We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Ekonomi Keluarga arrow Ulah Pembantu Baru
Ulah Pembantu Baru E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Jumat, 15 April 2005

Seorang mom di We R Mommies menuturkan pemasalahannya mengenai pembantu rumah tangga yang baru bekerja di rumahnya. “Aku baru punya pembantu, baru 3 minggu  ini, tapi sudah 2x pulang kampung, alasannya dia karena tidak membawa baju & mukena. Karena saat dia baru kerja di tempatku kebetulan lagi datang dapat tamu bulanan. Padahal aku sudah menyediakan  mukena buat dia. Lalu 2 minggu yang lalu diminta tolong oleh tanteku untuk  mencari teman yang ingin bekerja. Tanpa ijin dariku  2x dia pulang dengan menginap sampai 2 malam,padahal kampungnya tidak terlalu jauh. Walaupun jengkel, aku tetap menahan diri. Dia sendiri masih muda hampir 16 th, pengalaman pernah kerja di Jakarta. Dan kerjanya lumayan, bisa masak untuk dirinya sendiri, bersih dan tidak bau badan.

Karena dia baru aku kasih gaji rata-rata pembantu yang baru masuk, di tempaku berkisar Rp 200 – 250.000. Kaejanya hanya untuk bersih-bersih rumah saja. Sedangkan untuk anakku aku yang pegang, dari masak & makannya. Kecuali saat aku  mandi & sholat baru dia bantu menemeni anakku. Awalnya  aku tidak  terlalu memikirkan kelakuannya, tetapi beberapa hari terakhir ini aku jadi sedikit curiga.  Di komplekku  banyak security-nya masih muda-muda. Jadi kebiasaan aku & suami memberi mereka kopi, mie instan & rokok pada malam hari.Biasanya hal ini kami lakukan saat suamiku  ada di rumah. Atau jika suami di luar kota, terkadang aku minta pembantuku untuk menawarkan kepada mereka.  Hal ini sudah aku utarakan juga ke pembantuku yang baru ini, kasih hanya malam hari tetapi tidak tiap hari. Soalnya kalau tiap hari bangkrut, securitynya tidak hanya satu orang.

Saat aku cek persediaan mie instan & telor di lemari pendingin, ternyata dratis sekali berkurangnya. Padahal selama ini aku belum pernah melihat pembantuku menyediakan kopi, mie  di malam hari. Lalu iseng-iseng aku cek tempat sampah, dan aku lihat ada bungkus mie & telur. Padahal dia sudah masak komplit, ada ayam, sayur,tempe. Padahal aku tidak pernah makan malam, dia masak buat dirinya sendiri.

Bukannya aku berpikiran yang tidak-tidak. Tetapi aku jadi mikir, kalau dia kasih makan dan minuman ke security siang hari, kenapa tidak pernah mengatakannya ke aku. Padahal aku sudah kasih tahu kasih itu pada malam hari saat aku atau suamiku ada di rumah. Apa yang harus aku lakukan? Ingin bertanya tetapi tidak ada bukti bahwa dia memberikan security makan dan minum pada siang hari. Aku juga  takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena kemarin dia janjian dengan salah satu security tetapi saat aku tanya namanya dia pura-pura tidak tahu namanya. Padahal mereka ngobrol akrab masa tidak tahu namanya. Aku tidak  pernah melarang dia bergaul dengan  PRT tetangga & security, asal pekerjaannya sudah selesai. “

Tanggapan datang dari seorang mom yang menurutnya, sebaiknya menanyakan langsung kepada pembantu tersebut. Jika dia mengakui dan meminta maaf, tidak ada salahnya diberikan kesempatan kedua.  Mom ini pun mengutarakan pengalamanya dengan pembantu baru. “Sebulan yang lalu aku dapat PRT baru mengasuh anakku. Baru lulus SMP 15 tahun, dan tidak bisa apa-apa, sebut saja A.  Aku maklum saja, lagipula  masih bisa diajarin. Aku juga masih ada PRT  (B) lagi yang tugasnya mengurus rumah dan anakku juga.  Kebetulan dia mampu menangani keduanya, karena ikut aku sejak aku belum menikah.  Pembantu baruku diajarin oleh pembantu lamaku, tetapi 1-2 hari tidak ada perubahan. Sehabis cuci baju anakku kerjanya ngelus ngelus kukunya yang panjang. Kalau anakku keman-mana dibiarkan saja, katanya takut anakku rewel. Inginya nonton TV saja. Kerja kalau dia lagi mood.  Lalu tidak sengaja aku dapat  pembantu baru C. Terpaksa pembantu yang baru A yang kerjanya baru seminggu aku keluarkan.”

Lain halnya tanggapan dari seorang mom yang selalu mengunakan PRT semasa kecilnya. "Kebetulan aku produk orangtua sibuk sehingga peran PRT sangat besar di dalam membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ibuku memutuskan pensiun dari menggunakan PRT setelah anak-anaknya bekerja dan mandiri, itupun setelah melalui masa transisi.

Sekian lama dengan jasa bantuan PRT di rumah orangtua, banyak hal yang aku pelajari dari pengalaman ibuku. Sebagian dari pengalaman itu menyadarkan  diriku bahwa tanggungjawab menyelesaikan pekerjaan rumah tangga bukanlah pada PRT tetapi pada keluarga inti dan terfokus pada ISTRI/IBU sebagai manager dan atau pengelolanya, tentu saja dengan dukungan suami dan anak-anak. Sekian lama dengan bantuan jasa PRT, alhamdulillah berlalu dengan kesan dan hubungan yang baik antara keluargaku dengan PRT-PRT yang pernah bekerja di rumah orangtua. Aku sendiri memilih tanpa PRT, dengan berbagai pertimbangan terutama karena aku memilih menjadi full-time IRT, apalagi kebetulan sekarang menetap di luar negeri.

Sewaktu di Jakarta, kebetulan aku sering membantu expat menengahi domestic problem terutama yang berhubungan dengan PRT, supir atau karyawan mereka.

Intinya yang ingin aku sampaikan:
1. Ada pergeseran sosial dan moral serta tanggung jawab PRT di jaman  orangtua kita dibandingkan dengan PRT profesional saat ini. Bila PRT  jaman kita kecil dulu banyak yang lebih mengabdi dan "tidak macam- macam", sehingga hubungan antara keluarga dan PRT bisa lebih bersifat hubungan kekeluargaan. Sekarang ini, dengan berbagai demand akan profesionalisme kerja, meningkatnya pendidikan PRT dsb, ada sisi positif dan negatif untuk keduabelah pihak. Gap kepentingan inilah yang sering memicu ketidakpuasan dan masalah di antara keluarga dan PRT.

2. Masalah yang umum terjadi: (hanya contoh kasus)
Dari segi PRT :
- melanggar  perjanjian kerja : tidak bekerja sesuai deskripsi dan waktu kerja yang disepakati bersama.
- melanggar norma susila : membawa masuk "teman" saat tidak ada  keluarga di rumah, melakukan perbuatan a-susila di rumah majikan, "menggoda" suami saat istri keluar rumah,  menonton/memutar BF di rumah saat majikan keluar rumah, kadang  di depan anak-anak dst.
- melakukan perbuatan kriminal : mengambil barang/benda/harta benda yang bukan miliknya, menjual barang milik majikan, memalsu nama majikan untuk menghasilkan keuntungan bagi dirinya dst.
- berbohong : ini yang paling sering terjadi: berbohong dengan berbagai dalih, agar mendapat izin pulkam, mendapat pinjaman uang, mendapat kenaikan gaji dll, bahkan dengan memakai orangtua/ keluarga/ palsu yang dipakai untuk menutupi kebohongannya.

Dari segi majikan:
- melanggar perjanjian kerja : tidak membayarkan gaji seperti yang disepakati, tidak memberikan libur/bonus gaji seperti yang disepakati bersama.
- melanggar norma susila: sexual harrassment dst
- melakukan perbuatan kriminal : tindakan kekerasan, dan violence, tidak membayarkan gaji sama sekali,'mengurung" PRT di dalam rumah dst
 
3. Alternatif solusi:
a. Selektif dalam memilih PRT
b. Berikan job-deskripsi yang jalas pada waktu wawancara, sekaligus mengenai hal-hal yang sensitif, yang berkaitan dengan policy di dalam keluarga. Beri penjelasan mengenai hal-hal yang diminta oleh keluarga untuk dilakukan PRT, dan yang tidak ingin dilakukan oleh PRT. Beri penjelasan mengenai konsekuensi dari pelanggaran kesepakatan kerja bersama tersebut, misalnya potong gaji, atau potong liburan atau bahkan pemberhentian, setelah melewati tempo probation atau warning period atas pelanggaran hal tertentu. Sebaliknya, beri juga penjelasan bahwa ada benefit seperti bonus lebaran, bonus liburan atau bonus lain yang diberikan untuk achievement kerja tertentu.

Contohnya: Mom A yang diberi mandat penuh oleh suami mengenai segala hal di dalam rumah, menginginkan PRT yang menginap, dengan job-deskripsi: memasak, bersih-bersih rumah dan mencuci- menyetrika. Sejak awal Mom A tidak begitu suka PRT yang suka mengobrol ditelpon dengan temannya. Sehingga, hal ini diterangkan pada saat wawancara. Mom A juga tidak suka PRT menonton TV bersama keluarga saat malam hari, ia menyediakan TV untuk PRT di dalam kamar PRT sendiri.

Pada kenyataanya, setelah melewati masa percobaan, PRTdan Mom A   merasa cocok bekerja sama satu sama lain, sehingga penerapan kontrak kerjanya jauh lebih fleksibel dan kekeluargaan. misalnya: PRT diizinkan menonton bersama keluarga saat acara lawak misalnya, makan bersama saat-saat tertentu, boleh menerima telpon dari teman dan keluarga secara moderat, boleh menerima tamu dengan izin Mom A, PRT pun dengan suka rela menyiram bunga, membantu baby-sitting dst.

Mom A yang puas dengan kerja PRT yang tepat waktu, memegang janji, rajin, menjaga norma susila, adab dan tata krama di dalam rumah, sopan dan ucapan dan tindakan, dan menepati semua deskripsikerja yang diinginkan bahkan melakukan pekerjaan lebih, memberikan bonus kenaikan gaji, memberikan insentif lebaran, memberikan hadiah misalnya mengkursuskan PRT pada kursus yang diminati misalnya jahit, atau masak, bahkan menyekolahkan anak atau adik  PRT di tempat asalnya.

Ini cuma suatu gambaran saja, kembali kepada policy di dalam RT Mom sendiri, PRT seperti apa  yang Mom inginkan berada di dalam rumah Mom.

Keterbukaan dan TRANSPARANSI dan KEJUJURAN adalah modal utama di dalam mempekerjaakan karyawan dalam hal ini PRT.

Bukalah pembicaraan dengan PRT Mom, dan kalau belum sempat melakukan step-step seperti di atas, sekaranglah saatnya. Karena setiap perubahan kesepakatan kerja harus selalu dilakukan setiap ada perubahan kondisi yang baru. Kalau tercapai kesepakatan, berilah tenggang waktu bagi PRT (sekaligus mencari kandidat PRT baru), bila tidak ada perubahan yang memuaskan Mom Ienk dan PRT, saranku sebaiknya melepas PRT ini dan bersusah payah mencari PRT baru yang sesuai keinginan dan Insya Allah bisa menjaga amanat rumah Mom.

Mendapat masukan seperti diatas mom yang memiliki masalah dengan pembantu barunya dapat menyimpulkan bahwa beliau mungkin selama ini aku kurang memperhatikan detail-detai seperti yang sampaikan diatas.  Juga kurang transparan tentang apa yg aku harapkan.(MD/Wrm)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement