We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Film arrow Die Geschichte vom weinenden Kamel (2003)
Die Geschichte vom weinenden Kamel (2003) E-mail
Selasa, 19 April 2005

The Story of the Weeping Camel

Seekor unta betina, setelah berjuang berhari-hari dan kesakitan, akhirnya berhasil melahirkan seekor anak unta putih. Tetapi malang tak dapat ditolak, sang unta betina, tidak mengenali anaknya sendiri, bahkan ia tidak mau didekati anaknya.

Sutradara dan skenario: Byambasuren Davaa dan Luigi Falorni
Bahasa: Mongolian
Rating MPAA:  PG (Perlu bimbingan orang tua)

Jalan cerita: film dokumenter ini bercerita tentang usaha keluarga penggembala di gurun Gobi untuk membujuk seekor unta betina untuk menerima anaknya.  Unta betina ini setelah mengalami trauma ketika melahirkan anak pertamanya, menolak untuk menyusui anaknya. Bahkan tampaknya ia tidak mengenali anaknya. Tentu saja keselamatan si anak sangat bergantung pada induknya, tanpa susu dari ibunya, mustahil anak unta dapat hidup. Berbagai cara telah dilakukan keluarga ini, akhirnya mereka kembali ke tradisi lama untuk membujuk ibu unta. Mereka mengundang pemain biola tradisional untuk melakukan upacara yang diharapkan dapat melunakan hati sang ibu unta.

Walaupun cerita utama film dokumenter ini mengenai unta, kita juga diajak untuk melihat kehidupan sehari-hari keluarga penggembala nomadik ini. Mereka masih hidup secara tradisional, jauh dari kenyamanan sehari-hari yang kita nikmati. Kehidupan mereka tampak sulit dan berat, tetapi mereka terlihat berkecukupan, bahagia, dan sangat dekat antara satu dengan yang lain.

Pada akhir dokumenter, kita dapat merasakan bahwa cepat atau lambat, kehidupan keluarga ini akan berubah. Apalagi setelah keluarga ini mengabulkan permintaan anak laki-laki mereka untuk membeli TV.  Sungguh sayang rasanya jika tradisi yang unik dan kaya ini suatu saat nanti akan hilang karena pengaruh modernisasi dan westernisasi.

Film dokumenter ini penuh dengan gambar-gambar pemandangan indah di gurun Gobi, selain itu dokumenter ini menyediakan pengalaman yang langka tentang bagaimana hal yang tampaknya tidak mungkin, membujuk unta dengan musik, ternyata memang terbukti manjur. Di akhir upacara, ibu unta menangis dan menerima anaknya.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement