We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow My Name is John Dont
My Name is John Dont E-mail
Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum   
Sabtu, 30 Oktober 2004

Alkisah, di negeri antah berantah, hiduplah seorang anak yang bernama John. Ibunya sering  melarang apapun yang dilakukan John. Sedikit-sedikit, “ John…don’t!”, sedikit-sedikit, ”John…don’t!”. Akhirnya, setiap ada orang  bertanya, ”what’s your name?”  Dia selalu menjawab, “ my name is John Don’t…

Setiap hari, anak-anak di belahan dunia mana pun, selalu mendengar kata larangan ini, “jangan!”. Di telinga mereka selalu terdengar…” jangan nakal, jangan main air, jangan panjat-panjat, jangan ini, jangan itu, !”  Hampir setiap orangtua sering melakukannya. Melarang anak bermain air, tanah, naik pohon, berlari-lari, dan  kegiatan bermain lainnya. Padahal, dunia anak adalah bermain. Alhasil,  kreatifitas anak terhambat. Anak semakin membangkang, atau bahkan   menjadi pasif dan penakut.

Bayangkanlah masalalu, saat orangtua masih kanak-kanak, dan mengalami hal yang sama. Sungguh, dilarang adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Kata-kata ‘tidak’ dan ‘jangan’  dapat menghilangkan semangat dalam situasi apapun. Anak-anak pun merasa demikian. Bedanya, anak tidak dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Tetapi, bukankah orangtua juga  perlu melarang anaknya ? Ya, tentu saja. Namun ternyata, melarang pun ada caranya.

Menurut Elizabeth Hurlock dalam buku ‘Psikologi Perkembangan Anak’ , ada tiga jenis tipe orangtua. Pertama,  Tipe authoriter/authoritarian. Orang tua tipe ini mempunyai kontrol yang tinggi dan acceptance (penerimaan)  yang rendah. Mereka  menegakkan  disiplin dengan kaku, tanpa kompromi. Anak selalu dilarang. Hasilnya, anak menjadi tidak percaya diri, pasif dan  tak ada inisiatif. Profil  lain yang muncul adalah anak  pemurung, tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, dan tidak bersahabat.

Kedua adalah tipe permissive. Orang tua mempunyai kontrol yang rendah dan  acceptance yang tinggi .Anak diperbolehkan melakukan apa saja, jarang dilarang. Kadangkala mereka melarang, tetapi tidak konsisten. Profil  yang muncul  biasanya anak menjadi  egois, agresif, dan impulsif. Anakpun menjadi tidak percaya diri, bossy (suka mendominasi), dan kurang pengendalian diri.

Tipe ketiga adalah  Authoritative. Orang tua seperti ini dapat menyeimbangkan antara kontrol dan acceptance. Mereka bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, dan mendorong anak untuk menyatakan pendapat. Anak dilarang tetapi disertai argumentasi. Profil yang dihasilkan dari orangtua tipe ini adalah anak yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi,  percaya diri, komunikatif, kooperatif, serta mempunyai self kontrol yang baik.

Dari ketiga tipe diatas, orangtua authoritative merupakan tipe paling ideal. Apabila melarang, orangtua tipe ini akan selalu memberi alasan. Anak diajak berargumen mengenai dampak baik dan buruk dari sebuah larangan. Sehingga, terjalin komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak. Caranya pun  bukan dengan mengucapkan kata ‘jangan’ atau ‘tidak boleh”. Tetapi  menggantinya dengan kata-kata  positif.

Mimi Doe dan Marsha Walch dalam buku ’Sepuluh Prinsip Spiritual Parenting’ menjelaskan bahwa kata-kata positif itu penting. Orangtua yang selalu berbicara positif,  akan membantu menumbuhkan harga diri anak Kata-kata positif memiliki kekuatan untuk membuat anak merasa berguna, merasa senang, memberi harapan dan memupuk jiwa mereka. Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya.

Tetapi bagaimana mungkin? Kebiasaan melarang anak dengan kata ‘jangan’ rasanya sudah mendarah daging dalam diri banyak orangtua. Saat ditemui di rumahnya, Ema Sukaemah S.psi, seorang psikolog yang berkecimpung dalam dunia anak mengatakan, “sesungguhnya semua hal bisa berubah, asalkan ada niat, motivasi,   serta usaha keras dari orang tua. Bila orang tua mengingat anak merupakan titipan Tuhan. Yakin pula anak adalah amanah yang  harus dijaga dan dipelihara baik-baik. Sungguh sebuah dosa bila orangtua tidak memberikan yang terbaik. Terlebih lagi  melihat  masa depan  yang unpredictable, tantangan kehidupan pasti  akan jauh lebih berat. Semua ini dapat menjadi motivasi yang kuat bagi orang tua.”

Faktor lain yang  tak kalah penting menurut Ema adalah kesabaran, keikhlasan, dan kesepakatan dengan pasangan. Sabar yang tiada batas  dan keikhlasan orang tua adalah hadiah  paling berharga bagi seorang anak. Dengannya, orang tua dapat berpikir jernih dan mendapatkan banyak kreatifitas dalam pengasuhan anak.  Begitu juga kesepakatan dengan pasangan.. Anak membutuhkan aturan  konsisten yang tidak mungkin tercapai bila orangtua berbeda pendapat.

Selanjutnya Ema menjelaskan, sebelum menerapkan pada anak, orangtua lah yang harus berubah terlebih dahulu. Hilangkan kebiasaan  berbicara dengan kalimat negatif. Libatkan  anak  untuk membantu menghilangkan kebiasaan orangtua. Hal ini  sekaligus mengajarkan anak untuk  belajar mengkritik orang tua dengan cara yang baik. Orangtua bisa membuat kesepakatan dengan anak, misalkan dengan kalimat…  ‘’ Nak, sekarang bunda sedang belajar menggunakan kalimat positif. Kalau kamu dengar bunda bilang jangan atau tidak boleh, kamu  boleh menegur bunda. Kasih bunda kode ya...” Kodenya bisa berupa jentikan jari, tepukan tangan, atau  cara permainan lain. Yang penting anak paham,  orangtuanya bahkan belajar menggunakan kata-kata  positif. Selain itu, anak juga belajar bahwa orang tua boleh ditegur bila melakukan kesalahan. Anak tak perlu sungkan asalkan  orang tua ditegur dengan cara yang baik. Selain  membantu mengingatkan orangtua, anak juga mendapatkan pelajaran  berharga dari kejadian yang dianggapnya bermain.

Kadangkala orangtua kesulitan saat hendak merubah kalimat negatif menjadi positif. Bagaimana contoh kalimatnya?  Ema memberi contoh, “misalkan  anak yang suka mencoret-coret dinding,. Ketimbang melarangnya dengan berkata, ‘ jangan corat-coret di dinding!’ lebih baik orang tua mengatakan, ‘ menggambarnya di kertas ini saja ya nak’…”

Contoh lain, bila ada seorang anak yang takut dengan kecoa. Biasanya orangtua akan selalu berkata…” jangan takut,! …”  Padahal, semakin sering kata takut  didengar  anak, semakin sering pula kata tersebut terekam di otaknya. Hasilnya, anak akan semakin takut dan fobia dengan kecoa. Lebih baik orangtua menggunakan kalimat positif seperti, ” Adek Cuma geli kan sama kecoa, adek anak pemberani, yuk kita lihat dari jauh .” Intinya adalah mengganti kata  ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’ dengan kalimat positif tanpa mengurangi maknanya. Keuntungan lain, anak menjadi jarang  mendengar kata ‘jangan’. Sehingga bila anak dalam kondisi berbahaya , kata ‘jangan’ benar-benar ampuh.  Anak akan langsung merespon. Berbeda bila kata jangan sering terucap. Anak cenderung  mengabaikan ucapan orangtua.

Kata-kata  mengandung banyak kekuatan, baik dan buruk. Melihat akibat yang ditimbulkan kata-kata negatif,  dan keajaiban dari kata-kata positif, masihkah orangtua hendak mengobral kata ‘jangan’? Semoga tidak! Agar tak ada lagi John Don’t, John Don’t yang lain. (Agnes Tri Harjaningrum, ibu 2 orang anak)  

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement