|
Alhamdulillah kemarin persisnya kamis, 30 Desember saya diberi kesempatan untuk menjadi saksi kepanjangan mati, hati dan suara mengetahui dari dekat bagaimana keadaan sebagian rakyat Aceh dan kota nya yang terkena musibah Tsunami minggu lalu.
Perjalanan Jakarta Aceh ditempuh dalam waktu 3 jam lebih. Sesampainya dibandara, kita semua lagsung mengenai masker. Dari mulai keluar pesawat hingga masuk ruangan bandara Iskandar Muda, suasana hampir seperti pasar, beberapa masyarakat Aceh langsung menyambut kedatangan kita dengan isak tangis dan curahan hati mereka. Dari sini saya tidak bisa menahan perasaan saya menangis mendengarkan ungkapan mereka, saya berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Sumbangan makanan, obat-obat an dan banyak lagi yang kita bawa dalam pesawat, kita harus mengeluarkannya sendiri dan menggotongnya Ke dalam truk yang sudah disediakan, sebagian didistribusikan pada posko yang ada di dekat bandara dan sebagian kita bawa menuju pendopo, Rumah Gubernur yang nanti akan kita tuju, untuk penyerahan sumbangan keseluruhan yang kita bawa.
Kepala rombongan Bapak Agum Gumelar, saya salut beliau memimpin dengan tegas sumbangan berbagai pihak yang kita bawa. Bahkan beliau mau terjun langsung bersama mengangkut barang, bahu membahu dan kita semua bergerak menuju pendopo dengan mempergunakan Angkutan truk. Ada juga beberapa mempergunakan mobil suzuki seadanya. Saya membayangkan serasa kita dalam suasana habis perang. Sepanjang perjalana yang kita lalui kita melewati satu-satu nya SPBU yang ada di Banda Aceh, antrian sangat panjang, motor banyak berkerumun Untuk mengisi bahan bakar yang dijatah, ada orang yang membeli mempergunakan jirigen kecil. Pasokan BBM disana sangat sulit dan dibatasi. Supir yang membawa kita bahkan sempat cerita bahwa bakar truk yang kita tumpangi juga menipis, kita berdoa saja semoga tidak mogok ditengah jalan. Kemudian hati saya juga tercekat diantara perjalanan yang kita lalui, tampak beberapa kuburan masal yang belum selesai mayat mayat tersebut dikuburkan secara baik, mayat mayat tersebut masih dibiarkan bertumpuk dalam jumlah yang sangat besar hanya ditutup plastik saja. Bau mayat sungguh tercium menyengat, bahkan sepanjang jalan yang kita lalui sering kita menyaksikan ditrotoar, dekat pohon, dekat toko dll
Beberapa mayat berjejer dengan bentuk yang mengerikan kaku, hanya ditutupi platik atau tikar seadanya. Pada saat itu cuaca sangat panas, kelihatan kulit mayat sudah meletak mengenaskan. Sungguh tidak berhenti saya bercucuran air mata mengucap Astaghfirullah, kasihan benar nasib mereka dan tentu saja orang orang yang ditinggalkan. Belum lagi ketika melewati seputar Mesjid Raya yang megah suasana porak poranda disekelilingnya, rumah-rumah hancur, bangunan tidak berbentuk. Banyak genangan lumpur dan serpihan kayu-kayu bangunan yang menumpuk disana sini. Dan diantara puing-puing kayu tersebut saya menyaksikan Astaghfirullah..bayi kecil umur setengah tahun masih ada belum ada yang mau mengangkatnya, saya langsung teriak dan marah, kenapa bayi Itu tidak segera diangkat dan dikuburkan. Supir hanya bilang bahwa tidak hanya bayi itu yang ada tapi masih banyak mayat mayat manusia yang disana sini yang belum bisa diangkat dan tidak ada orang yang mau mengangkat. Mereka sudah apatis, bahkan mungkin mereka sudah stres Atas penderitaan mereka, menyaksikan saudaranya hilang dan mati, sehingga pemandangan itu menjadi suatu yang tidak dipikirkan, karena Mereka harus bertahan hidup dengan penderitaan yang sangat luar biasa. Saya juga melewati rumah-rumah penduduk yang dijadikan tempat para penggungsi tinggal, dan tidak semuanya bisa menampung sehingga mereka Mendirikan tenda tenda seadanya, pemandangan nya lebih mirip seperti pengemis-pengemis dijakarta dengan plastik jelek yang tidak layak mereka tinggali. Saya yakin dalam cuaca panas dan kedinginan tenda tersebut tidak cukup kuat untuk mereka tinggali. Mereka sangat hormat menyambut kita, Walaupun matanya kosong dan ada yang penuh linangan air mata menyedihkan sekali. Sesampainya dipendopo, kita disambut oleh sebagian masyarakat aceh yang ikut dalam tempat penampungan disana, bersama Wakil Gubernur dan Pejabat Aceh disana, banyak crew semua televisi yang memang tinggal ditempat itu juga para tentara tersisa yang bertugas, Bapak Agum Gumelar dan Ibu Bersama rombongan semua DELTA DAN FEMALE/diwakili saya, AA GYM dan Istri,RCTI Peduli, KOWANI, para artis dll menyerahkan bantuan secara langsung uang cash, makanan, obat-obatan dll, melalui Wakil Gubernur disaksikan masyarakat Aceh dan diliput oleh seluruh TV yang ada.
Karena memang pusat para crew TV ada tinggal ada di pendopo. AA GYM memberikan sentuhan rohani yang menyejukkan masyarakat Aceh juga Doa bersama diantara isak tangis yang terdengar, bahkan AA GYM spontan mengulurkan tangan untuk menyambut siapapun anak anak Aceh. Sebanyak 200 anak Aceh akan diterima sebagai anak asuhnya yang akan tinggal di pondok pesantrennya di Bandung. AA GYM juga mengerahkan para sukarelawan yang membantu sementara tinggal di Aceh. Saya juga mencari banyak informasi pengalaman para korban bencana Tsunami, untuk saya wawancarai dan saya berusaha mengupayakan Untuk bisa kontak langsung dengan radio Delta Jakarta. Sayang mulai dari Bandara sampai dipendopo semua alat komunikasi tidak bisa terpakai, Mati semua, bahkan tilp satelit BIRU paling canggihpun yang saya bawa tidak bisa saya gunakan. Ransel saya hanya berisi 4 handphone dan 1 tilp satelit Biru plus camera digital. Semuanya tidak bisa saya gunakan, untuk itu saya hanya bisa memanfaatkan tape recorder saja. Jadi saya coba mewawancarai banyak orang dengan keterbatasan waktu yang ada, dan sibuknya saya membantu proses pemberian sumbangan yang ada. Setelah proses pemberian sumbangan selesai kita harus segera kembali ke Bandara, karena pesawat charter yang kita tumpangi diberi batas waktu yang ditentukan, kita ngga bisa lama lama di Banda Aceh, bandara Aceh sangat kecil sehingga tidak ada pesawat yang boleh memarkir lama, banyak pesawat yang harus bergantian datang. Pak Agum juga secara tegas untuk kita komit dalam waktu selama hampir 3 jam. Beliau tidak ingin merasa mentang-mentang jadi pejabat mau seenaknya mengulur waktu. Rasa sedih meninggalkan saudara-saudara kita di Aceh saat meninggalkan pendopo, sampai ada orang Aceh yang begitu histeris memohon penguatan dari AA GYM, tidak berhenti-hentinya saya terus menangis dan mencoba menyabarkan dengan kata kata yang mudah2an meringankan hati mereka, rasanya ingiiiin sekali saya bisa membawa mereka keluar dari tempat yang tidak menyehatkan itu dan saya yakin mereka menyimpan trauma yang mendalam. Saat menuju bandara, kembali sepanjang perjalanan saya menyaksikan bagaimana desa/kota tersebut porak poranda, ada banyak mobil yang tersangkut diatap rumah dibiarkan begitu saja karena keadaan mobil juga sudah tidak bisa terpakai, tidak tahu siapa yang punya. Saya bisa melihat secara jelas,
Bagaimana tempat dimana masyarakat Aceh panik berlarian ditempat kejadian dan TV meliputnya pada tgl 26 minggu lalu. Saya bisa membayangkan apa yang ada di TV dengan lokasi tempat kejadian dari arah mana ombak atau air bah itu ada datang, dimana tempat orang berlarian, bagaimana kondisi seputar mesjid, rumah yang hancur, mayat yang berserakan, Aceh yang sebagian kecil masih cukup layak ditinggali dan sebagian besar yang hancur dan keadaan kotor penuh lumpur, berbau, tidak bersih. Sampai di Bandara kita kembali melewati tenda-tenda posko tempat penyaluran sumbangan, kembali isak tangis mengiring kepergian kita. Bandara betul betul seperti pasar, tempat kontrol barang kurang difungsikan, semua ramai dengan masyarakat Aceh yang berbagi cerita atas kedukaan mereka, Juga orang Aceh yang menunggu antrian pesawat untuk bisa membawa keluar dari Aceh. Mungkin kalau kita tidak kuat-kuat hati dan perasaan, Kita bisa pingsan juga. Bayangkan saja 3 hari saya tidak bisa tidur ingin segera menyaksikan langsung ke Aceh, di pesawat pagi waktu erangkat jam 5 sampai kita keluar dari Aceh rasanya saya tidak mau makan, hanya minum air putih saja, mana mungkin saya bisa makan melihat keadaan saudara-saudara kita yang berduka dan belum mendapatkan bantuan makanan ditempat-tempat yang sulit dijangkau. Dari Aceh pesawat harus ke Medan dulu untuk mengisi bahan bakar, perjalanan ditempuh 2 jam-an. Baru di Medan saya mendapat hubungan komunikasi yang baik dibandara, sehingga memungkinkan saya membuat laporan liputan melalui tilp telkomsel. Berhubung kita cuma transit selama 45 menit, saya memanfaatkan kembali wawancara dengan berbagai pihak dan on air langsung atau rekaman. Sore hari jam 4 an saya sudah kembali di Jakarta, baru terasa lelah dan laparnya. Sehingga bagaimana saya bisa membayangkan juga, begini saja saya sudah merasa kelelahan dan lapar, apalagi rakyat Aceh yang terkena musibah... Saran atau perhatian apa yang perlu saya sampaikan kepada teman-teman : Menurut pengamatan saya, pemerintah sangat lamban dalam upaya pendistribusian bantuan makanan, obat-obatan,dan sumbangan apapun yang diperlukan. Harus ada gerakan Nasional yang benar benar peduli bagi rakyat Aceh. Mungkin karena bandara begitu kecil sehingga kesulitan membawa bantuan yang ada, BBM juga terbatas, SPBU cuma satu yang buka dan antrian panjang. Keadaan kota/desa sangat kotor dengan genangan lumpur dan puing-puing yang berserakan. Tidak ada orang yang bisa membersihkan keadaan lingkungan yang kotor dan tentunya akan menjadi sarang penyakit yang berbahaya. Menurut saya ada baiknya seluruh rakyat Aceh yang tersisa, sebaiknya dievakuasi kesatu tempat yang layak. Saya tidak tahu dengan cara seperti apa, tetapi Para wakil rakyat kita harus berempati memikirkan hal ini, karena ini adalah masalah besar yang secepatnya harus kita tanggulangi. Saya fikir bantuan apapun yang diberikan kepada rakyat Aceh berupa makanan dll, tidak berarti kalau penanganannya sangat lambat sekali. Bisa bisa masyarakat yang masih tersisa mereka stres, trauma, sakit dan bisa meninggal pula. Harus ada orang yang menggerakkan untuk membersihkan desa/kota Aceh dengan mendatangkan sukarelawan, menguburkan mayat-mayat mereka secara layak, mengevakuasi yang sakit dan yang masih ada, menyemprot wilayah Aceh dengan bubuk anti kuman misalnya, bantauan tenaga dokter dan ahli jiwa/psikhiater. Kendaraan yang bisa mengangkut sumbangan-sumbangan tersebut kepada yang memerlukan, pembangunan secepatnya atas jalur-jalur yang rusak dan parah menghubungkan satu desa ke desa yang lain dan masih banyak lagi. Jadi hal yang paling urgent menurut saya adalah : upaya pembersihan lingkungan Aceh yang kotor, juga bagaimana caranya agar sumbangan bantuan bisa cepat sampai ke masyarakat Aceh yang terkena musibah ini dengan pendistribusian yang baik. Saya rasa kita harus mau belajar dari oang-orang Profesional, saya takut jangan jangan cara mendistribusikan sumbangan ini juga ditangani oleh orang-orang yang tidak mengerti dan seadanya, sehingga ini yang membuat lambat nya proses pencapaian penerimaan kepada yang berhak. Dan satu lagi proses evakuasi secepatnya harus kita fikirkan untuk bisa kita selamatkan yang masih ada, kasihan sekali mereka disana,beban mereka sangat mendalam ditambah kelaparan yang hebat. Kita harus bisa berempati untuk itu.
Tidak cukup kita hanya bisa menyumbang saja kemudian selesai tanggung jawab kita, tapi adalah upaya menggerakkan menjadi sukarelawan, menggerakkan Pemerintah untuk bisa mengatasi masalah penderitaan rakyat Aceh. Juga menurut saya bukan Aceh saja, tolong juga bagaimana keadaan Nias dan pulau pulau lainnya yang masyarakatnya tertimpa bencana Tsunami. Ini adalah masalah nasional yang tidak main-main, hanya kita yang sehat badan akal & pikiran yang bisa peduli semua ini. Inilah sekedar curahan pikiran saya dari kesempatan saya melihat secara langsung saudara-saudara kita di Aceh. Semuanya saya kembalikan kepada teman-teman yang sudah membacanya, terserah anda ingin melakukan apa. Saya percaya anda pasti peduli itu. Terimakasih banyak atas sumbangan anda, tentunya sangat berarti buat yang membutuhkan dan semoga bisa sampai kepada yang berhak membutuhkannya. Mohon maaf kalau ada salah saya mengungkapkan fikiran saya, karena tidak ada maksud apapun, selain bisa menggugah anda, mengetuk hati nurani anda, Membantu saudara-saudara kita yang berduka.
Semoga Allah SWT yang kita cintai memberikan kesalamatan buat kita dunia akhirat, untuk bisa menjadi manusia taqwa yang baik menjalani hidup dengan banyak memberikan manfaat dan tauladan kepada banyak orang. Amin. |