We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Anak Bisa Membaca, Haruskah?
Anak Bisa Membaca, Haruskah? E-mail
Pengirim: Eva Y. Nukman   
Selasa, 02 November 2004
Anak adalah mesin fotokopi yang luar biasa. Dia akan meniru apa saja dari lingkungan sekitarnya, yang baik maupun yang buruk. Kalau Anda tidak ingin anak Anda berbicara kasar, tentu Anda tidak boleh mengumpat di depannya.

Dan jangan lupa, jika anak Anda mulai suka membaca, siapkan diri Anda untuk menerima keadaan rumah yang lebih berantakan dibanding kalau mereka menonton televisi. Kenapa Anda harus siap? Karena kalau Anda selalu mengomel karena buku dan koran berserakan dan tidak dirapikan kembali, lama-lama anak akan merasa membaca lebih banyak repotnya daripada manfaatnya.

Kembali mengenai televisi, banyak pakar menganggap televisi kurang mendukung tujuan membuat anak cinta baca. Leonhardt menganjurkan untuk tidak memiliki lebih dari satu televisi di rumah, apalagi membiarkan anak memiliki televisi sendiri di kamarnya. Dia bahkan menyarankan agar ruang televisi tidak dijadikan ruang yang terlalu “mengundang”. Jadikan ruangan lain, yang penuh buku sebagai ruang keluarga yang menyenangkan, dengan kursi yang nyaman, yang membuat anggota keluarga ingin dan suka berada di dalamnya.

Membaca dengan Utuh dan Mengekspresikan

Walaupun anak Anda sudah bisa membaca teks, bukan berarti dia harus membaca-sendiri semua bacaan yang Anda berikan. Luangkan waktu Anda untuk membaca bersama mereka. Kegiatan ini akan semakin mempererat hubungan Anda dengan anak.

Tetapi membacakan anak tidak cukup sekadar mengucapkan kata-kata yang ada di depan Anda. Menambahkan intonasi yang berbeda-beda akan membuat bacaan lebih menarik. Teknik membacakan/bercerita yang baik menurut Jana M. Masan dkk. Hendaklah melibatkan tiga tahapan kegiatan: sebelum membaca, selama membaca dan sesudah membaca. Bukan masanya lagi anak mendengarkan sambil membisu dan melipat tangan. Jadikan kegiatan ini interaktif, perbolehkan anak merespon.

Perkenalkan pula sumber gagasan lain selain buku. Anda bisa mengajaknya ke taman, mengamati serangga, bunga. Dukung “membaca alam” ini dengan membaca teks. Sediakan buku-buku yang relevan.

Setelah kegiatan membacakan (cerita ataupun ilmiah), rangsang anak Anda untuk mengungkapkan pemahaman yang didapatnya lewat gambar ekspresif, lewat tulisan. Gambar ekspresif bisa bersifat imajinatif, bisa pula bersifat ilmiah yang peka akan detail. Di sini, jangan batasi anak Anda. Terutama, jangan terpaku pada bentuk tulisan. Biarkan dia mengekplorasi dirinya sendiri. Yang lebih penting dari kegiatan ini adalah proses penuangan gagasan anak. Setelah itu, lewat pembiasaan, pada anak mulai tumbuh kesadaran akan adanya pembaca. Dia mulai memperjelas tulisannya. Memperhatikan tanda baca.

Memilih Bacaan

Bahkan anak yang mempunyai gangguan perhatian seperti ADD dan ADHD juga dapat menjadi pembaca istimewa. Kuncinya terletak pada pemilihan materi bacaan yang betul-betul mereka inginkan.  Bacaan yang baik tentu yang bergizi. Bukan bentuk yang menentukan gizi bacaan. Komik yang bagus mungkin lebih bergizi daripada buku lelucon konyol yang tidak memberikan “sesuatu” pada anak Anda. Bacaan yang baik adalah yang merangsang pikiran anak Anda untuk bertanya ‘mengapa’ dan berusaha mencari jawabannya. Dan tentu saja, sesuaikan bacaan yang Anda pilih dengan minat anak Anda. Kalaupun di sekolah ada keharusan untuk membaca buku tertentu, beri mereka pilihan. Jangan hanya satu.

“Waktu aku masih kanak-kanak di Philadelphia, aku membaca semua buku komik yang pernah diterbitkan. Sekarang aku masih membaca buku komik selain kontrak, novel, surat kabar, naskah skenario, pajak, dan surat menyurat.”
–Bill Cosby

Terakhir, di dunia sekarang ini para orangtua tidak bisa berpangku tangan saja dalam hal pendidikan anaknya dan menyerahkannya sepenuhnya kepada sekolah. Sebaliknya, orangtua tidak pula sendirian dalam hal memikirkan pendidikan anaknya. Orangtua dan sekolah harus bekerja sama dalam mendidik dan memberikan pembelajaran yang baik buat anak.

Disampaikan pada Diskusi Panel Orangtua-Guru SD Hikmah Teladan, Cimahi, 5 September 2002 dengan judul Kenapa Anak Harus Membaca
Penulis adalah Eva Y. Nukman, ibu dari tiga orang anak, pemerhati pendidikan anak dan bekerja lepas sebagai penerjemah dan penyunting.



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement