We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Info Tempat arrow Bila Si Kecil Mulai Suka Lawan Jenis
Bila Si Kecil Mulai Suka Lawan Jenis E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Kamis, 07 April 2005

Anakku perempuan (5 tahun) sekarang sedang senang sekali menonton sebuah film kartun di TV. Katanya dia suka karena lakonnya perempuan ABG (5 orang). Lantaran khawatir, aku berusaha mendampingi dia menonton dan melihat bagaimana jalan ceritanya, cocok atau tidak untuk seusia dia. Setelah aku perhatikan, filmnya sih  biasa saja, kejahatan melawan kebaikan. Walaupun lakonnya ABG dan ada teman laki-lakinya juga (4 orang), tapi tak ada pacaran-pacarannyanya, hanya sebatas teman yang bersama-sama memberantas kejahatan.

Tapi yang aku heran, anakku jadi suka dengan tokoh teman prianya (namanya Brandon), dan herannya dia koq malu-malu begitu ya setiap menyebut nama Brandon. Aku jadi bingung, mosok anak 5 tahun sudah kenal cowoq?  Awalnya dia main rahasia-rahasiaan. Ayah bundanya tak boleh tahu tentang si Brandon ini. Khawatir juga kan kalau sudah mulai main rahasia begini. Akhirnya aku coba untuk tidak melarangnya, tapi mencoba memahami kesukaannya itu, baru lah dia mau bercerita tentang Brandon. Waktu ayahnya bertanya kenapa dia suka Brandon, dia menjawab sambil malu-malu, "karena dia cakep?" Alamaak lebih bingung lagi aku jadinya.

Darimana dan kenapa ya dia jadi begitu? Padahal anak seusia itu hormonalnya untuk suka dengan lawan jenis belum ada mestinya. Dan  bagaimana aku harus menghadapi sikapnya yang malu-malu dan suka dengan si Brandon itu? Demikian cerita dan pertanyaan seorang mom mengenai permasalahan yang dihadapinya. Mari kita simak pendapat  mommies dalam menanggapi persoalan tersebut.

“Pengalamannya sama deh dengan anak perempuan saya, sekarang 6 tahun. Waktu dia masih 4 tahun, di preschool dekat rumah, dia suka sama temen cowoknya anak Korea, namanya Mingyo. Dia sih nggak pernah cerita, mungkin karena nggak menganggapnya istimewa. Gurunya yang bilang bahwa Bening sama Mingyo ini suka main kejar-kejaran terus. Waktu saya tanya, dia ngaku. Saya sih senyum aja. Katanya dia suka sama Mingyo soalnya dia 'cute' Setelah saya perhatiin, memang betul Mingyo ini beda dibandingkan anak cowok yang lain. Dia lebih gentle, nggak seperti teman cowoknya yang suka usil, rebutan mainan dan gebrak-gebrak meja” tulis seorang mom mengawali tanggapannya.

Mom yang tinggal di sebuah kota di Amerika Serikat ini melanjutkan ceritanya. Ketika anaknya pindah ke preschool yang lain, anak perempuannya itu naksir temannya, seorang anak Brazil yang bernama Jesus. Gurunya bercerita pada mom ini “ Bening nggak mau cuci tangan kalau Jesus belum cuci tangan, dan nggak mau mulai lunch kalau 'si dia' juga belum lunch” katanya. Suatu kali, lunchnya tidak dihabiskan. Waktu mom ini bertanya kenapa, anaknya menjawab “habis Jesus makannya juga nggak dihabisin” Jesus ini juga type anak yang gentle begitu.

Sekarang anak perempuannya sudah berumur 6 tahun. Waktu pindah ke kindergarten dia menangis karena tak bisa bertemu Jesus lagi. Tapi sekarang, setelah dia bergaul dengan lebih banyak teman, hubungannya dengan teman cowok juga makin rasional. Dia masih suka film princess, masih suka warna pink, tapi sudah tak suka naksir-naksiran lagi.

Menurut mom ini, orangtua sebaiknya jangan buru-buru men'judge'. Lebih baik orangtua berusaha menjadi teman ngobrolnya saja. Fase-fase seperti itu nantinya akan lewat, jadi tak perlu khawatir. “Bukan berarti anak kita 'genit' dibandingkan anak lain seusianya. Ingat nggak sih waktu kecil kita naksir sama Julian Lima Sekawan, atau Lucky Luke? Perasaan seperti itu memang nggak rasional, tapi yang pasti beda dengan perasaan seorang anak ABG yang naksir cowok kakak kelasnya, atau perempuan dewasa yg memang ingin cari suami. Anak-anak usia 4-6 thn itu, mungkin hanya simpati dan merasa aman aja, seperti menemukan figur prince di film kartun itu di dunia nyata” begitu tulisnya dalam sharingnya.

Saat mengakhiri pendapatnya, mom ini mencoba memberikan saran pada mommies agar memperhatikan sosok idola anak-anaknya dan melihat hal-hal yang menarik dalam diri idolanya tersebut. Dengan berkembangnya waktu dan bertambahnya teman anak-anak itu, perasaannya juga akan berkembang dan nantinya mereka akan semakin rasional.

Cerita salah seorang mom yang berdomisili di Jakarta ini lain lagi. Dia menceritakan pengalaman sepupu anaknya yang kini berusia 6 tahun. Kalau diajak bicara, anak ini bisa-bisanya menyebut ‘Rafdi adalah pacarku’. Lalu dengan bangganya dia membawa foto kelasnya dan menunjukkan yang mana Rafdi. Padahal kalau masalah cakep, yang lain masih ada yang lebih cakep. Tapi menurut dia, Rafdi itu cakep. Mungkin juga, Rafdi itu baik ke anak-anak perempuan, jadi menumbuhkan simpatinya ke Rafdi.

Sebagai contoh lainnya, mom ini punya teman sesama ibu di sekolah anaknya, yang bertemu saat mereka mengambil raport. Lalu, ibu itu bercerita tentang anak mom ini “ Wah..ibu, anakku apa-apa, kalo cerita anak cowok, pasti Vian. Katanya Vian itu anak laki-laki paling baik di kelasnya” Jadi sepertinya, yang membuat anak-anak perempuan kecil kita ini kesengsem, adalah anak laki-laki yang baik sikapnya, tak suka usil dan mengganggu. Pastinya mungkin kalau melihat sosok anak laki-laki tertentu ini, mereka merasa tentram. Jadi lebih kepada rasa simpati dan sikap barangkali. Mom ini juga sepakat dengan pendapat sebelumnya bahwa semakin besar dan banyak temannya, pemikiran anak juga akan lebih rasional.

Karena anaknya sendiri masih kecil, seorang mom menceritakan tentang pengamatannya terhadap keponakan-keponakannya saat mereka berumur 5 tahun. Menurutnya masalah seperti ini wajar-wajar saja, lantaran anak-anak seusia itu sudah makin pintar dan sudah punya "selera" sendiri terhadap apa pun. Entah makanan, mainan, teman bahkan tokoh-tokoh film, majalah, dan lain-lain.

Dari pengalaman pribadinya semasa kecil—saat seusia itu—dia ingat bahwa dia juga sudah punya rasa suka pada lelaki teman sekelasnya di TK. Tapi begitu tahu anaknya cengeng, dia langsung tak suka lagi.  Selain itu, dia dulu juga suka sekali dengan film-film western, bahkan lebih suka daripada melihat film-film kartun. Ada perasaan senang sewaktu melihat cowok-cowok macho. Padahal waktu itu dia ingat sekali usianya baru 5 tahun. Jadi menurutnya, hal semacam itu tak jadi soal  selama masih dalam batas wajar.

Pengalaman mom yang tinggal di Jepang ini mirip dengan mom sebelumnya. Karena kedua anaknya laki-laki, dia tak tahu bagaimana rasanya memiliki anak perempuan. Tetapi anak lelakinya yang pertama, memiliki banyak teman perempuan. Dia mengetahui hal ini dari cerita anaknya sendiri dan juga dari orangtua teman anaknya. Orangtua teman anaknya ini bercerita bahwa sewaktu  anak mom ini mudik ke Indonesia, anaknya (perempuan) berkata kalau dia kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak bermain karena anak mom ini tak ada katanya. 

Selain itu anaknya pernah berkata kalau dia suka dengan Suzu chan (temannya nobita di film Doraemon). Tapi karena memang anaknya jarang menonton film tersebut, jadi dia tak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Yang membuatnya sempat khawatir malah karena  anaknya suka bermain dengan teman wanitanya. Tapi lama-kelamaan anaknya bercerita juga tentang nama temennya yang diakhiri kun (panggilan untuk lelaki), sehingga kekhawatirannya hilang.

Salah seorang Mom yang juga tinggal di sebuah kota di Amerika sepakat dengan pendapat sebelumnya, untuk tidak perlu khawatir. Dari pengalamannya sendiri, anak lelakinya sering juga menyebut beberapa teman wanitanya. Istilah anaknya untuk teman wanita itu adalah ‘my girl pal’. Sesekali dia menyebut si Samantha yang cute, lalu Kristie, lain waktu dia menyebut Caitlyn. Dia juga memiliki 2 orang sahabat dekat laki-laki dan mereka membuat three musketeers. Dia katakan bahwa yang menjadi princess-nya adalah si McKella.

Belakangan ini, ceritanya berganti ke teman wanita lain yang bernama Alaina. Tiap pulang sekolah mereka duduk berduaan di bis. Lalu kalau  dia turun, Alaina ini pasti ikut-ikutan meyapa pasangan ibu dan anak ini, dan  say bye-bye juga. Dia bilang, Alaina anaknya lucu, senang cerita-cerita sepanjang jalan, dan senang membuat tebak-tebakan.

Pernah suatu ketika anak mom ini jatuh di sekolah sampai pelipis-nya robek. Besoknya  sewaktu dia antarkan anaknya masuk sekolah, begitu masuk kelas, teman-teman wanitanya langsung merubung anaknya untuk memberi consolation. Padahal si anak sudah tak tahan diperlakukan seperti itu, dan ingin segera bermain dengan teman-teman prianya. Selain itu, tiap mom ini mengantarkan anaknya ke kelas, selalu ada saja anak perempuan yang menanyakan ini-itu pada anaknya “Barangmu bagus banget, beli di mana? kamu pernah liburan ke situ ya? pernah ke sini ya?” dan berbagai pertanyaan lainnya.

Ternyata dari hasil obrolan dengan gurunya, anak mom ini termasuk penganut ‘lady first’ Kalau cuci tangan, selalu mendahulukan temen wanitanya, begitu juga ketika naik bis. Bila dia tahu dibelakangnya ada wanita, dia selalu memberi tempatnya ke teman wanita tadi. Mungkin karena itulah mereka senang padanya dan lantaran itu pula dia terpilih menjadi "The Gentleman of the United States" di kelasnya.

Komentar terakhir datang dari seorang mom yang mempunyai pengalaman menarik sewaktu anak lelakinya berusia 5 tahun. Anak lelakinya berkata bahwa dia mempunyai girl friend di sekolah, bahkan dia bertanya “May I kiss her mom?” Saat itu mom ini bingung juga menjawab pertanyaan anaknya. Lalu dia balik bertanya"Why do you want to kiss her?" Ternyata jawaban si anak makin membuat mom ini panik "Because I love her" jawabnya. Sejenak mom ini terdiam dan berpikir keras lantaran bingung harus memberi tanggapan apa. Lalu terjadi diskusi lebih lanjut  "You mean,you like her?" Tak tahunya si anak malah menjawab "No mama, I love her, like you love Daddy" Wah kontan saja mom ini semakin panik mendengar jawaban seperti itu. Lantas dia menjawab
 "There is nothing wrong with love...you have to love your friends because God love all of us. But you don't have to kiss her just because you love her. Just be good to her. Okay?"

Anak lelakinya terdiam sejenak mendengar jawaban tersebut, seperti tidak puas tampaknya. Tapi akhirnya dia berujar "Okay, maybe I better kiss you" Betapa leganya hati mom ini mendengar jawaban anaknya. Tapi sejak itu, setiap kali bertemu dengan anaknya—pertemuan hanya 3 atau 4 bulan sekali karena dia tinggal di Brunei bersama Papanya—dia selalu bercerita tentang "Girl Friend" yang berbeda. Misalkan saat ini bercerita tentang Michelle, lain waktu dia bercerita tentang Leony, dan seterusnya. Ternyata teman-teman wanitanya itu hanya teman dekat dia saja di sekolah, yang kebetulan cantik, menyenangkan, dan tidak cengeng kalau diganggu teman-teman pria.

“Jadi, kita tak perlu khawatir, anak-anak kita hanya menemukan figur teman yang menyenangkan aja, mereka belum bisa membedakan "girl Friend" sebagai teman atau sebagai pacar. Mereka hanya ngikutin istilah yang lagi trend di sekolah aja. Dulu juga kita gitu kan? Cuma bedanya, anak-anak sekarang memang lebih cepat perkembangannya ketimbang kita. Karena TV sekarang juga udah aneh-aneh aja isinya” papar mom ini mengakhiri tanggapannya

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement