We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Memetik Hikmah Bagi Anak Lewat Tragedi Tsunami
Memetik Hikmah Bagi Anak Lewat Tragedi Tsunami E-mail
Pengirim: dr.Agnes Tri Harjaningrum   
Selasa, 04 Januari 2005

“Ayah, Lala nggak mau pulang ke Indonesia, Lala takut sama gempa bumi” ujar gadis kecil berusia 5 tahun ini kepada ayahnya. “Lala takut ya, sini...sini  dipeluk sama ayah nak. Indonesia itu luas sayang, yang kena gempa kan Aceh.

Di Bandung rumah Lala dulu aman koq, kan jauh dari Aceh, jadi nggak ada gempa disana. Sekarang yang penting  Lala disini aman sama ayah dan bunda, karena disini nggak ada gempa” jawab ayah Lala mencoba menenangkan. “Kenapa disini nggak ada gempa yah?” tanya Lala lagi. Belum sempat ayahnya menjawab, tiba-tiba, Malik, adik Lala yang baru berusia 3 tahun ikut berkomentar “Aik takut sama gempa di Aceh. Nanti...nanti...kalo Aik naik pesawat terbang ke Aceh, Aik mau liat dari atas pesawat aja. Habis itu Aik mau pulang lagi ke Belanda” sahut bocah laki-laki itu berapi-api menjelaskan keinginannya. Ayah mereka hanya bisa tersenyum dan berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan sabar. Namun yang pasti si ayah tersadar, anak-anaknya sedang mengalami ketakutan pasca terjadinya gempa tsunami.

Tak dapat dipungkiri, dahsyatnya bencana gempa tsunami yang melanda beberapa negara di Asia baru lalu, termasuk Indonesia, menjadi pemberitaan yang hangat dan selalu menarik  untuk diikuti. Namun orangtua terkadang lupa dengan dampak yang  muncul pada anak setelah melihat berbagai tayangan di media. Mayat bergelimpangan, penguburan massal menggunakan truk pengeruk, luluh lantaknya kota, dan berbagai gambaran menyeramkan lainnya dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi anak, seperti dalam cerita diatas. Tetapi, bila orangtua mengetahui cara  yang tepat, masalah yang timbul tidak akan berkepanjangan. Sebaliknya orangtua malah dapat mengambil hikmah dengan menjadikannya momen yang tepat untuk menambah pengetahuan, dan mengasah EQ serta SQ anak.

Dalam foxnews.com disebutkan, Randall D. Marshall, MD, profesor di bidang psikiatri New York State Office of Mental Health mengatakan, pada kasus pasca tsunami seperti sekarang ini,  orangtua sebaiknya mengatasi rasa takut anak dengan meyakinkan anak bahwa apapun yang terjadi, mereka tetap aman bersama orangtuanya. Orangtua sebaiknya juga tidak membohongi anak atau berusaha menutup-nutupi kejadian. Orangtua harus menceritakan kejadian gempa dan pasca gempa yang sebenarnya, tanpa perlu memberikan gambaran detil untuk hal-hal yang mengerikan. Anak-anak adalah makhluk yang cerdas dan dapat mengetahui apa yang mereka lihat. Secara natural mereka pun mengalami kesedihan dan kekecewaan akan bencana ini.Karena itu orangtua dianjurkan membantu anak agar mau membicarakan semua yang dirasakannya. Melihat beragam penayangan di media memang pasti menyedihkan, tragis, menyakitkan, dan menakutkan bagi anak. Tetapi membicarakannya dengan orangtua akan sangat membantu anak.

Dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa berbicara, berkomunikasi, dengan anak lah yang menjadi senjata untuk ‘menyembuhkan’ anak dari rasa takut dan berbagai rasa tak nyaman yang muncul ssetelah menonton tayangan tentang gempa. Komunikasi memang penting karena komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan. Berkomunikasi dengan anak terkadang tidak lah gampang. Dibutuhkan ketrampilan dan pembiasaan sehingga orangtua mahir dalam berkomunikasi agar tujuan dapat tercapai. Komunikasi yang efektif harus diawali dengan saling respek dan menghargai, penuh empati, bisa dimengerti oleh anak, sesuai dengan bahasa anak serta dilakukan dengan rendah hati.

Untuk mengasah EQ anak sekaligus mengatasi rasa takut, rasa sedih dan beragam perasaan tidak nyaman yang muncul tersebut, orangtua harus mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami perasaan anak, tidak mengabaikan perasaan tersebut dan meneguhkan perasaan yang timbul. Biasanya, saat anak sedang ketakutan atau menangis karena sedih orangtua akan mengatakan “Masak begitu aja takut, kan gempanya jauh di Aceh” atau “Cengeng ah, begitu aja koq nangis”. Cara berkomunikasi dengan mengabaikan perasaan anak seperti ini akan mengakibatkan anak menjadi bingung dan kesal, tidak percaya pada perasaannya sendiri, tidak mengenali perasaannya sendiri dan membuat anak menjadi tidak percaya diri.

Ketika seorang anak sedang dalam keadaan takut, orangtua bisa memeluknya sambil meneguhkan perasaannya dengan mengatakan “Adek takut ya sama gempa bumi. Adek takut gempa buminya terjadi disini ya...” Dengan berulang-ulang mengatakannya dan meneguhkan bahwa perasaan yang dialaminya itu benar dan diperbolehkan, biasanya anak akan merasa lebih tenang. Setelah anak merasa tenang, pada umumnya anak akan menceritakan semua hal yang dirasakannya. Kemudian, orangtua dapat melanjutkan percakapan dengan meyakinkan bahwa mereka aman bersama ayah dan bundanya.



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement