We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Dimana Sopan Santunmu Nak?
Dimana Sopan Santunmu Nak? E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Selasa, 12 April 2005

(bunyi  bel  apartemen)
Hallo,
- Ja hallo.
+ Haben Sie Pizza bestellt?  (Apakah anda  memesan  pizza?)
Nein,  leider habe ich nicht bestellt  (Sayangnya  tidak. Saya tidak memesan pizza)
+ Sie haben bestellt  und  zwar mit Salami und Pepperoni (Anda telah memesan pizza dengan salami dan pepperoni)
- Nein. Ich habe gar nicht bestellt (Tidak. Saya sama sekali tidak memesan apapun)
+ AAAAAAAA...!!! (Terdengar teriakan  yang teramat keras dan nyaring diikuti dengan sumpah serapah yang tak mengenakkan telinga)

Mulanya saya ingin marah karena adanya keisengan demikian. Terlebih saat itu saya sedang disibukkan dengan urusaan penulisan yang membutuhkan konsentrasi. Namun saat saya mengintip dari balik jendela untuk mengetahui siapa gerangan yang memainkan bel apartemen di rumah kami beberapa menit yang lalu, kemarahan saya langsung luntur. Malah muncul rasa prihatin pada segerombolan anak usia 5-6 SD yang berkumpul dan sedang asyik tertawa tawa di halaman depan gedung apartemen kami. Rasa kasihan disertai prihatin muncul di diri. Mengapa anak anak yang tidak bisa lagi dikatakan kecil tak memiliki sopan santun di lingkungan masyarakat seperti ini. Siapakah yang salah menjadikan mereka individu tak kenal bersopan santun dan berbudi pekerti mulia: sekolah, lingkungan ataukah keluarga mereka?

Setelah memakai mantel, saya menuju ke lantai dasar. Selain memang harus menjemput putra dari TK, sayapun sudah berniat akan sedikit "menceramahi" mereka. Sambil saling melempar kesalahan karena ketakutan, mereka berusaha mengelak dari keisengan yang tertangkap basah oleh saya. Sepuluh menit saya berdialog dengan mereka sambil sedikit menyampaikan ajaran moral yang mungkin sudah bukan jadi bagian yang penting keseharian anak-anak tersebut. Sudah tertebak bagaimana akhir kejadiannya, mereka meminta maaf kepada saya. Saya pun mengucapkan selamat tinggal sambil berpesan "Jangan lakukan sekali lagi !".

Hilangnya sopan santun di kalangan generasi muda di negeri ini, secara umum juga telah di rasakan oleh masyarakat. Terbukti dari hasil survey tentang tema sopan santun yang dilakukan oleh Allensbach, 87% responden memandang masalah sopan santun dalam pendidikan anak harus kembali menjadi prioritas di dunia pendidikan. Mereka merasakan bahwa nilai sopan santun telah semakin hilang dan pudar seiring munculnya generasi yang lebih muda. Survey survey sejenis pun banyak menghasilkan temuan yang tak jauh berbeda. Jangankan hasil survey, secara kasat mata pun kecenderungan ini dapat mudah teramati.

Trend hilangnya bertatakrama ini akan semakin terlihat jelas di institusi pendidikan dasar. Seorang anak yang mengumpat gurunya karena nilai yang ia peroleh tak memuaskan bukanlah satu pemandangan aneh disini. Bahkan tidak hanya sampai batas mengumpat, aksi teror fisik juga sering ditemui. Untuk hal yang kecil pun semisal pengucapan "maaf" dan "terimakasih" bukan lagi jadi hal yang umum didengar. Tak heranlah bila di beberapa institusi pendidikan dasar di negara ini telah memasukkan mata ajaran sopan santun sebagai mata ajaran yang wajib diikuti oleh para siswanya. Namun, apakah upaya tersebut sudah terbilang cukup untuk memperbaiki moral generasi muda yang umumnya sudah makin menyedihkan ini?.

Mengajarkan sopan santun pada anak memang bukanlah tugas dan pekerjaan yang mudah. Terlebih bila kita hidup di lingkungan yang kurang kondusif bagi anak untuk belajar bagaimana berbudi pekerti yang mulia. Metode pendidikan lama yang menggunakan ancaman dan tekanan "Kalau kamu tidak merapihkan...maka kamu tidak akan...." banyak terbukti kurang efektif menanamkan kesadaran bagi anak untuk berperilaku yang diharapkan. Ketaatan mereka biasanya hanya berbatas waktu dan jarak. Bila tak ada lagi sang orang tua di sisinya, maka mereka lepas dari perjanjian yang ada.

Belajar dari rumah. Ya, dari banyak literatur yang kebetulan saya baca tentang masalah ini, akhirnya semua menyimpulkan bahwa metode mempelajari sopan santun terefektif adalah melalui fungsi teladan orang tua di rumah. Bila orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak dalam hal sopan santun, maka anak akan mampu pula belajar berperilaku yang mulia. Karenanya tak usah kita berharap sang anak akan mudah mengucapkan "maaf" dan "terimakasih" bila kita sebagai orang tua juga jarang mengenalkannya pada anak di keseharian interaksi kita dengan mereka. Demikian pula halnya dengan kata kata sumpah serapah. Jangan pernah orang tua berharap agar sang anak mengeluarkan kata kata sopan dari mulut kecilnya bila kita sebagai orang tua malah mencontohkan kata kata cacian yang tak terkendali keluar dari mulut kita.

Hasil temuan penelitian ilmuwan pada otak manusia khususnya pada usia menyusui menyimpulkan bahwa sopan santun dipelajari melalui imitasi atau peniruan. Hal tersebut mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi kita sebagai orangtua untuk makin berhati hati dalam berperilaku . Anak umumnya senang sekali menirukan sosok yang ia kagumi. Pada anak kecil, tentu sosok yang dimaksud tak lain orang tua mereka. Dalam satu tahun pertama kehidupan, anak biasanya akan mengkopi mimik dan sikap yang orang tuanya contohkan. Dari penelitian tersebut juga disimpulkan bahwa dasar hubungan sosial yang ada banyak direkam pada satu tahun pertama kehidupan mereka. Karenanya amatlah bijaksana bila orang tua memanfaat seoptimal mungkin masa satu tahun pertama tersebut dengan mengenalkan jenis interaksi sosial yang baik, tentu melalui pemberian fungsi tauladan yang dapat dijadikan panutan.

Lepas dari hasil penelitian di atas, saya pribadi yakin bahwa pendidikan anak memang dimulai dari rumah, mau atau tidak. Seorang anak memang belajar dari modelling. Ia akan banyak mengamati bagaimana sang orang tua bersikap, dan biasanya akan ia serap perilaku serupa. Mendidik seorang anak memang membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Sehingga memang benarlah kiranya, bahwa mendidik anak tak dapat menjadi pekerjaan sambilan belaka. Mendampingi anak belajar kehidupan pun bukan seperti mengikuti air mengalir tanpa ada upaya yang direncanakan dan dipertimbangkan. Karenanya memang tak heran, bila orang tua harus belajar dan terus belajar untuk menambah ilmu mendidik anak yang rasanya tak akan pernah cukup dimiliki. Bagi saya pribadi, sayapun harus makin banyak berkaca diri agar dapat selalu memperbaiki diri dan emosi, sehingga nantinya dapat menjadi tauladan yang baik bagi anak anak kami. Namun, memang sulit nian untuk menutup lubang kekurangan dengan tambalan kebaikan. Ya memang benar tak mudah. Namun, mungkin untuk dilakukan walau dengan usaha dan kerja yang teramat keras.

+ Di mana sopan santunmu nak?
- Contohkan kami bersopan santun ayah dan bunda..
+ (ohhh sulitnya anakku menjadi orang tua, tapi akan ayah dan bunda coba..) (dai)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement