|
Halaman 2 dari 2
Mom lain memberikan tanggapan yang sangat lengkap mengenai pemilihan madu dan khasiatnya. Menurutnya, madu yang baik biasanya bila termasuk kategori madu asli yang berkualitas dan akan semakin baik bila mengandung banyak faktor antioksidan di dalamnya. Ia sendiri tidak bisa menyarankan untuk membeli merk tertentu, namun berharap semoga beberapa informasi berikut ini dapat membantu kita dalam memutuskan satu produk madu yang akan dibeli.
Madu Asli
Madu asli biasanya merupakan eksudat gula atau sari bunga yang dikumpulkan, diubah, dan diikat dengan senyawa-senyawa tertentu oleh lebah, tertutama Apis mellifera. Kualitas madunya sendiri ditentukan oleh kualitas tanah tempat sumber nektar tumbuh, sumber nektar, cuaca, derajat pemasakan, dan cara ekstraksi.
Madu asli ini sendiri dibedakan atas: Madu floral (madu monofloral: dihasilkan dari satu jenis tanaman, dan madu polyfloral; dihasilkan dari beberapa tanaman); Madu embun (dihasilkan dari cairan hasil sekresi serangga tertentu yang meletakkan eksudat gulanya pada tanaman, kemudian dikumpulkan oleh lebah madu dan disimpan dalam sarang madu); dan Royal jelly (sari madu), yakni madu yang dihasilkan (sebenarnya) khusus untuk ratu lebah. Kadar gizi tertinggi terutama kandungan hormon gonadotropin-nya. Harganya sedikit agak mahal. Karenanya kita perlu mewaspadai barang tiruan jenis madu ini yang banyak beredar. Dari cara menjualnya, madu asli dibedakan menjadi madu cair (dijual setelah diekstrak dari sarangnya) dan madu sisir (dijual masih utuh tertutup dalam sisirannya atau sarangnya).
Sayangnya di Indonesia belum ada lembaga resmi yang indipendent untuk menguji kualitas produk madu yang beredar di pasaran, karenanya sulit untuk menentukan jenis produk yang mana yang memiliki kualitas prima.
Untuk mengetahui keaslian madu, ada beberapa cara:
Pertama: ujian keaslian dapat dilakukan dengan cara mengocok madu dalam botol pengemasnya. Madu asli biasanya setelah mengalami proses pengocokan akan mengeluarkan buih, sedangkan madu palsu tidak. Karenanya saat madu asli dalam botol, ia akan menekan tutup botol sehingga ketika tutup botol dibuka, maka akan terdengar suara letupan kecil.
Kedua: uji keaslian dapat juga dilakukan dengan cara meneteskan madu pada selembar kertas. Madu yang berkategori palsu biasanya akan lebih mudah diserap oleh kertas karena kadar air yang dikandungnya lebih tinggi dibanding madu asli. Selain itu intensitas rasa manis madu palsu akan terasa lebih "lengket" di lidah. Sebaliknya pada madu asli, selain rasa manis akan ditemukan pula rasa asam mengingat madu asli memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3,4 - 6,1.
Ketiga: penggunaan alat polarimeter dapat pula digunakan untuk mengetahui keaslian madu. Madu asli secara optis akan memutar ke kiri, sedangkan madu palsu akan memutar ke kanan.
Berbagai Khasiat Madu
1. Meningkatkan nafsu makan dan menurunkan tingkat morbiditas (kesakitan)
Dari hasil penelitian Y Widodo (2001), peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor ditemukan hasil bahwa pemberian madu secara teratur setip harinya dapat menurunkan tingkat morbiditas (panas dan pilek) sekaligus memperbaiki nafsu makan pada balita.
Penelitian ini dilakukan pada balita pasien Klinik Gizi, Puslitbang Gizi, yang menderita kurang energi protein (KEP) akibat krisis moneter. Sample penelitianya sendiri terdiri dari 51 balita usia 13 - 36 bulan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, pertama Kelompok Madu (25 orang) sebagai sampel, dan kedua Kelompok Syrup (26 orang) sebagai kontrol. Kedua kelompok sama-sama diberi tambahan vitamin B-kompleks dan vitamin C (50 mg).
Variabel yang diamati antara lain data antropometri (umur, bobot badan, tinggi/panjang badan), sosial-ekonomi, recall konsumsi, riwayat kesehatan anak pada saat sebelum, selama, dan sesudah perlakuan sekitar dua bulan.
Hasil penelitian tsb menghasilkan data bahwa tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek kelompok madu atau sampel menurun, nafsu makan meningkat, porsi dan frekuensi makan bertambah, sehingga konsumsi energi dan protein mereka juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapat syrup.
Manfaat kesehatan pemberian madu yang terlihat dalam penelitian tersebut antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, madu merupakan makanan yang mengandung aneka zat gizi sedangkan gula hanya mengandung energi/ kalori. Kedua, madu ternyata juga mengandung senyawa yang bersifat antibiotik.
2. Mengandung faktor pertumbuhan
Kandungan gizi utama madu yang terdiri dari senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan dekstrin (1,5%) akan menambah intake energi yang diperlukan oleh balita.
Kadar protein dalam madu sendiri relatif kecil, sekitar 2,6%. Tapi kandungan asam aminonya cukup beragam, baik asam amino non esensial maupun esensial. Asam amino inilah yang turut pula memberikan sebagian keperluan protein pada tubuh balita.
Jenis vitamin yang terdapat dalam madu juga beraneka ragam Beberapa vitamin yang tercatat ditemukan dalam madu antara lain vitamin B1, vitamin B2, B3, B6, dan vitamin C. Demikian halnya kandungan mineralnya yang terdiri dari kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur. Walaupun jumlahnya relatif sedikit, namun mineral dari madu merupakan sumber ideal bagi tubuh manusia karena imbangan dan jumlah mineral madu mendekati kuantitas yang terdapat dalam darah manusia.
Madu juga mengandung zat antibiotik yang merupakan salah satu keunikan madu. Dari penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti di Departement of Biological Sciences, University of Waikoto, Hamilton, New Zealand dibuktikan bahwa madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Beberapa penyakit infeksi yang dapat "disembuhkan" dan dihambat dengan mengkonsumsi madu secara teratur adalah batuk dan demam , penyakit jantung, hati, paru, penyakit penyakit yang dapat mengganggu fungsi mata, syaraf dan telinga plus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Dari hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti di Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya, di Kualalumpur, ditemukan paling tidak terdapat empat faktor yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri pada madu, yaitu kadar gula madu yang tinggi, senyawa radikal hidrogen peroksida, tingkat keasaman madu yang tinggi, dan senyawa organik yang bersifat antibakteri.
Kadar gula yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tak dapat hidup dan berkembang biak. Dengan adanya senyawa radikal hidrogen peroksida maka dapat membunuh mikroorganisme yang sifatnya patogen. Melalui tingkat keasaman madu yang tinggi maka akan otomatis mengurangi pertumbuhan dan daya hidup bakteri. Plus kandungan senyawa organik yang sifatnya antibakteri. Sejauh ini, kandungan senyawa organik yang telah diidentifikasi adalah polyphenol, flavonoid dan glikosida.
Untuk mendapatkan manfaat madu pada kesehatan tubuh secara optimal hendaknya diperhatikan dosis penggunaannya dan keteraturan pengkonsumsiannya. Dari beberapa rujukan, banyak dianjurkan untuk memberikan 2-3 sdm 2 kali sehari untuk tindakan penjagaan stamina dan kesehatan pada balita (Kalau dari penelitian pak Widodo diberikan dosis 20 gr perhari pada sampel balita tsb). . Sedangkan untuk pengobatan, lebih baik madunya dilarutkan dalam air agar lebih mudah di serap oleh tubuh.
Ada pula beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengkonsumsi madu :
1. Madu yang berwarna lebih hitam biasanya lebih sehat di banding yang warnanya lebih muda. Peneiliti di University of Illnois menemukan bahwa kadar antioksidan dalam madu biasanya terkait dengan warna yang madunya miliki. Semakin gelap warna madu, maka semakin banyak kadar antioksidan yang ada. Seperti yang telah kita ketahui, radikal bebas yang ada di tubuh dapat merusak sistem informasi di sel sehingga dalam kasus ekstremnya dapat menimbukan penyakit kanker dll. Namun tetap kita tidak mengandalkan efek antioksidan madu untuk kesehatan karena bagaimanapun madu bukan pengganti makanan yang sehat yang seharusnya di konsumsi.
2. Pengkonsumsian madu tidak dapat digunakan untuk menggantikan konsumsi buah buahan dan sayur sayuran. Karena komposisi zat yang ada di madu hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan zat gizi manusia dalam sehari.
3. Madu sebaiknya tidak dikonsumsi pada anak usia di bawah 1 tahun. Robert Koch Institut Berlin dan Oesterreichische Gesellschaft für Ernaehrung menyarankan agar bayi (0-12 bl) tidak diberikan madu dalam makanan yang dikonsumsinya. Alasan yang mereka kemukakan adalah kemungkinan munculnya penyakit Saeuglingsbotulismus yang timbul melalui kerja dari Bakteri Clostridium botulinum. Penyakit di atas biasanya jarang terdiagnosa, namun dapat menimbulkan kematian pada bayi. Penyakit ini biasanya ditemukan hanya di usia pertama kehidupan sang anak, terutama memiliki efek yang fatal khususnya di usia 6 bulan pertama. "Hanya" di masa satu tahun pertama ini bakteri tersebut memiliki kemungkinan menimbulkan penyakit Saeuglingsbotulismus dengan proses "pengalih kekuasaan" di organ organ pencernaan kemudian menghasilkan/membentuk gift (Botulinustoxin) di tempat tersebut. Pada anak yang lebih tua dan dewasa kasus ini tak akan muncul, kemungkinana karena di usia tersebut sudah terbentuk Darmflora yang lebih stabil. Namun peringatan ini tidak berlaku pada makanan jadi yang terkandung madu di dalamnya, karena proses pemanasan biasanya telah mematikan si bakteri penyebab penyakit.
Bila tertarik membaca jurnal abstrak penelitian terkait, bisa dilihat di MEDLINE (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi) dan masukkan kata kunci "Infant Botulism" atau "Honey Infant Botulism". Di sana akan dijumpai list research yang berkaitan dengan Infant Botulism.
Beberapa artikel terkait dengan Infant Botulism ini dapat dibaca juga di:
http://www.nutriwatch.org/06FST/honey.html (english) http://www.kinderklinik-buch.de/Botulismus/case_report.html#Anker1558188 (deutsch) http://www.medscape.com/viewarticle/444370 (english)
(We R Mommies)
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |