|
Anak tetatanga ada yang agresif atau suka mukul. Kebetulan dia seumuran sama anakku (13 bulan) jadi seringnya main sama anakku. Masalahnya jika bertemu anakku, dia inginnya langsung mukul, tidak ada angin tidak ada hujan. Aku terkadang ingin marah, karena ibunya hanya bilang jangan tanpa mencegah.
Heran lagi anak tersebut (laki-laki) jika melihat anakku dari jauh langsung menghampiri dan bersiap akan memukul. Jadi aku suka bawa anakku pergi begitu melihat anak itu muncul. Tetapi kan tidak bisa begitu terus, nanti ibunya tersinggung. Pernah anakku sampai stres dan kalau meliat dia jadi teriak-teriak dan bahkan anakku ikut-ikut mukul tanpa sebab. Padahal jika dipukul anak tersebut akan membalas lebih keras lagi dan berkali-kali.
Aku tidak ingin anakku jadi ikut-ikutan suka mukul. Sementara ini anakku jarang aku ajak jalan keluar tetapi sampai kapan? Ingin rasanya aku memberi tau anak tersbut tetapi ibunya menganggap wajar kalau anak lelaki suka mukul. Bagaimana solusinya?
Berikut tanggapan Moms WRM:
- Memang paling menyebalkan jika anak kita dipukul lawan mainnya. Dan LEBIH SEBAL LAGI karena anakku tidak pernah membalas. Sampai aku tegaskan pada anakku balas mukul, tetapi jangan mukul duluan. Kalau perlu lebih keras dan sakit. Tapi mereka tidak pernah membalas, diam saja atau nangis. Tapi kalau temen yang mukul sekali-sekali becanda oke lah, cuman yang gawat jika mukulnya kayak histeris itu.
Sebal sekali kalau anak kita dipukul dan bertubi-tubi sama temennya (yang notabene anak temen sendiri) didepan mata kepala kita. Satu-satunya jalan hindari bertemu dengan keluarga yang punya anak tersebut.
Aku suka heran, anak tersebut tahu mukul dari mana ya? Kalau dia tidak pernah melihat atau sering diperlakukan begitu. Jadi aku benar-benar menjauh dari keluarga yang punya anak suka mukul atau kalau terpaksa bertemu, biasanya anak-anak aku minta sibuk sendiri di tempat yang berjauhan. Jika tidak berhasil juga langsung saja aku katakan ke orangtuanya, "sorry, anak kamu tukang mukul sich!"
- Seandainya anakku yang dipukul biasanya aku langsung saja nyeplosnya meskipun ada ibunya. Supaya ibunya juga mengerti jangan karena anak laki berpikiran wajar saja dan seenaknya mukulin temannya.
Kebetulan aku juga punya keponakan laki yang suka iseng, bahkan saya pernah marahin dia didepan mama papanya meskipun sempat dipelototin papa mertua. Kesal jugakan tiba-tiba didorong atau ditonjok langsung, sedangkan orangtua keponakan saya ini hanya bilang jangan tapi anaknya tidak diangkat. Makanya jika datang berkunjung ke rumah, aku atau minta suami menemani selalu anakku, takut dipukul atau di dorong.
- Anakku (Autis) karena dia tidak tahu komunikasi, jadi terkadang jika mengajak teman bermain suka "salah". Misalnya menarik dengan keras. Jadinya yang diajak nangis. Jika kesal juga dia suka dorong, kemarin saat bertemu dengan keluarga dia dia tantrum, wah ada ponakan yang paling kecil dia kejar terus dia dorong.
Kalau anakku begitu, aku langsung tarik dan aku marahin. Kalau perlu aku sentil tangannya yang mukul, sambil dengan muka serius aku sampaikan tidak boleh begitu. Alhamdulillah, akhirnya dia mengerti juga.
Kalau di tempat umum sebaliknya ada yang mukul anakku. Atau temenku, anaknya mukul anak-anakku, biasanya juga aku beritahu mereka. Soalnya ini pelajaran konsistensi juga buat anakku . Bahwa mukul itu siapapun tidak boleh. Aku beritahukan dengan baik ke anak tersebut, sambil bermain.
Kalau gagal juga, terpaksa meminimalkan bertemu. Dari pada berteman menjadi tidak baik. Aku perhatikan juga, di McD atau KFC, di play areanya, terkadang orangtuan suka tidak perhatian. Padahal suka ada anak yang mainnya berbahaya, main dorong di depan perosotan, atau mukul, mana tempatnya terkadang agak tinggi.
- Lagi-lagi kasusnya sama dengan yang anakku alami. Yang ini bukan hanya mukul, gigit, jambak rambut juga. Aduh, mending kalau pukul/gigit nya anak yang sekedarnya, ini tangan anakku digigitnya sampai berdarah dan memar. Ya, lukanya memang kecil, tetapi berhubung ngeluarin darah dan berakhir memar, jadi was-was juga. Waktu kejadian tersebut aku sakit hati sekali, apakah itu anak tidak pernah diajarkan tidak boleh menyakiti teman mainnya.
Lalu aku baca artikel yang dikirim Mom di WRM sebagai berikut : Sifat AGRESIF
Anak hobi memukul, mencubit, menggigit, menendang, mendorong, melempar/membanting benda.
Apapun bentuknya, perilaku agresif umumnya berhubungan dengan frustrasi. Soalnya, anak belum bisa mengungkapkan rasa kesal/marahnya secara verbal dengan baik mengingat perbendaharaan katanya masih terbatas. Ia pun belum tahu aturan mengungkapkan perasaan tak enak tadi. Merasa keinginannya tak dipahami, muncul perilaku agresifnya.
Tips Menghadapi: * Minimalkan rasa frustrasi anak dengan selalu mengkomunikasikan keinginannya. Jadi, orang tua dapatmemahami anak, kebutuhan anak pun bisa terpenuhi. * Segera luruskan ekspresi negatif anak. Bila didiamkan saja, anak tak akan pernah tahu/belajar mana yang baik dan buruk, boleh dan tidak, serta benar dan salah. * Jangan melarang ia marah tapi ajarkan bagaimana melampiaskan ekspresi negatifnya melalui kata-kata dan bukan lewat tindakan agresif. * Alihkan perhatian anak pada hal lain jika mulai menunjukkan perilaku agresif. * Usahakan bersikap tegas dan konsisten.
- Bicarakan dengan Ibunya, mungkin saja Ibunya merasa itu hal biasa, atau sudah tahu itu tidak baik, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Umurnya 13 bulan berarti dia belum bisa bicara, belum tahu mengungkapkan suka ataupun tidak suka. Mungkin saja dia jealous dengan anak Mom, karena usianya sebaya timbul rasa persaingan.
Kalau Mom tidak bicara dengan Ibunya dan malah menghindar dengan tidak membawa anak keluar tidak akan menyelesaikan masalah apalagi bertetangga. Kasihan anak kalau sampai berakibat buruk pada perkembangan jiwanya, jadi merasa takut. Katakan saja terus terang, kalau anak Mom takut bertemu dengan A, karena A suka mukul. Kasih artikel atau bacaan kebiasaan buruk anak dan bagaimana mengatasinya.
Ibunya yang mesti tegas, setiap dia akan pukul, pegang tangannya katakan dengan tegas kalau itu tidak baik, tangan gunanya bukan untuk mukul. Lihatkematanya, saat bicara usahakan posisi kita selevel dengan dia, misalnya jongkok, jadi anak bisa benar-benar melihat ekpresi kita.
- Meski sering terjadi "insiden", tetep kita tidak mengurangi frekwensi pertemuan. Kita berpendapat, semakin sering terjadi insiden (tak terduga), berharap semakin sering si anak belajar, sehingga kelamaan dia tahu bahwa akibat memukul itu, lawan main jadi menangis karena kesakitan.
- Berarti usia temannya naka Mom sekitar 2,5 tahun. Kalau usia segitu sudah bisa diajak bicara, ini sudah bisa diterapkan reward and punishment, selain dari tip yang aku postingkan dulu. Rewardnya, ungkapkan dengan perkataan dan tindakan, peluk, cium, etc setiap dia berbuat manis. Punishmentnya dengan cara setiap dia sudah menyakiti teman mainnya, pisahkan dia dengan temannya, time out.
- Selagi topik "mukul memukul" jadi ingat waktu lagi makan di mal. Tidak sengaja nguping obrolan "tetangga sebelah" sbb:
Pak A: "Kalau anak dipukul jangan mbales,diam saja, ntar juga yang mukul akan berenti sendiri." Bu B : "wah kalo diam aja anak kita udah keburu bonyok dong Pak, kalo anak saya sih malah saya ajarin , kalo dipukul harus bales lebih keras." Pak A : "justru jangan bales bu, kalo dibales, akan dibales lagi. Sebaiknya diam saja , ntar juga lawannya bosen sendiri karena "tidak seru". Kalo dipukul lalu bales dan bales lagi kan seru tuh"
Singkat cerita si bapak dan si ibu (bukan suami istri ) terus beragumen tentang masalah ini sementara saya hanya berpikir saja. Bagaimana sebaiknya bersikap jika anak saya (22 bulan) dipukul. Memang banyak pro dan kontra soal ini, karena harus lihat case by case juga.
|