|
Halaman 1 dari 2 Rumah merupakan hal yang terpenting bagi kehidupan manusia di samping makanan dan pakaian. Jika diibaratkan kulit , rumah merupakan kulit ketiga manusia (kulit manusia sebagai kulit pertama, pakaian sebagai kulit kedua) yang perlu melakukan fungsi-fungsi pokok: bernafas, menguap, menyerap, melindungi, menyekat, dan mengatur (sirkulasi udara, kelembaban, dsb) Maka dalam membangun berarti menciptakan suatu sistem ekologis yang merupakan sistem mengatur hubungan antara mahkluk hidup dan lingkungannya, yang dinamis terbuka dan yang selalu mengatur hubungan antara bagian dalam dan bagian luar gedung tersebut.
Sayangnya, hampir semua gedung modern yang merupakan sistem tertutup menggunakan bahan sintetis atau bahan yang canggih seperti misalnya kaca atau aluminium yang tidak dapat bernapas dan menguap, dengan memakai penghawaan teknis (AC) daripada penyejuk udara secara alamiah atau pemakaian lapisan dinding serta langit-langit yang tipis dengan permukaan yang licin dan keras, sehingga tidak menyerap bising dan panas. Menyadari hal-hal tersebut maka perencanaan arsitektur, penentuan struktur gedung dan konstruksi, serta pemilihan bahan bangunan semuanya harus dilakukan dengan teliti dan penuh kepekaan karena kita membicarakan kulit ketiga manusia dan kualitas arsitektur.
Berikut ada beberapa patokan – patokan yang bisa diterapkan apabila kita berencana membangun rumah sendiri
1. Menciptakan kawasan penghijauan di antara kawasan pembangunan sebagai paru-paru kawasan
Maksudnya dalam membangun rumah sebaiknya ada minimal sepertiga lahan yang bebas bangunan untuk penghijauan. Hal ini mungkin dirasa sulit untuk kita yang tinggal di kota besar, di mana harga tanah sudah sangat mahal sedangkan kebutuhan kita akan rumah sangat besar. Maka solusinya adalah memaksimalkan sisa lahan yang ada untuk penghijauan selain itu juga membiarkan tanah untuk bernapas tanpa ditutup dengan beton atau plester. Untuk penghijauan sekitar rumah minimal ada tanaman yang ditanam di dalam pot atau menerapkan sistem tanaman gantung. Supaya tanah tetap bernapas kita bisa menanami keseluruhan sisa lahan rumput ataupun memilih menggunakan paving grassblock (paving yang bagian tengahnya berlubang untuk ditanami rumput).
2. Memilih tapak bangunan yang bebas gangguan geo-biologis
Maksudnya dalam memilih tapak (area) bangunan sebaiknya yang berada di daerah aman, bebas dari aliran air bawah tanah, bebas dari patahan (dislokasi) batuan di dalam tanah. Karena dengan adanya gangguan tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi penghuninya jika terus menerus tinggal atau hidup pada lahan di atasnya. Tentunya tidak mudah untuk mencari lahan yang benar-benar aman, karena gangguan geo-biologis yang asalnya dari dalam bumi hanya bisa dideteksi dengan alat. Sebagai awam kita dapat mencari informasi hal tersebut dari Dinas Tata Bangunan setempat, di mana terdapat peta yang dapat menunjukkan adanya aliran air bawah tanah maupun patahan/dislokasi dari dalam bumi. Atau dengan cara sederhana yaitu melihat kualitas tanaman pada suatu tapak/ lahan, bilamana tanaman mengalami gangguan pertumbuhan maka bisa dikatakan terdapat gangguan geo-biologis.
3. Menggunakan bahan bagunan alamiah
Bahan bangunan alam yang tradisional seperti kayu, batu, bambu yang tidak mengandung zat kimia yang berbahaya. Bahan bangunan modern seperti tegel, pipa plastik, cat, perekat, dan sebagainya mengandung beberapa zat yang mengganggu kesehatan. Kendala penggunaan bahan alami yang pertama pasti mahal, ke dua sudah sulit didapat, apalagi di kota-kota besar. Untuk solusinya kita bisa semaksimal mungkin memanfaatkan bahan alami yang ada. Sedangkan untuk penggunaan bahan bangunan yang mengandung zat kimia, sebisa mungkin dinetralisir dengan yang alami tadi, atau dapat juga diminimalisasi efek penguapan zat kimianya dengan tidak langsung menghuni rumah yang baru saja selesai difinishing. Supaya bau yang menyengat dari cat, politur, maupun zat perekat dapat hilang atau diminimalkan.
4. Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit yang mampu mengalirkan uap air
Maksudnya di sini sebisa mungkin bahan bangunan untuk dinding dan langit-langit terbuat dari bahan alami yang berpori untuk pernafasan dan penguapan bangunan.
5. Menggunakan ventilasi alami untuk menyejukkan udara dalam bangunan
Semaksimal mungkin di dalam rumah ada bukaan yang berfungsi untuk pengaliran udara dan tempat masukknya cahaya matahari. Luas bukaan minimal sepersepuluh luas lantai bangunan. Penggunaan AC sebisa mungkin dihindari. Sulit memang bila kita tinggal di kota besar yang panas dan sumpek mau tidak mau AC jadi suatu kebutuhan, tetapi tidak perlu juga seharian kita dalam ruang ber-AC. AC bisa digunakan seperlunya di waktu lainnya usahakan dengan buka jendela selebar-lebarnya untuk pergantian udara bersih.
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |