suami dulunya ketua UKM Perisai Diri ITB, jadi insting defense-nya kuat sekali. Bahkan dia sudah ancang-ancang mau memasukkan anak-anak ke kursus martial art (bela diri)."

Masih dari Amerika, seorang Mom berputri satu, ikut sharing pendapat.

"Masalah satu ini sering jadi pikiran, apalagi kalau ada lagi berita tentang beraksinya pedofil memakan korban lagi. Langsung makin kepikiran, panas hati dan panik. Lalu muncul ketakutan ini itu lalu jadi panik sendiri. Bukan cuman anak, orangtua pun bisa juga jadi korban pemerkosaan, pembunuhan dan lain-lain lagi. Memang ngeri kalau dipikirin. Semua memang bisa jadi korban, engga anak, engga orang dewasa, engga laki, engga perempuan."

Beliau melanjutkan, "di tempat yang kita pikir aman, tiba-tiba bisa terasa tidak aman. Di tempat yang kita pikir tidak aman, ternyata kita "lolos" dari ancaman. Tapi seperti moms bilang, memang akhirnya kita serahin kembali anak kita ke Atas sebagai pemilik dan pelindung anak kita mau pun kita."

Seorang Mom (masih) di Amerika merasa gelisah dan khawatir dengan berita lain
tentang hilangnya Jetseta Gage, yang kemudian beberapa hari ditemukan mayatnya. Atau kasus  penyalahgunaan wewenang ( pemerkosaan guru {laki laki ataupun perempuan } kepada muridnya )seperti kasus Marry Kay LeTourneau, Debra LaFave, Pamela Rogers Turner dsb.

"Megan's Law diterapkan  kepada pedofil ( sex offender )untuk mendaftarkan diri di 50 state  di USA untuk memberikan peringatan kepada orangtua dan juga penegak hukum tentang keberadaan mereka di community, tetapi hal ini juga tidak 100 % membantu karena banyak sekali pedofil yang pindah ke kota lain dan mereka tidak mendaftarkan dirinya sebagai pedofil," tuturnya sambil berbagi informasi.

"Baru-baru ini Joshep H. Dawson mengajukan petisi " Child Protection Amandment " untuk mengingat Jessica M. Lunsford dengan mengumpulkan sebanyak 100 ribu tanda tangan yang saat ini hanya terkumpul sebanyak 50.000 dengan tujuan bahwa setiap sex offender (higher risk) diberikan electronic device di ankle, bracelet atau bahkan implant micro chip dalam tubuh dan juga diberikan hukuman mati," lanjutnya.

Beliau juga sering tidak menyangka bahwa seringkali bahaya datang dari lingkungan terdekat. "Terus terang lebih baik overprotective seperti moms yang lain daripada terlambat. Memang sebagai orang tua kita harus selalu waspada dan memberikan penjelasan dan juga bekal kepada anak. Serem memang kalau ngomong tentang pedofil," katanya setengah bergidik.

Saran lain yang mungkin bisa di contoh adalah seperti apa yang dituturkan seorang Mom 2 putra, yang kebetulan juga berdomisili di Amerika. "Saya pernah lihat acara di TV, tentang Power Kid, ini jaringan di US dan beberapa negara untuk melindungi anak-anak. Jadi organisasi ini  memberikan pelatihan untuk anak-anak dan juga orangtua. Bagaimana anak-anak bersikap jika ada yang membahayakan. Juga untuk orang tua, jadinya orangtua saling mengawasi anak-anak di sekitar mereka. Kalau saja di Indonesia diterapkan, jadi setiap Ibu saling mengawasi anak-anak yang mereka lihat, di lingkungan rumah, di jalanan, di mall atau di manapun agar terhindar dari kejahatan."

Mengenai pelajaran tentang masalah perlindungan anak dari tindak kejahatan, seharusnya memang sudah mulai digalakkan. Seperti hal di bawah ini yang di bagi oleh salah seorang Mom dari Minneapolis.

"Sekitar sebulan lalu, murid-murid di sekolah anak saya dapet pendidikan tentang child abuse. Termasuk tentang bagaimana seharusnya sikap mereka terhadap orang asing, bagaimana menjaga tubuh mereka (mengenali "good" touch dan "bad" touch), sampe ke poisoning segala macem. Lumayan lama lho, program ini diadainnya selama seminggu. Mulai dari pemutaran film, pertunjukan boneka, macem-macem deh. Setiap hari orangtua disarankan untuk mengulas lagi apa yang diperoleh anak-anak hari itu. Saya gak ngerti apakah ini program pemerintah atau bukan, yang jelas sekolah-sekolah di district kami diharuskan mengadakan pendidikan ini."

Beliau juga berbagi info bahwa, di tahun 2003 yang lalu, ia pernah mendengar ada jam tangan khusus untuk  anak-anak yang dilengkapi GPS system, kita bisa mengetahui keberadaan anak. Dan jam tangan ini tidak bisa dilepas begitu saja, ada password  khusus yang biasanya hanya orangtuanya yang tahu.

Setelah kita mendengar berbagai cerita, pengalaman dan tips yang dibagi para Mommies WRM, berikut ini adalah sebuah tips keamanan untuk anak, yang mungkin bisa menjadi bekal kita sebagai orangtua.

CHILD SAFETY TIPS (sumber: http://www.geocities.com/SiliconValley/Pines/4357/saftlink.html):
1.As early as possible, teach children their full name, address, and telephone  number. Periodically ask them to repeat it for you.

2. Never leave children unattended - NEVER.

3. When shopping, or in a crowd, children should know who to go to if separated  from you. (Cashier, clerk, security officer, etc.) The child should never leave the  store looking for you.

4. Explain the difference between GOOD TOUCH  and BAD TOUCH. A doctor's examination, for instance, is GOOD TOUCHING but the touching of their private parts by a stranger, a relative or a friend is BAD TOUCHING.  No matter who does the BAD TOUCHING the child  should be encouraged to tell you about it.

5. The child should never leave school with anyone except the parent(s). You and  your child should have a PASSWORD worked out in case you cannot pick them up
from the school or day care center. If a child is still unsure of who is picking them up, have them talk to the teacher or the principal.

6. Do not leave your children unattended in a car.

7. Arrange for your child to go to a neighbor or a relative if you are not home.

8. On the telephone, your child is to never let anyone know they are
home alone.  Discuss responses, such as: "My dad is in the shower," or "Mom is busy right now."

9. When home alone, children should NEVER open  the door for strangers.

10. Know the route your child takes to and from school, and have them
use a  BUDDY SYSTEM. Stay away from alleys, vacant lots  and wooded areas.

11. Do not allow children to wear T-shirts that show their names.

12. Have them inform you of where they are going, who they are going
with and when they will be home.

13. If anyone touches them, grabs them or otherwise threatens them,
children should be taught to run away, scream for help or bite, kick, scratch, or
use any method of resistance necessary to escape.

14. Children should know that it is alright to say "NO" to adults if 
they are asked to:
* Look at pictures offered by strangers
* Allow strangers to take pictures of them
* Approach the car of someone asking directions
* Enter someone's house or their property or otherwise be isolated  from  public view
* Do anything else that might frighten them or make them feel  uncomfortable
* The above is not being unfriendly, it is being safe!

15. Children should not accept candy, toys or anything else that is offered to them  by strangers.

16.  MOST IMPORTANTLY - Children should know that  police officers are
their friends, and that they will help them.

CHILD SAFETY (sumber : http://www.klaaskids.org/pg_cs_childsafety.htm)

Every parent who tells their child, "Don’t talk to strangers," is performing a disservice that probably causes more harm than good. A confining and negative declaration based on bad information, it is a holdover from a time of limited awareness. Only 14% of sexual offenders are strangers to their victims, and for male victims under age twelve,  40% of offenders were family members compared with 47% of the offenders of females under age twelve. "Don’t talk to strangers" sends a mixed message to children who watch us consistently converse with strangers, and it eliminates viable safety options such as women, police officers in uniform or other children, to name but a few, for endangered  children.

Children
• I will always tell my parents where I am going and when  will be home and return home before dark.
• I will always play or go places with at least one other  person - NOT alone.
• I know my body belongs to me. I will trust my feelings.  I will say NO and run away from a situation that doesn’t feel right.
• There are certain kinds of strangers that can assist me  when I need  help. For instance: mothers with children, other children, police in uniform or store clerks in the mall.
• I will walk and play at places my parents said were OK.  I will avoid shortcuts or alleys.
• I will not allow adults to trick or force me into going  places or doing things like; help find pets, carry packages, take pictures, play games, or take drugs with them. I will always check with my parents first.
• I will not accept candy, money, gifts or rides from any  adult without my parent’s permission.
• I will always lock my home and car doors. I will not  tell anyone that I am home alone.
• I will learn to dial 911. I will learn to use the pay  phone without money. I will learn my address and phone number.
• I will always walk against traffic on the sidewalk.

Parents
• Maintain current ID, including photograph, video and  fingerprints.
• Maintain current addresses and phone numbers of your  children friends.
• It is important to keep all doors and windows locked.
• Do not advertise your child's name on clothing,  school supplies or backpacks.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement