We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Angklung, Alat Musik Pendidikan dan Persahabatan
Angklung, Alat Musik Pendidikan dan Persahabatan E-mail
Pengirim: dydy   
Selasa, 03 Mei 2005

Membaca judul di atas anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungan antara angklung dengan pendidikan dan persahabatan? Bagaimana sebuah alat musik tradisional dari bambu dapat melatih kepekaan bermusik dan pada saat yang sama juga mengajarkan pentingnya kerjasama dan mempererat persahabatan? Mari kita simak dalam tulisan ini.

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Sebuah angklung terdiri beberapa tabung bambu (tergantung fungsinya) yang berbeda ketinggian dan diameternya untuk mencapai harmoni nada yang diinginkan. Sebuah angklung melodi biasanya terdiri dari dua tabung yang menghasilkan nada terpaut satu oktaf,sementara angklung pengiring (accompagnement)terdiri daritiga atau bahkan empat tabung tergantung accord yang dimainkan. Tabung-tabung tersebut kemudian diikatkan pada rangka batang bambu untuk membentuk alat musik angklung yang lengkap.
Sebuah angklung hanya menghasilkan satu nada, jadi untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan beberapa set angklung yang dimainkan oleh banyak orang. Kurang lebih seperti kelompok paduan suara dalam membawakan sebuah lagu. Untuk memainkannya, kita cukup menggoyangkan atau menggetarkannya.

Sejarah

Angklung dipercayai berasal dari pulau Jawa, khususnya tanah Sunda. Beberapa catatan dari orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tanah Sunda pada abad 19 mengatakan bahwa di daerah ini sering terlihat "permainan" angklung oleh orang-orang setempat. Angklung memang juga dikenal di daerah-daerah lain di pulau Jawa, tetapi di tanah Sunda alat musik ini lebih populer.

Pada awalnya, angklung tradisional digunakan oleh orang-orang desa pada masa itu sebagai bagian dari ritual kepada Dewi Sri untuk meminta panen melimpah. Umumnya dibawakan dalam tangga nada pentatonis (terdiri dari lima nada) dan memainkan melodi yang berulang. Acara seperti ini biasanya dilakukan di ruang terbuka, sambil menari-nari dengan dengan diiringi alat musik tradisional lain seperti goong, kendang, dan tarompet. Kesenian semacam ini masih dilestarikan di beberapa tempat di Jawa Barat.

Lahirnya Angklung Modern

Awal abad 20, angklung tradisional mulai menghilang. Pada tahun 1938, Daeng Sutigna, seorang guru berpendidikan Belanda di Bandung, menciptakan angklung dalam tangga nada diatonis yang terdiri dari tujuh nada. Hal ini menandai lahirnya angklung modern. Kelebihan angklung ini adalah ia dapat membawakan lagu-lagu Barat klasik dan populer yang rata-rata bernada diatonis, sehingga dapat menjangkau selera musik masyarakat yang lebih luas.

Kini lagu yang dimainkan tidak lagi berkisar pada lagu-lagu tradisional, tetapi juga lagu-lagu klasik, lagu pop, new age, bahkan lagu rock. Dengan angklung modern, lagu rock melodius seperti We Are the Champion dan Bohemian Rapshody dari Queen dapat dibawakan oleh alat musik angklung!

Angklung "jenis baru" ini pertama kali diperkenalkan pa Daeng kepada sekelompok anak-anak pramuka. Setelah dipertunjukkan oleh murid-murid sekolah pada acara Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, angklung diatonis atau angklung modern ini semakin dikenal masyarakat hingga saat ini menjadi kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. Memang pada awalnya pak Daeng menginginkan angklung sebagai alat pendidikan. Mottonya adalah 5 M : Murah, Mudah, Menarik, Massal, dan Mendidik. Murah, karena bahan-bahan untuk membuat alat musik ini murah dan mudah didapat di Indonesia. Mudah, karena untuk memainkan angklung seseorang tidak perlu memiliki keterampilan khusus. Menarik, dilihat dari keunikannya bentuknya dan cara memainkannya. Massal karena untuk memainkannya melibatkan banyak orang. Dan Mendidik dalam arti alat musik ini memiliki unsur pendidikan selain musik.

Alat Musik Pendidikan dan Persahabatan

Untuk memainkan sebuah lagu sederhana, seseorang dapat memainkan satu set angklung sendiri, atau membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa orang (tergantung lagunya). Semakin kompleks aransemen sebuah lagu yang dimainkan, semakin banyak angklung dan pemain yang dibutuhkan. Disini unsur massal dari angklung berperan. Terlibatnya banyak orang dalam memainkan sebuah lagu, melatih para pemain menjadi peka akan musik, lagu dan bagian-bagiannya, dan juga mendidik mereka akanpentingnya kerjasama antar anggota kelompok yang memegang nada yang berbeda agar bersama-sama dapat menghasilkan musik yang indah dan harmoni.

Kemudahan dalam memainkan alat musik ini membuat banyak orang tertarik akan angklung. Karena sebuah angklung hanya menghasilkan satu nada, orang yang memegang angklung nada tertentu hanya memainkannya jika nada tersebut muncul dalam lagu. Cukup mengikuti instruksi dari konduktor, tanpa memerlukan keahlian musik tertentu. Karena kemudahan inilah, di acara-acara pertunjukan musik angklung, penonton sering ikut dilibatkan untuk bermain setelah pertunjukan utama selesai. Contohnya yang dilakukan di Saung Angklung Udjo, Bandung. Setelah pertunjukan yang dibawakan oleh anak-anak selesai, para penonton yang rata-rata wisatawan mancanegara diajak sama-sama bermain angklung, dan karenanya hubungan antara pemain dan penonton semakin dekat dan suasananya lebih bersahabat.

Kemudahan dan unsur persahabatan ini pula yang menjadikan angklung semakin diterima sebagai "duta musik" Indonesia di luar negeri. Musik angklung seringkali dipertunjukkan dalam acara pertukaran budaya Indonesia di luar negeri, dan kini bermunculan grup-grup angklung di berbagai negara. Angklung telah menjadi identitas bangsa dan duta musik Indonesia dalam menjalin persahabatan dengan bangsa lain. Maka tidak salah jika angklung disebut alat musik persahabatan.

Jika anda ingin mengetahui lebih jauh dan melihat lebih jelas tentang keunikan angklung, sempatkan untuk singgah ke Saung Angklung Udjo di jalan Padasuka, Bandung. Disana anda akan mengerti mengapa angklung dikatakan alat musik persahabatan.(DD)

sumber :

Keluarga Paduan Angklung 3
Can You Shake It? The Angklung of Southeast Asia by Prof. Kuo-Huang Han
Saung Angklung Udjo

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement