|
Sebuah cerita dari kota Jaipur, di negara bagian Rajasthan ,India atau juga dikenal sebagai "Pink City" yang jaraknya sekitar 200-an kilometer dari New Delhi .
"Pink City" karena di kota ini ada sebuah kompleks Istana para Maharaja India dari Kachawaha Klan, yang terdiri dari belasan bangunan megah, taman-taman bunga yang indah , gerbang-gerbang tinggi dengan ukiran-ukiran yang mengagumkan . Dan uniknya hampir seluruh bangunan yang ada , dinding-dindingnya didominasi dengan warna merah muda.
Di sebuah pojok kota tua inilah, Rahim Khan tinggal. Rahim Khan atau juga sering disebut Habib Miyan, seorang laki-laki tua yang tinggal di daerah kumuh di pinggiran kota Jaipur ini. Seorang laki-laki tua yang sangat pandai bercerita tentang kisah-kisah masa lalu, hingga rumahnya yang sempit dan kotor di daerah perkampungan Muslim , selalu jadi tempat berkumpul para tetangganya di setiap sore hari.Sebuah rumah bertingkat 3, namun sesak ditinggali oleh 32 orang keluarga dekatnya. Sebuah rumah tua, dengan saluran pembuangan air kotor terbuka, tepat di depan pintu masuk.
Namun semua itu tidaklah membuat tetangganya, terutama anak-anak kecil enggan datang ke rumahnya. Apalagi walau sudah tua, ingatannya yang cukup tajam dan kepandaiannya bercerita, membuat anak-anak ini betah berjam-jam duduk mendengarkan cerita sang kakek ini. Dengan asyiknya mereka akan mendengarkan cerita tentang raja-raja dan ratunya, para pahlawan serta kisah cinta mereka, yang diceritakan si kakek dengan gaya yang cukup meyakinkan.
"Ingatannya sangat tajam, cerita-ceritanya sangat detil, bagai baru saja dilalui beberapa waktu lalu ," kata salah seorang cucunya , tambahnya lagi ," tapi jangan minta beliau bercerita hal-hal yang baru saja dilakukannya, ingatannya yang sepertinya sangat tajam, sering hilang dengan seketika ".
Saat mendengar cerita sang kakek ini, sebagian besar para pendengarnya mungkin lupa bahwa Habib Miyan, sang kakek tua ini sebetulnya sudah kehilangan penglihatannya sejak 50 tahun lalu. Hingga sebetulnya kakek tua ini juga adalah seorang kakek buta.
"Ketika saya masih muda, tidak ada telepon, suratpun bisa berminggu-minggu baru sampai ke tempat tujuan, kami tidak bisa berkomunikasi seperti kalian semua", katanya kepada para sanak saudara yang mengelilingnya.
Walau begitu, semua ini tidak membuatnya menjadi tergantung pada cucu-cucunya ataupun menjadikannya pemalas. Dia tetap melakukan hampir segala hal kebutuhan pribadinya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Malah masih menyempatkan membantu anak cucunya dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak banyak membutuhkan ketajaman mata. Apalagi walau sudah lama pensiun, tapi hingga kini dia masih menerima pensiun setiap bulannya, yang walau jumlahnya kecil , tapi cukup untuk membiayai kebutuhan dirinya sendiri. Kadang malah berlebih sedikit, hingga masih bisa dibaginya sedikit-sedikit pada cucu-cucunya.
Juga dia dikenal orang-orang sekelilingnya sebagai seseorang yang sangat taat beribadah. Sejak muda dibiasakannya melakukan shalat lima waktu dan segala macam bentuk ibadah lainnya. Dan juga kakek tua ini juga rajin mempelajari agama Islam, walau dengan kemampuan fisik yang terbatas. Itu sebabnya, selain didatangi untuk didengarkan ceritanya, Habib Miyan juga sering didatangi para tetangganya khusus untuk ditanyai pendapatnya untuk hal-hal yang berkaitan dengan masalah agama.
Dengan gayanya yang bijaksana dan penuh pengalaman, didengarkannya keluhan orang-orang ini. Lalu perlahan-lahan dibantunya mereka mencari jalan dari persoalan-persoalan tersebut. Kadang sambil diselinginya sedikit nasihat di sana-sini, yang diambilnya berdasarkan pengalamannya yang luas. Dengan pendekatan inilah, Habib Miyan juga akhirnya selalu dijadikan salah satu penasihat permasalahan sanak saudara dan tetangga-tetangga di daerah tersebut.
Sepertinya, walau dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, Habib Miyan adalah seorang lelaki tua yang memiliki segalanya. Dikelilingi anak cucu yang menyayangi dan selalu siap membantunya, tetangga-tetangga kiri kanan yang menghormati dan selalu menunggu-nunggu nasihat dan ceritanya , sebuah tempat berteduh yang cukup nyaman walau tidak begitu bagus, dan juga penghasilan yang cukup untuk dirinya sendiri. Semuanya ini selalu disyukurinya terus-menerus, terbukti dalam shalat-shalatnya selama ini, selalu tidak lupa diselesaikan dengan doa bersyukur yang cukup panjang. Keikhalasan ibadah-ibadahnya ini terpancar di wajahnya, yang walau sudah penuh dengan kerutan tapi terlihat sejuk dan tenang.
Namun, ada satu hal yang masih terus menerus mengganggu hatinya, dan ini selalu diutarakannya berkali-kali kepada anak cucunya. Yaitu keinginannya untuk menunaikan ibadah Haji ketanah Suci di Saudi Arabia.
Keinginan yang sudah sangat lama dipendamnya, sejak dia masih muda. Keinginan yang tidak pernah pudar dari hatinya, walau kehidupan keras mesti dijalaninya selama bertahun-tahun. Keinginan yang selalu diutarakannya kepada istrinya, kemudian anak-anaknya dan akhirnya cucu-cucunya. Bahkan ketika istrinya meninggalpun, mimpi itu tetap terpendam di dalam hatinya. Juga saat satu demi satu anak-anaknya menghadiahinya dengan cucu-cucu, hingga sudah belasan jumlahnya sekarang.
Anak-anak dan cucu-cucunya serta sanak saudara yang ada disekelilingnya hanya bisa menghela nafas saja, bila sang kakek lagi-lagi mengutarakan keinginannya menunaikan ibadah Haji ini. Karena memang mereka tidak bisa berbuat apa-apa , dengan kondisi ekonomi mereka sendiri yang pas-pasan. Walau mereka tahu bahwa sang kakek ini juga rajin mengumpulkan sedikti sisa pensiunnya setiap bulan, tapi apa mau dikata, ongkos berHaji makin lama makin tinggi. Hingga sudah berpuluh-puluh tahun menabung, tidak juga kesampaian mimpi sang kakek tua ini. Dan anak dan cucunya tidak ada yang bisa menolong, mengingat kondisi ekonomi mereka sendiri juga belum memadai.
Tapi hal ini tidak membuat Habib Miyan putus asa. Tidak lupa selalu dipanjatkan doa syukurnya dalam sujud-sujudnya , disambung dengan doa permintaan kalau-kalau Allah SWT, mau memberikan rejeki sedikit, hingga sebelum meninggal dia masih diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah Haji ini.
----II---
Hingga akhirnya suatu saat, seorang wartawan dari surat kabar lokal, yang mendengar cerita tentang dirinya-- seorang kakek tua yang bijaksana, namun belum berhasil menuaikan keinginannya berHaji-- akhirnya tertarik untuk membuat sebuah cerita kecil tentang Habib Miyan ini. Setelah melakukan wawancara beberapa jam, dan dibantu informasi tambahan dari sanak saudara Habib Miyan yang mengelilinginya saat wawancara, berhasil jugalah sang wartawan membuat sebuah artikel kecil tentang kakek tua ini.
Singkat cerita, artikel ini dimuat di surat kabar ini , di pojok halaman dalam. Namun demikian, tidak disangka banyak orang yang membaca dan tertarik mengetahui lebih jauh. Karena banyak permintaan dari para pembaca, akhirnya dibuat artikel lanjutan tentang kakek tua dan buta ini. Kebijaksanaan, keluguan dan mimpinya yang tidak pernah pudar inilah, rupanya menarik perhatian banyak pembaca. Dan akhirnya banyak orang yang menyatakan diri ingin membantu membiayai perjalanan Haji Habib Miyan ini.
Makin lama sumbangan berdatangan dari mana-mana, dan akhirnya malah menarik para wartawan dari BBC News Online untuk melakukan wawancara khusus dengannya. Apalagi ternyata sang kakek ini juga pandai bercerita,dan ternyata sebagian besar cerita-ceritanya dialaminya sendiri. Hingga menjadikannya pribadi yang unik, yang cocok untuk menjadi bahan tulisan dan berita para wartawan.Juga dengan adanya kenyataan walau umurnya cukup tua, tapi tetap tidak membuatnya patah semangat dalam mengejar mimpi-mimpinya , menjadikannya bahan cerita yang menarik bagi banyak para pembaca.
Dengan adanya wawancara dari BBC News Online inilah, Habib Miyan menjadi populer, dan akhirnya makin banyak orang yang tertarik membantu merealisasikan mimpi kakek tua yang bijaksana ini.
Bahkan akhirnya seorang Direktur Perusahaan dari Inggris, asal India dan seorang supir taksi India yang juga tinggal di Inggris , setelah membaca artikel tentang Habib Miyan ini di BBC News Online , bertekad bagaimanapun caranya mereka akan membantu kakek tua ini untuk berHaji awal tahun 2005 ini. Kedua-duanya betul-betul melaksanakan janjinya, walau masing-masing belum mengenal satu sama lain sebelumnya. Sang Direktur mengirim jumlah cukup besar, cukup untuk menutup kekurangan dari dana yang sudah terkumpul. Sedang sang supir taksi, malah merelakan simpanan uang yang tadinya akan digunakannya sendiri untuk berHaji tahun 2005 ini. Kemudian seorang pemilik perusahaan lainnya yang berkebangsaan Amerika, juga mendengar cerita ini. Langsung dikirimkannya sejumlah dana untuk membantu kakek tua ini.
Akhirnya dana yang terkumpul bukan hanya cukup untuk membiayai perjalanan Haji Habib Miyan, tapi dana ini juga cukup untuk membiayai ongkos Haji 2 orang cucu dan seorang anaknya yang akan menemaninya kesana.
---II--- Desember 2004 , Jaipur sepagian diguyur hujan yang cukup deras. Walau kini sudah mereda, tapi udara dingin yang tertinggal masih terasa masuk ke pori-pori kulit. Tengah hari, diantara suara adzhan shalat Jum'at , Habib Miyan sedang bersiap-siap pergi untuk bershalat Jum'at ke mesjid yang tidak jauh dari rumahnya. Sambil menunggu cucu-cucunya siap, dicobanya memasang topi Haji yang baru dibelikan anaknya. Topi ini adalah salah satu dari banyak barang baru yang dibeli anak-anaknya dan juga hadiah dari orang-orang sekitarnya, sebagai bahan persiapan naik Haji bulan berikutnya. Terlihat jelas kegembiraan di wajah tuanya yang berkeriput. Seperti anak kecil layaknya, saat dicoba-cobanya tutup kepala itu.
"Saya baru saja menerima surat dari Komite Haji India , bahwa segala persiapan untuk kesana sudah beres, dan kami tinggal berangkat ", katanya sambil tersenyum-senyum gembira. "Semua persiapan juga sudah lengkap, hanya kami masih harus membeli beberapa baju tambahan dan bahan makanan seperti tepung terigu untuk membuat Roti dan lentil . Katanya di Saudi, harganya mahal, jadi lebih baik membawa dari sini". "Anak - anak muda itu (sang Direktur , pemilik perusahaan di Amerika dan supir taksi ) sudah membantu saya menghadap Allah SWT, karenanya semoga mereka selalu dilimpahi karunia dan rejeki. Amiin..."' katanya lagi.
---II---
Pertengahan Januari 2005, di hotel dekat Masjidil Haram, Habib Miyan sedang beristirahat sebelum memulai ritual Hajinya. Orang-orang yang mendengar ceritanya, banyak yang menyempatkan diri menemuinya. Walau tampak masih lelah setelah melalui perjalanan panjang dari India ke Saudi Arabia, tapi dilayaninya dengan ramah salam dan obrolan orang-orang yang ingin menemuinya. Disela-sela mata tuanya, tampak kegembiraan luar biasa yang tidak bisa ditutupi. Berkali-kali dikatakannya kepada orang disekelilingnya, bagaimana terharunya dia dan seperti bermimpi rasanya bisa menginjak Tanah Suci ini. Doa dalam sujud-sujudnya yang dilakukan bertahun-tahun, akhirnya terkabul juga.
" Itu bukti bahwa Allah SWT. selalu mendengar permintaan hambaNya", katanya lagi.
---II---
Senin , 9 February 2005, di ruang tunggu lapangan udara Jaipur , sudah sejak pagi menunggu ratusan orang. Mula-mula mereka menunggu dengan sabar, tapi makin siang mereka makin gelisah. Rupanya mereka adalah rombongan penjemput kakek Habib Miyan , yang pesawatnya seharusnya mendarat 2 jam lalu. Ternyata karena ada sedikit kesalahan teknik, pesawat ini terhambat di lapangan udara New Delhi. Namun akhirnya mejelang tengah hari, pesawat yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua orang , para penunggu ini berdesak-desakkan menunggu di pintu keluar penumpang pesawat.
Tidak lama terdengar sorak sorai bergemuruh, setelah mereka melihat sosok Habib Miyan yang tertatih-tatih keluar dari pintu , sambil memegangi tongkat dan digandeng cucunya. Peluk cium dan sedu sedanpun mewarnai penjemputan ini. Semua orang berlomba-lomba memeluk, memegang bahkan menciumi tangan sang kakek. Terutama para cucu , yang mulai kangen karena ditinggalkan kakek tercinta , selama hampir sebulan penuh. Belum lagi kilatan lampu kamera dari banyak wartawan lokal maupun wartawan luar negeri, yang berdesak-desakkan berusaha mendekati Habib Miyan, dan berusaha sesegera mungkin mendengar sepatah dua patah kata dari mulut kakek tua ini.
Habib Miyan sendiri sepertinya agak terkaget-kaget melihat sambutan yang luar biasa ini. Walau sejak ceritanya ditampilkan di koran dan majalah, beliau juga sudah sempat juga merasakan perhatian banyak orang, tapi sambutan luar biasa saat kepulangannya dari perjalanan Haji ini sungguh tidak diduganya Dengan tertatih-tatih, dibantu cucu - cucunya, dicobanya menerobos kerumunan banyak wartawan ini. Walau tampak lelah, lagi-lagi senyuman itu tidak lepas-lepas dari bibirnya. Jawabnya singkat-singkat saja, setiap kali para wartawan ini menanyainya bertubi-tubi Alhamdulillah..... Alhamdulillah... Allah Maha Besar...Allah SWT selalu mendengarkan doa-doa hambaNya ".
---II---
Rahib Khan, atau juga yang sering disebut sebagai Habib Miyan, seorang lelaki tua yang tinggal di daerah kumuh di pinggiran kota Jaipur, negara bagian Rajasthan, India. Seorang laki-laki tua yang sangat pandai bercerita kisah-kisah masa lalu, hingga rumahnya yang sempit dan kotor di daerah perkampungan Muslim, selalu jadi tempat berkumpul tetangganya di setiap sore hari. Kisah-kisah masa lalu tentang Raja-raja dan Ratu-ratu , para pahlawan serta kisah cinta mereka. Kisah-kisah yang dihapalnya dengan baik, karena sebagian besar dari para raja dan ratu ini hidup sejaman dengannya. Atau dengan kata lain, Habib Miyan hidup sejaman dengan hampir 4 generasi para Raja dan ratu serta keturunannya ini.
Rahib Khan atau Habib Miyan , yang uang pensiunnya sebulan hanya sekitar 1,900 rupee , dan sudah diambilnya sejak dia pensiun tahun 1938.
Rahib Khan atau Habib Miyan, kakek bijaksana yang tidak pernah lupa berdoa dalam shalat-shalatnya agar cita-citanya berHaji dikabulkan Allah SWT suatu saat, walau banyak orang yang tidak percaya mimpi kakek yang sudah sangat tua ini akan menjadi kenyataan.
Apalagi karena dalam buku Catatan Pensiun-nya menyatakan umurnya sudah 125 tahun ( walau katanya sendiri umurnya jauh lebih tua, tepatnya lebih tua 7 tahun, atau sekitar 132 tahun ).
Rahib Khan atau Habib Miyan, yang ketika di Mekkah dan Madinah jadi kebanggaan banyak orang, hingga kemanapun beliau pergi orang-orang selalu mengunjungi dan membawakan makanan dan segala macam hadiah untuknya.
Apalagi dalam catatan sejarah, Habib Miyan adalah Orang terTua yang Menunaikan Ibadah Haji selama ini, Kakek Tua Bijaksana yang selama 100 tahun bermimpi untuk naik Haji. Subhanallah...Maha Besar Allah.
oleh : Dwitra Silvana Zaky Reston, Februari 2005 It is not about how Big Your Dream is, but it is about How Long You Can Dream Big.
|