We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Kesehatan Anda arrow Mengatur Keuangan Keluarga
Mengatur Keuangan Keluarga E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 22 Pebruari 2005

Mengatur keuangan keluarga ternyata mudah dan sulit. Kalau aku, Credit Card banyak membantu dalam mengatur keuangan, di dompet hampir tidakk ada uang cash. Mengunakan Credit card selain mempermudah transaksi, juga tahu kondisi keuangan. Tetapi tagihannya dibayar full untuk menghindari bunga yang mencekit. Berhubung yang cari uang suami, beliau yang tahu banyak tentang posisi keuangan, yang suka belanja juga "tugas" beliau, mingguan belanja groceries, aku cuma kasih daftarnya saja, kalau belanja lainnya sama-sama perginya. Dan agar kondisi keuangan tetap terjaga semua transaksi kita bukukan dengan sofware khusus yang terkoneksi ke Card, dan Acc. bank kita, jadi langsung bayar online.

Tetapi ternyata tidak semua orang merasa terbantu dengan Credit card, malah akhirnya card membuat orang tidak bisa menjaga pengeluaran, yang ada bunga berbunga dan akhirnya mencelakakan. Nah kalau Mommies bagaimana cara mengatur keuangan agar terkendali, ada tip jitu?

Tanggapan Moms WRM

- Aku juga agak pusing dengan masalah ini. Walaupun aku dan suami bekerja, tapi gaji suami itu aku tidak ikutan pegang. Urusan belanja bulanan dengan CC suami (otomatis dia yang bayar), juga masalah bensin, perawatan mobil, dan biaya perbaikan rumah. Tapi urusan asuransi dan hal-hal yang mendadak, semua jadi urusanku. Terkadang, yang namanya urusan mendadak itu kan out of control (misalnya yang kadang cukup menguras kantong, urusan kado ultah, angpaw undangan). Sementara uang di dompet dan di ATM udah minim sekali. Bagaimana  mensiasati pengeluaran uang yang oke?

- Bagaimana dengan pengunaan pembukuan keuangan, dengan demikian dapat diketahui secara pasti jumlah pemasukan dan pengeluaran keluarga setiap bulannya.

Memang ini merepotkan, karena setiap transaksi, uang yang masuk dan keluar harus dicatat, walaupun hanya beberapa ratus rupiah. Inilah salah satu sebab mengapa aku dan suami membatasi, uang yang berada di dalam dompet, dan tidak mengunakan ATM hanya mengunakan Credit Card. Selain bukti transaksi jelas, dan juga masih ada bukti lain yaitu tagihan dari Card yang bersangkutan.

Dengan pembukuan juga, baik itu manual ataupun aplikasi computer, kita tahu dengan pasti pengeluaran terbesar setiap bulannya berada dimana, sehingga kita bisa meninjau kembali.

Misalnya pengeluaran terbesar berada di groceries, kita bisa tinjau kembali apakah hal tersebut benar-benar butuh, atau tidak, ataukah bisa dicarikan jenis yang sama dengan harga yang lebih rendah.

Jika semua sudah direncanankan, dan pengeluaran tak terduga tetap tidak bisa ditekan, bisa dibikin skala prioritas, misalnya apakah beli gift bisa ditunda terlebih dahulu, atau makan diluar bisa dikurangi dengan membawa bekal makanan dari rumah.

Jatah rekreasi keluarga dikurangi anggarannya, biasanya rekreasi membawa uang sebesar sekian dikurangi, untuk jajan anak-anak bisa bawa dari rumah. Hal-hal yang kelihatannya kecil kalau dikumpulkan bisa lumayan hasilnya.

Kadang karena lihat harga hanya Rp 5000 dan hanya karena tertarik dengan sesuatu kita membelinya, padahal kalau ditinjau kembali kita tidak benar-benar membutuhkannya, nah ini yang mesti kita perhatikan.

Untuk menabung setelah setelah semuanya terencana, sisakan untuk tabungan, jika khawatir akan diambil lagi karena kebutuhan, bisa buka tabungan yang hanya bisa nyetor tetapi tidak bisa diambil, atau kalau tidak mau repot bisa kembali ke celenngan juga, recehan yang berupa Rp 50, dikumpulkan lumayan hasilnya.

Dan yang perlu diingat, jangan membeli karena kita ingin tetapi karena kita butuh, jadi walaupun harganya cuma 500, tetap diperhitungkan. Alhamdulilah dengan konsisten, aku dan suami walaupun penguna CC dengan aktif, tidak mengalami masalah dengan tagihan CC, karena kita saat belanja tahu dengan pasti jumlah uang di bank berapa, setiap hari suami rajin dengan pembukuannya, kalau aku tinggal lihat saja, berhubung aplikasinya di laptopnya. Aku juga simpan semua bukti transaksi, untuk dicocokan dengan tagihan bank.

- Idenya boleh juga, mungkin, masalah utamaku itu adalah malas mencatat. Jadi uang yang masuk boleh juga keluar. Padahal kan harusnya tidak boleh begini kan? Jadi ingin bertanya, idealnya kita menabung berapa persen dari penghasilan?

- Kebetulan sejak aku menikah sudah diputuskan bahwa keuangan keluarga (aku & suami bekerja) sbb:
Pengeluaran RT - ditanggung berdua dari gaji masing-masing yaitu 40% dari gajiku dan 60% dari gaji suami ini untuk keperluan rutin tiap bulan. Dari sisanya ini biasanya misalnya saat saya/suami ingin membeli baju/sepatu/dll untuk keperluan pribadi biasanya dengan uang pribadi ataupun saling todong-todongan.

Kebetulan hampir 4 tahun berjalan ini sejauh ini tidak ada masalah hanya setelah punya anak saya sampaikan  ke suami, bahwa tugas beli susu adalah papanya sedangkan makanan selingan & buah saya. Untuk urusan beli perlengkapan anak yang lainnya kita tanggung berdua tapi untuk saat ini siapa yang sudah ada dananya ya beli saja dulu..

Resep saya untuk keperluan bulanan sbb:(hal ini sudah dirancang semenjak kursus perkawinan)
* belanja harian @ Rp......x 30 = Rp.....
* Gas/Minyak Rp.....
* Beras/Gula/Susu Rp.....
* Keperluan Mandi Rp.....
* PAM Rp.....
* Listrik Rp.....
* Telepon Rp.....
* Tabungan Anak Rp.....
dll.....

Contoh diatas selalu tiap bulan pengeluarannya saya/suami catat lalu supaya mudah dikontrol pemakaiannya, apakah sudah sesuai dengan budget yang ada/atau lebih. Kalau pengguanan CC biasanya saya dan suami saya sudah melakukan perjanjian kalau penggunaannya untuk keperluan pribadi masing-masing yang harus ditanggung sendiri karena ini untuk melatih orang untuk bertanggung jawab atas hal yang sudah dilakukan serta melatih kita untuk disiplin dalam penggunaan CC. Tetapi jika dari awal akan berangkat belanja saya/suami sepakat misalnya bulan ini akan memakai CC berarti nanti anggaran belanjanya kita kurangkan.

-Penggunaan CC oke juga dan sepertinya "harus" dimiliki, bukannya untuk hambur-hamburan, tetapi untuk "jaga-jaga". Bahkan kalau Mom tidak bekerja, CC tambahan (dengan kartu utama punya suami) juga tidak apa-apa. Kalau anak harus ke RS, kita tidak ada cash, bayar dengan CC dulu kan lebih tidak merepotkan.

- Untuk saya, suami tidak pernah memberi full gajinya untuk dikelola. Tapi tiap bulan saya selalu membagi penghasilan saya dan yang diberikan suami ke dalam pos-pos pengeluaran tetap, misal :
listrik : Rp......
air : rp.....
belanja harian : rp...
belanja bulanan :.....
gaji pembantu dan baby sister : rp....
premi asuransi : rp......
u/ ditabung : rp......
dst...

Untuk pembelian kebutuhan anak seperti diapers, makanan tergantung siapa yang sempat beli tapi  saya selalu minta suami yang beli. Untuk membeli kebutuhan sendiri dengan  uang sendiri atau minta sama suami. Lalu untuk setiap gesek ATM saya selalu sisihkan 5000 untuk masuk celengan khusus yang akan dibuka di akhir tahun (ini baca dari majalah).

- Aku juga mengunakan credit card untuk urusan-urusan rumah tangga, rasanya repot harus bawa-bawa uang. Sampai terkadang bosan harus masukan semua bon/kwitansi apapun ke database aku. Beli apapun, seharga berapapun, sampai yang tidak ada bonnya pun aku catat, dan masukin ke komputer. Sebelnya lagi jika tidak sempat memasukan semua itu, bisa menumpuk di tas bon-bon tersebut.
 
Aku sampai punya tabel perbandingan market-market yang ada disekitar aku, sampai pasar tradisional, sampai warung tempat aku suka belanja. Kesannya "gimana". Sempat juga diketawain temen kantor waktu aku cerita. Tapi sekarang jadi ikut-ikutan aku.
 
Tapi aku merasakan sekali manfaatnya, aku jadi tahu besarnya dimana, waktu kami butuh uang lebih untuk membeli sesuatu, kami tinggal mengurangi atau justru menghilangkan budget-budget yang kami rasa berlebih atau tidak berguna.
 
Aku juga selalu menyimpan setiap uang sisa belanja, ataupun recehan yang ada di didompetku. Dulu saat ketauan aku punya recehan 500-an banyak sekali sampet sejutaan.

Suamiku cuma nyisain uangnya untuk  makan, mobil dan uang untuk orangtuanya saja, yll dikasih ke aku semua. Cuma buat beli-beliin anak terkadang suami juga sering belikana, tidak tergantung dari gaji yang dia kasih ke aku juga.
 
- Kalau menurut aku, tabungan sebetulnya tidak harus banyak, hanya kita sendiri harus bisa memperhitungkannya. Misalnya dibuat anggaran untuk tabungan kita anggarkan tiap bulan misalnya 50 ribu. Tetapi jika kita ada uang lebih sebaiknya kita tambahkan lebih baik yang penting kan disiplinnya saja dalam menabung.

- Kebetulan aku dan suami sama-sama pekerja jadi pendapatan bulanan sudah "ketaker". Cara yang kuterapkan seperti sistem amplop.  Begitu kita berdua terima gaji, seluruh uang dimasukkan ke posnya masing-masing, misalnya:

Pocket money aku dan suami,
Car maintenance
Mobiles (2)
Cash ke orang tua, cash ke mertua
Baby sitter
Baby needs
Groceries
Others (termasuk gift, weekend dan keinginan belanja yang tak tertahankan lainnya)
 
Karena kami masih tinggal di rumah orang tua / mertua, maka utilities (listrik, air) belum dimasukkan dalam pos pengeluaran, paling di dalam pos cash ke orang tua dan mertua.  Jangan lupa juga untuk pengeluaran pasti yang sifatnya tidak bulanan harap dimasukkan ke posnya sendiri.  Contoh:  asuransi anak Rp.5 juta per tahun, jadi tiap bulan aku assign Rp.500 ribu ke "amplop baby needs".  Jadi saat  due date tidak berat.  Sama halnya dengan hal-hal yang agak "diluar dugaan".  Untuk car maintenance, misalnya kita assign Rp.1 juta sebulan.  Nah, jika bulan ini tidak ada acara ke bengkel jangan jadi lengah, soalnya bisa jadi bulan depan ada perbaikan rem yang biayanya bisa sampai Rp.3 juta.  Lebih baik siap-siap kan, nanti jika sisanya sudah banyak dan bener tidak  terpakai bisa buat keperluan lain. 

- Soal persentase antara pendapatan dengan tabungan itu dipengaruhi pada planning jangka panjang / jangka pendek. Misalnya aku dan suami punya rencana ingin beli rumah.  Jadi pastikan persentase tabungan lebih banyak daripada yang digunakan sehari-hari dan kita harus 'strict' atas hal itu.  Contoh:  pos tabungan Rp.1 juta sebulan.  Hal pertama yang dilakukan begitu terima gaji adalah "mematikan" Rp.1 juta itu ke dalam account khusus.  Nanti bila ada keperluan yang sifatnya "ad hoc", bisa saja pinjam dari tabungan itu tapi jangan lupa dicatat dan dikembalikan lagi, misalnya saja jikao terima bonus. 

- Buat aku urusan yang satu ini sampai sekarang belum bisa teratur. Walaupun sudah berusaha dicatat tiap bulanannya tetap saja bolong sana-sini, terkadang lupa mencatatjuga. Penghasilan saat ini cuman dari suami, kami juga tidak mengunakan CC. Untuk belanja groceries aku serahkan ke suami. Sayangnya, aku dan suami jika sudah ingin sesuatu kadang susah diatasi. Hasilnya tabungan tidak pernah nambah, beberapa bulan terakhir malah tidak bisa nabung. Kebayang jika anak sudah sekolah, pasti nambah lagi khan pengeluaran.

Aku berpikir untuk punya saving acc., yang tidak diutak-utik tapi menurut suami tidak ada efeknya. Karena menabung di rek. yang sama cenderung mudah mengambilnya.

- Kalau pengalamanku ada gunanya buka rekening satu lagi yang khusus buat masa depan tapi untuk saat ini aku buat atas nama anakku dan itu sudah kita buat kesepakatan bahwa itu rekening tidak boleh dikutak katik sebelum anakku masuk sekolah, so far sampai dengan saat ini tidak ada masalah. Soalnya anggaran untuk menabungnya sudah ditetapkan dari awal dan itu sudah masuk dalam anggaran perbulannya jika ada bonus/tambahan lain dari pengahasilan bisa ditambahin kalau tidak ada, ya sesuaikan  saja dengan anggaran tiap bulannya.

- Aku juga dulu punya account khusus, tapi karena ingin beli sesuatu yang penting sekali jadi di ambil juga. Akhirnya kami memutuskan untuk ambil asuransi pendidikan saja buat anakku. Suamiku ambil, aku juga ambil. Kami anggap itu sebagai tabungan buat anak yang hanya bisa kami ambil kalau sudah waktunya saja. Tapi tabungan yang dulu pernah kami ambil fungsinya tetap sebagai tabungan yang tidak boleh di utak-atik, kecuali benar-benar URGENT.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement