We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Pendek arrow Layang - Layang
Layang - Layang E-mail
Minggu, 12 Desember 2004

Aku lupa kapan terakhir kali aku bermain layangan bersama teman-temanku di kampung. Layang-layang yang terbang mengangkasa dan melenggak-lenggok mengikuti belaian angin, sehingga bisa membuatku lupa diri. Suatu kenikmatan luar biasa jika berhasil mengendalikan liukan bentangan kertas pada rangka bambu itu. Setiap kali hentakan akan membuat benda itu menggeliat. Tak peduli bila akhirnya telapak tangan harus luka tergores benang gelasan. Biasanya aku baru berhenti bermain jika langgar sudah membunyikan azan Maghrib. Lalu aku dihadiahi omelan Pak Haji karena terlambat datang belajar mengaji.

Senangnya mengingat masa itu. Kini aku iri setengah mati melihat sekelompok anak di depanku yang sedang asyik bermain layangan. Ketika salah satu layangan putus akibat diadu, mereka pun lantas ramai-ramai mengejar. Aku paling suka saat seperti itu. Mengejar layangan putus sampai dapat. Jika berhasil puasnya bukan main. Di desaku dulu rintangan paling besar saat mengejar layangan putus adalah sawah becek yang membentang, atau jika masuk ke kebun milik tetangga yang dipagari, tapi itu tidak masalah buatku. Namun di sini, anak-anak itu harus berhadapan dengan kendaraan bermotor dan tiang listrik. Kalau layangan sudah tersangkut di kabel listrik yang terentang pada tiang-tiang maka menyerahlah sudah. Tak mungkin nyawa ditukar dengan sebuah layangan dari kertas tipis. Walaupun demikian, ada pulang bocah nekad yang jadi korban. Belum lagi kalau tertabrak karena tak hati-hati saat menyeberang jalan. Ah, susahnya.

Kali ini layangan yang putus itu istimewa. Ukurannya lebih besar dan memiliki ekor. Rasanya aku ingin ikut mengejar layangan yang putus itu. Aku yakin dengan mudah aku pasti mendapatkannya, tapi aku enggan karena aku tidak termasuk dalam kelompok mereka. Tentu saja aku bukan kelompok mereka. Mereka itu anak-anak, sedangkan aku bukan. Aku tersenyum saat melihat layangan putus itu akhirnya tersangkut di tiang listrik menemani beberapa layangan yang sudah bertengger di situ sebelumnya. Sudah kubayangkan. Pasti tidak ada yang berani mengambilnya. Mereka cuma menatap dengan kecewa. Dalam hati aku berani bertaruh bahwa mereka ingin sekali mengambil sepotong layangan berwarna kuning bergaris-garis merah dengan ekor warna hijau-kuning.

“Mau layangan itu?” tanyaku sambil berjalan menghampiri mereka. Mereka menatapku curiga tapi sejurus kemudian tatapan mata berubah menjadi tatapan memohon.
“Memang kamu bisa ngambil?” tantang seorang anak.
Sialan! Kamu? Apa dia tidak lihat kalau aku lebih dewasa dari mereka. Anak-anak sekarang memang kurang ajar.
“Kalau bisa mau bayar berapa?” aku balas menantang.
Mereka saling berpandangan. Aku tidak tahu harga layangan sekarang berapa sebuahnya, tapi untuk layangan semewah itu harganya pasti mahal.
“Kalau mau bayar 10 ribu aku ambilkan layangan kuning itu, sekaligus semua layangan yang nyangkut di situ.”
“Semua layangan yang nyangkut di situ?” tanya seorang anak lagi.
Aku mengangguk dengan penuh percaya diri. Mereka berunding.
“Tapi layangan yang lain sudah sobek. Apa gunanya?”
“Siapa bilang? Itu ada yang masih bagus. Kalau tidak mau ya sudah, biar kuambil sendiri.”
Akhirnya mereka menyerah dengan mudahnya. Dasar anak-anak!
Lalu kuambilkan layang-layang yang tersangkut di tiang listrik. Dengan kelincahan mirip monyet aku memanjat tiang listrik perkasa itu. Bukan masalah. Dulu aku terbiasa memanjat pohon kelapa. Sesampainya di atas, kuuraikan benang yang menyangkut di sumbu-sumbu kabel dengan hati-hati. Jari-jariku sangat terampil, seperti saat memereteli sekrup spion mobil.
“Ini,” kataku sambil menyerahkan setumpuk layang-layang pada mereka.
Mereka menerimanya sambil menatapku dengan pandangan kagum.
“Uangnya?”
Dengan berat hati salah satu dari mereka mengeluarkan selembar uang sepuluhribuan dan memberikannya kepadaku.
“Makasih,” ujarku sambil terus berlalu.
Transaksi yang bagus. Lumayan. Hatiku terasa riang.
Keesokan harinya ketika aku kembali ke tempat itu, anak-anak itu sudah tidak ada. Dengar-dengar mereka takut bertemu lagi denganku. Namun pada hari-hari berikutnya aku tetap kembali ke tempat itu menanti kedatangan mereka. Siapa tahu sewaktu-waktu mereka akan kembali. Entah berapa hari yang kuhabiskan untuk menunggu kedatangan anak-anak itu. Aku juga tidak tahu mengapa aku terdorong untuk melakukannya. Mereka mengingatkanku pada sesuatu di masa laluku.

Aku datang ke Jakarta naik kereta api kelas ekonomi dari sebuah stasiun kecil di Jawa Tengah. Aku sendiri lupa nama desa kelahiranku. Awalnya dulu cuma mau main-main di Jakarta, tapi aku lalu bertemu seorang pria bernama Gandik. Dia yang mengajakku bekerja bersama beberapa orang lainnya. Pekerjaan pertamaku mengamen. Ini mudah, karena aku senang menyanyi. Dari hasil mengamen, Gandik meminta separuh bagianku. Aku tidak keberatan karena ia juga memberikan aku tempat tinggal gratis di rumahnya yang lebih menyerupai gudang tua. Di sana aku tidak sendiri. Banyak manusia yang bernasib sama sepertiku. Mereka punya orang tua tapi memilih hidup bebas. Aku juga tidak pernah memikirkan Emak, Bapak dan dua adikku. Menurutku selama ini mereka lebih sering merepotkan. Hidup bersama Gandik seperti burung lepas dari kandang, bebas merdeka. Gandik tak pernah memaksaku mandi pagi, atau masuk sekolah seperti Emak. Ia juga tak pernah memaksaku mengisi bak mandi seperti Bapak. Ia cuma berkata bahwa selama ada uang maka akan ada makanan yang tersedia. Gandik mengajariku banyak hal, kecuali mencuri atau mencopet. Ia selalu mewanti-wanti agar kami tidak melakukan hal itu. sebab jika ketahuan maka akan besar resikonya.



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement