|
Cermin-cermin itu menghuni setiap ruang dalam kehidupan kita, dan kita akan mampu menemukan pantulannya seandainya kita mau menepi sejenak dan menatap jauh ke dalam bola mata mereka. Lihatlah jernihnya cermin itu dan jujurnya bayangan kita yang ditampilkannya dengan utuh dan setia.
Pada tangisnya kita temukan kepedihan kita, pada tawanya kita temukan bahagia kita, dan pada marahnya kita kenali hardikan kita. Dalam dirinya tersimpan kegelisahan, ketakutan, harapan, dan ambisi kita, serta dipersaksikannya dunia. Darinya kita tak bisa berpaling. DiciptakanNya cermin-cermin agar kita bisa melihat sosok kita di sana untuk dengan rendah hati belajar, dan belajar lagi.
Cermin-cermin itu tak terbilang jumlahnya, mengisi jagad raya. Karenanya dunia bertebaran cahaya, terpantul hingga ke hati-hati kita. Sekarang, berpuluh ribu cermin di tenda-tenda pengungsi Aceh retak, pecah terburai ke mana-mana. Serpihannya mungkin tak terlihat, namun tusukannya di telapak kaki kita menyisakan sakit hingga ke relung dada.
Cermin-cermin terlihat di televisi, matanya menatap jauh, yakin suatu ketika laut akan mengembalikan mereka yang tercinta. Mereka percaya keluarganya pergi tak akan lama, segera kembali untuk membangunkan mereka dari mimpi buruknya. Cermin-cermin itu, matanya berbicara lebih banyak ketimbang bibirnya. Bahasa mereka terlalu sederhana untuk melukiskan sakit yang tak bisa sembuh dengan apa-apa.
Cermin-cermin di Aceh mencoba mengobati retaknya dengan mengais puing-puing. Di balik reruntuhan rumah, sekolah, dan onggokan jenazah itu, mereka mensyukuri apa saja yang tersisa; boneka, mobil-mobilan, tas sekolah, juga sedikit harapan dan mimpi-mimpi tentang masa depan. Ruang kosong dalam jiwa mereka tetap tak bisa terhuni seperti sediakala, namun tetap saja mereka adalah cermin-cermin kita.
Biarlah cermin-cermin tetap menjadi cermin sebagaimana adanya. Mereka bukanlah kaca meskipun tampak rapuh, bukanlah aksesoris meskipun lucu indah, dan bisa melipur lara. Mereka bukan boneka karena mata mereka begitu hidup oleh luka dan trauma. Mungkin memang mereka masih belia, namun betapa seringnya kita abai untuk bercermin kepada jiwa mereka yang kaya.
Cermin-cermin itu, anak-anak Aceh yang berduka, menggugat kita untuk menghimpun jiwa-jiwa yang tak bisa dikonversi ke dalam angka. (Sofie Dewayani) |