We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Perilaku Anak
Perilaku Anak E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Kamis, 17 Pebruari 2005

Saat ini anakku sudah 18 bulan tteapi dia punya perilaku yang bisa dikatakan sudah bisa ngambek seperti anak besar contohnya, pada waktu dia minta sesuatu dan saya/papa/neneknya tidak mengakabulkan pasti dia akan nangis dan tiduran dilanta. Selama ini dari awal melihat dia suka begitu jarang sekali saya tolongin karena saya pikir nanti jika saya tolong terus-terusan takutnya lama kelamaan bisa buat senjata dia. Terkadang saya ingatkan dia dengan kata-kata atau saya alihkan perhatiannya ke hal lain. Apa memang demikian perilaku anak jika sedang marah?

Tanggapan Moms WRM:

- Menurut buku-buku yang saya baca, apa yang Mom lakukan sudah BENAR. Anak usia balita memang sebagian besar mengalami masa-masa temper tantrum (ngamuk) terutama jika keinginannya tak terpenuhi. Jika kita menyerah, mereka akan berpikir, "wah aku sukses nich bikin mamaku nurut dengan cara seperti ini...". Memang kendalanya adalah lingkungan. Artinya, kita kadang sulit konsisten karena tekanan' lingkungan. Butuh rasa "tega" untuk konsisten.

Contohnya, anak saya pernah temper tantrum, ngamuk,  menangis minta dibelikan mainan di Metro. Saya  tega saja untuk tidak menggubris kemauan dia. Tetapi kebetulan saat itu saya bersama neneknya yang pastilah tidak  tegaan. Beliau berkata,"udah deh beliin aja mainannya... Mama sudah pusing denger dia nangis dan orang-orang pada liatin tuh... Berapa sih harga mainannya?"  Saya sempat ragu juga, tetapi saya berusaha tidak terpengaruh. Saya gendong saja anak saya keluar dari Metro, walau dia meronta-ronta. Sampai di luar dia diam berhenti menangis.

Sering kejadian seperti itu. Tetapi saya tetap konsisten. Alhasil, anak saya sekarang sudah tidak pernah tantrum lagi. Dan dia bisa mengerti, bahwa percuma saja ngamuk, ibuku tidak akan bergeming. Banyak baca buku-buku psikologi anak, supaya bisa mendukung kita di kala binggung menghadapi anak.

- Anak memang lebih pintar dari yang kita bayangkan. Kalau kita mengikuti kemauannya anak saat dia marah, dia akan jadikan senjata kemarahannya itu, kalau dia nangis jerit-jerit minta sesuatu dan kita ikuti, maka tangisannya itu dijadikannya senjata juga.

Yang Mom lakukan benar, mengalihkan perhatian anak, atau tenangkan dia, peluk, cium dia, kalau tidak berhasil, biarkan dia menangis, selama "aman" tidak akan menciderai dirinya.

Kalau yang aku perhatikan di kelasnya anakku, kalau ada anak yang jerit-jerit nangis, gurunya cuma perhatikan, dan berusaha berdamai, are you sad, because bla..bla.. gurunya berusaha menjelaskan kemarahannya dia dengan kata-kata. Anaknya meronta-ronta dipeluk saja, kalau dia menolak, bertambah marah, dibiarkan saja sampai dia capai dan merasa itu tidak fun, karena kemarahan itu tidak membuat dia mendapatkan apa yang dia inginkan.

Anak memang gampang frustasi, apalagi belum bisa menyampaikan apa yang dia inginkan, jadinya kita mesti pandai-pandai menyimpulkan apa yang dia inginkan, OO kamu mau ini, kamu marah karena bla...bla...

- Anak temenku persis seperti ini. Laki-laki usia 4 tahun. Jika menangis minta sesuatu, wah.. jejeritan keras sekali. Entah itu ingin mainan atau makanan or minuman, es . Tetap harus dikasih. Biar pun si anak lagi sakit flu. Terbiasa diberikan oleh sang ibu karena tidak  tega mungkin. Akibatnya setiap minggu harus ada mainan baru dan bela-belain jalan muter lebih jauh asal tidak lewat toko/resto fastfood atau gambar iklan makanan kesukaannya. Gawat.

- Susah juga kalau Ibunya tidak tegaan, Cinta sich Cinta tetapi Cinta yang tegar. Lagian itukan untuk kepentingan anak juga. Kalau terbiasa keinginannya dituruti, dia bisa berkembang menjadi anak yang ingin menang sendiri. Dan itu merugikan si anak juga.

Kalau usianya sudah 4 th, berarti sudah bisa diberikan pengertian dengan kata-kata, sudah bisa kita ajak membuat perjanjian. Misalnya kalau akan pergi sebelum pergi bilang kalau nanti kita tidak membeli mainan, jika ingin ikut ayo, tetapi ingat jangan nangis minta mainan.

Penerapan time out dan reward juga bisa jadi senjata orangtua, kalau aku dengan putriku, misalnya dia minta nonton acara kesukaannya, aku nyalakan TVnya tetapi aku ingatkan cuma satu seri saja, dan kamu sendiri yang harus matikan TVnya, Bunda percaya kamu. Aku ingatkan juga kalau acaranya akan berakhir 5 menit lagi, jadi mentalnya dia juga dipersiapkan, tidak langsung harus mati TVnya. Baru dia matikan TVnya. Walapun dia sempat juga bilang,"please one more". Aku sampaikan, kamu sudah setuju, ingat kamu sudah janji.

Kalau jatahnya dia beli mainan cuma satu terus dia maunya 2, aku ingatkan,"jatah kamu cuma satu, pilih yang ini atau yang itu".  Kelebihan mainan aku sebutkan, biarkan dia belajar menentukan pilihan, jangan karena harganya murah terus kita ikuti. Nanti dia bisa "ngatur" kita, oo ntar lain kali juga bisa yach." Kita harus pintar negosiasi dengan anak.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement