We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Apa Isi Surat-Surat Kartini?
Apa Isi Surat-Surat Kartini? E-mail
Pengirim: MD   
Rabu, 20 April 2005

Jika saya bertanya pada pengunjung homepage We R Mommies ini, pastilah mereka tahu siapa itu Kartini. Tetapi apakah mereka tahu isi surat-surat Kartini? Terkadang terbesit di benak saya mengapa tokoh-tokoh wanita lainnya seperti Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, tidak sepopuler Kartini?

Saya teringat pula cerita dari seorang mom yang berasal dari pulau Jawa seperti  Kartini berasal. Pada saat mendiskusikan topik “super mom” yang mengatakan bahwa neneknya adalah wanita yang hebat.  Pada masa penjajahan beliau sudah berkarir di luar rumah dan sukses di dalam rumah. Bahkan sang nenek menguasai  5 bahasa sekaligus.

Saya pun teringat akan nenek tercinta, yang pada masa penjajahan sudah mengenyam pendidikan tinggi walaupun dia adalah satu-satunya anak wanita. Bahkan nenek mampu bertahan menikah diatas usia 20 tahun yang saat awal tahun 1900 amat langka, keasikan berkarir katanya.

Hm.. ternyata ada juga wanita Indonesia yang pada jaman dahulu sudah maju, berpendidikan sukses sebagai seorang wanita, isteri dan ibu. Kalau saja tidak ada yang perduli untuk menerbitkan surat-surat beliau, mungkin tidak ada peringatan hari Kartini seperti sekarang ini

Semasa saya sekolah dulu, setiap menjelang bulan April, kesibukan di kelas bertambah. Kami sibuk berargumen siapa yang akan menjadi Ibu Kartini dari kelas kami? Tentu saja lengkap dengan kebaya dan sangul ala Kartini. Siapa yang akan ikut lomba pasang dasi, memasak nasi goreng, merangkai bunga, merajut, segala bentuk ketrampilan kejuruan. Sehingga pada tanggal 21 April, kegiatan belajar mengajar terhenti berganti dengan kegiatan perlombaan dan hiburan. Akhinya tanggal tersebut selalu dinantikan oleh kami, bebas dari pelajaran, walaupun makna dari peringatan tersebut tidak berarti buat kami.

Dan sekarang rupanya acara tersebut masih berlanjut, yang akibatnya orangtua terkadang dipusingkan oleh persiapan acara Kartinian.  Yang akhirnya malah terjadi pemborosan ekonomi bahkan hura-hura yang jauh dari harapan seorang Kartini.

Walaupun demikian, menurut saya Kartini yang telah banyak membawa perubahan bagi kemajuan pendidikan kaum wanita di Indonesia. Kartini mengajarkan bahwa seorang wanita harus mempunyai pemikiran jauh ke depan.  Kalau dulu beliau dapat memiliki sahabat pena dari berbagai kalangan yang menambah ilmu dan wawasannya, tentulah sekarang dengan kemajuan yang ada, apa harus disia-siakan? Apalagi sekarang sudah banyak kelompok-kelompok kewanitaan seperti halnya malinglist We R Mommies.

Dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang" tetapi menurut  Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) – mengartikan kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju Cahaya", tersirat siapa Kartini sebenarnya.

Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan sesorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. 

Seperti  ditulikannya kepada sahabat penanya,”Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.  Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar.

Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek- pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Sekarang ini menurut saya kenigratan itu masih berlaku, bahkan ada keningratan yang lain  yaitu ekonomi. Perekonomian membuat jurang pemisah diantara manusia tidak perduli itu saudaranya. Kalau dulu Kartini saja dapat menuruti perasaannya kenapa sekarang tidak yach?

"Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas- batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Kartini juga mengingatkan, mengajarkan untuk mencintai buku yang saat ini tentulah buku itu bukan menjadi barang istimewa.  Walaupun ada beberapa daerahyang warganya masih banyak buta huruf.  Tetapi untuk orang yang bisa membaca seperti saya, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca?

“Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga- tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

Kartini mengajarkan untuk menuntut ilmu tetapi jangan lupa mengamalkan ilmu tersebut. Wah ini yang terkadang sulit, ilmu sering hanya dijadikan komoditi. Jadinya hanya untuk memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan orang lain.

"Pergilah. Laksanakan  cita-citamu. Kerjalah  untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang  palsu tentang  mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Ternyata Kartini juga menginginkan saya sebagai ibu agar berpendidikan, agar kelak dapat mendidik anak-anak. Karena ditangan ibulah anak-anak pertama kali memperoleh pendidikan, bukan di tangan sekolah ataupun orang ketiga.

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan  itu  menjadi  saingan  laki-laki  dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum  wanita,  agar  wanita  lebih  cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan  alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Mudah-mudahan peringatan  Kartini,  tidaklah hanya sebatas mengenang lahirnya seorang perempuan bernama Kartini itu.  Mencoba menggali lebih dalam makna yang bisa dipelajari dan direnungkan untuk menjadi motivasi agar cita-cita untuk mendapatkan keadilan bagi sesama manusia terwujud.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement