|
Halaman 1 dari 3 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “membaca” didefinisikan, antara lain, sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis; mengucapkan; memperhitungkan; memahami. Dari sini jelas, membaca tidak identik dengan mengenali huruf.
Pada frasa “Membaca roman mukanya yang seperti itu...” atau “Membaca tanda-tanda alam…” jelas kegiatan membaca tidak melibatkan teks di dalamnya. Aktivitas membaca mempunyai makna yang lebih luas, yang erat kaitannya dengan pembelajaran.
Dengan demikian, membaca bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun, di masyarakat umum, kata “membaca” dan “belajar” seakan-akan mengalami penyempitan makna. Untuk kegiatan membaca yang melibatkan teks pun seakan-akan hanya milik anak sekolah. Di luar itu, aktivitas membaca hanyalah sekadar hobi yang opsional sifatnya. Terlebih lagi, objek yang menjadi bacaan dibatasi hanyalah buku pelajaran yang, maaf saja, sering tampil tidak menarik.
Sayangnya sekolah serta orangtua umumnya menginginkan anak bisa membaca lebih karena alasan “tidak ketinggalan pelajaran”, “nilainya bagus”. Sehingga, kegiatan membaca sering dijalankan dengan pemaksaan atau keterpaksaan. Membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan belum menjadi kebiasaan di umumnya masyarakat kita.
Perlunya Menumbuhkan Cinta Baca
Sebenarnya kenapa sih kita perlu menumbuhkan kecintaan anak pada buku? Kenapa anak-anak perlu dibiasakan membaca?
Dalam bukunya, 99 Cara agar Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca, Mary Leonhardt mengemukakan sepuluh alasan utama mengapa kita harus menumbuhkan cinta baca kepada anak. Pada poin kesatu dia menyebutkan: Anak-anak harus gemar membaca agar dapat membaca dengan baik. Mereka hanya akan bersedia menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca jika mereka memang gemar membaca. Inilah mestinya yang menjadi tujuan pengajaran pada anak: mengajarkan anak suka membaca. Bukan sekadar untuk bisa membaca sebagaimana yang sering terjadi. Anak yang bisa membaca belum tentu suka membaca, malah sebaliknya karena tidak suka bisa saja dia benci membaca.
Glenn Doman, seorang dokter yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan otak anak dan pembelajaran, mengatakan bahwa belajar membaca itu sama mudahnya dengan belajar berbicara. Malah sebenarnya lebih mudah karena kemampuan melihat telah terbentuk sebelum kemampuan berbicara. Dengan demikian pengajaran membaca yang menekankan agar anak bisa baca sebenarnya tidak diperlukan dan bahkan kontra-produktif.
Alasan Leonhardt yang kedua, anak-anak yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. Mereka akan berbicara, menulis, dan memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik. Ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Noam Chomsky, psikolinguistik dan guru besar di Massachusset Institute of Technology. Menurut Chomsky ada hubungan erat antara bahasa, pikiran, dan pengalaman. Bahasa mempengaruhi cara berpikir kita; dan selanjutnya menentukan medan pengalaman kita.
Di samping itu, membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas keberagamannya, yang membuat belajar dalam segala hal lebih mudah. Anak-anak yang hanya membaca buku-buku fiksi pun akan mengerti tentang fakta-fakta yang ada dalam sejarah, geografi, politik, dan ilmu pengetahuan.
Ada tujuh alasan lain yang dikemukakan Leonhardt, antara lain karena kegiatan membaca bisa membantu anak mengatasi rasa tidak percaya diri; memberikan beragam perspektif; dan mengembangkan pola berpikir kreatif.
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 Berikut > Terakhir >>
|