|
Halaman 2 dari 2 Setelah mahir mengamen, aku mulai diajari mengantar ‘pesanan’. Maksudnya, aku menjadi perantara bagi orang-orang yang ingin bertransaksi narkoba. Pekerjaan baru memberiku hasil yang lumayan. Aku bisa beli baju dan sepatu. Tapi Gandik menyarankan agar aku tidak pamer. Penampilan mentereng hanya akan mengundang bencana, katanya. Sesekali aku mancarikan wanita penghibur untuk bapak-bapak yang kepepet di pinggir jalan. Biasanya mereka malu untuk mencari langsung wanita incaran mereka. Maka jadilah aku yang disuruh. Lama-kelamaan aku merasa sayang jika harus terus membagi hasil yang semakin lumayan itu untuk Gandik. Sebab dia tidak lagi mencarikan pekerjaan untukku, tapi masih tetap menikmati hasilnya. Aku minta bagiannya dikurangi, tapi dia menolak mentah-mentah. Alasannya – lagi-lagi – karena aku boleh numpang di rumahnya gratis. Akhirnya kuputuskan untuk berpisah dengannya. Semula ia tidak rela. Baginya aku ini tambang emas, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk menuruti keinginanku. Maka berpisahlah kami. Ia hanya berkata bahwa ia sudah tidak lagi melindungi diriku dan aku harus menghadapi semua bahaya di jalan seorang diri.
Setelah berpisah dengan Gandik hidupku lebih leluasa. Aku bebas bekerja kapanpun aku mau dan hasil keringatku kunikmati sendiri. Sempat terpikir untuk pulang, tapi bayangan akan dimarahi Emak dan Bapak membuatku membatalkan niatku. Setiap malam aku tidur di mana pun aku mau. Aku punya beberapa teman yang mau menampungku sesekali. Kadang-kadang aku mengamen bersama mereka, atau mencuri bersama mereka. Ya, mereka yang mengajariku mencuri benda-benda kecil seperti spion mobil, pelek, atau ban serep. Pertama kali melakukannya memang takut, tapi setelah dua-tiga kali rasanya seperti kecanduan. Kemahiranku dalam bekerja ternyata langsung jadi bahan pembicaraan. Beberapa pria mendekatiku untuk mengajakku bergabung, tapi aku menolak dengan halus. Aku tidak mau berurusan dengan orang seperti Gandik lagi, yang berpura-pura melindungi tapi merongrong dari dalam. Aku lebih suka sendiri.
***
Hari ini aku kembali menanti anak-anak itu, tapi mereka tidak datang lagi. Kurasa mereka bermain layangan di tempat lain. Aku mencoba pergi ke tanah lapang di sebuah perumahan kumuh tapi di sana juga sepi. “Memangnya sudah tidak musim layangan lagi ya?” tanyaku pada seorang tukang rokok yang mangkal di pinggir lapangan. “Sepertinya sih tidak. Dulu aku juga menjual layang-layang, tapi lama-lama tidak laku. Jadi aku tidak menjualnya lagi. Memangnya kenapa?” “Aku ingin melihat anak-anak main layangan,” jawabku jujur. Si penjual rokok mengernyitkan dahinya, “Memangnya belum pernah lihat orang main layangan?” “Pernah, tapi dulu. Aku ingin main layangan.” “Aku masih punya layangan di rumah. Mau?” Tanpa pikir panjang aku mengangguk.
Hatiku girang bukan kepalang setelah menerima layangan dari tukang rokok tersebut. dengan cuma-cuma ia memberikan sebuah layangan yang terbuat dari kertas putih bergambar mata, hidung dan mulut, mirip wajah manusia. Yang paling istimewa, layangan ini juga memiliki ekor yang terbuat dari kertas warna-warni, seperti layangan milik anak-anak itu. Belum pernah aku memiliki layangan seperti ini. Indah sekali. dan saat ia melayang-layang di udara, gerakannya sangat gemulai, seperti seorang penari. Mataku terpana. Tak puas rasanya memandangi layang-layang yang bergerak menuruti kendaliku. “Hei!!!” tiba-tiba ada orang berteriak kepadaku. Suaranya menggelegar dan langsung membuat nyaliku ciut. Aku ingin berlari, tapi orang itu tak sendiri. Ia membawa teman-temannya. Dalam sekejap mereka berhasil meringkusku. Sementara si tukang rokok hanya menatapku tanpa daya. Aku hanya bisa mengikuti ke mana mereka membawaku sambil kudekap erat layang-layangku.
***
Di sebuah kamar yang sempit dan gelap, aku meringkuk ketakutan. Ruangan ini tadinya bekas wc umum. Ini bukan yang pertama kalinya menimpaku, dan aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi. Bukan cuma aku yang pernah merasakannya, teman-temanku yang lain juga pernah mengalaminya. Pintu terbuka, dan sesosok pria bertubuh ceking melangkah menghampiriku. Wajah pria itu tirus dan pucat. Sekilas tampak seperti orang sakit, tapi dialah yang telah membuatku ketakutan selama beberapa minggu terakhir ini. “Anak sialan,” ujarnya kepadaku, “kaupikir kau bisa lari dariku?” suaranya penuh ancaman. “Kautahu apa hukumannya kalau mau kabur?” Aku mengangguk pasrah sambil terus mendekap layang-layangku, berharap mendapat kekuatan darinya. Ia melirik ke arah layang-layangku. “Untuk apa kau main layang-layang? Memangnya kau ini siapa? Kau ini bekerja untukku, tahu?!” Aku mengangguk lagi. “Apa menurutmu dirimu hebat bisa bekerja sendiri di daerahku? Enak saja! kau ini masih anak kecil! Berani-beraninya menantangku. Apa kau belum kapok?” Aku terdiam. “Jawab!” bentaknya. Suaranya memantul pada dinding kamar sehingga telingaku sakit. Inderaku masih merekam dengan jelas perlakuannya dulu. “Ampun...” kataku lirih. “Ampun? Enak betul minta ampun. Berdiri!” Aku berdiri dengan kaki gemetar. “Buka celanamu!” “Tidak.” “Buka!” “Tidak!” “Bangsat!” Pria itu memukulku sampai aku terbentur ke dinding. Dengan kasar ia merebut layang-layangku yang dengan sekuat tenaga kupertahankan. Akhirnya layang-layang itu robek dan jatuh ke lantai. Ia kemudian mendorong badanku hingga bersujud ke lantai yang kotor. Air mataku menetes saat ia berhasil melampiaskan birahinya kepadaku. Rasa sakit yang bertubi-tubi datang menyerang. Aku menangis. “Diam! Anak laki-laki tidak boleh cengeng!” cercanya. Maka kutahan tangisku hingga dadaku serasa mau pecah. Kupandangi layang-layangku yang tergeletak dengan wujud tak keruan di lantai, lemah, tak berdaya seperti aku.
Tangerang, 21 Juni 2004
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |