We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow "Bunda, Darimana Aku Lahir?"
"Bunda, Darimana Aku Lahir?" E-mail
Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum, dr   
Kamis, 28 Oktober 2004

Sejak pagi, Lala, si gadis kecil yang kritis dan ceriwis terlihat kesal. Dari mulut mungilnya  keluar  ocehan kekesalan kepada tantenya.

”Tante… Lala marah sama Bunda!”
“Lho, kenapa La?” tanya tante Lala yang perutnya sedang membuncit karena hamil.
“Lala cuma tanya, tapi bunda nggak mau jawab. Katanya lala masih terlalu kecil. Hmh Lala sebel  sama bunda! Padahal Lala kan umurnya 4 tahun tante, sudah besar. Lala keseel banget! ”
“Memangnya Lala tanya apa La?“ si tante kembali menyahut.
“Lala tanya, kenapa perut tante buncit. Kata Bunda, perut tante ada adeknya, dulu perut bunda juga buncit waktu Lala masih dalam perut Bunda. Terus Lala tanya lagi Tante, waktu Lala dalam perut, keluarnya lewat mana bunda? Eh... Lala malah dimarahin tante, disuruh diem, nggak boleh tanya-tanya lagi sama bunda. Pokoknya Lala marah deh Tante!” Jawab Lala sambil cemberut.

Bila gadis kecil tadi menjelma menjadi seorang remaja, barangkali temannya akan berkomentar, “ Kasiaan deh lo…!” Namun , dia hanya seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang masih senang bertanya dan menyimpan beragam pertanyaan dalam kepalanya. Pertanyaan serupa sering dilontarkan anak balita seusia Lala.

Kebanyakan orangtua menjawab sama, “Kamu masih terlalu kecil, tidak boleh tanya-tanya masalah itu, diam, diam, dan diam” begitulah jawaban sebagian orangtua. Pada umumnya mereka masih menganggap bahwa sexualitas adalah sesuatu yang tabu dan saru untuk dibicarakan.

Padahal, di zaman yang ‘gila’ seperti ini, dimana kasus perkosaan  dan sodomi pada anak meningkat sangat tajam, pendidikan sex sejak dini sangat diperlukan.  Belum lagi masalah sex bebas di kalangan remaja yang semakin merajalela. Orangtua mana yang tidak cemas dan waswas melepas anaknya berangkat remaja. Penelitian di berbagai negara menemukan bahwa anak remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan sex bebas, jika mereka dapat membicarakannya dengan orangtua. Artinya, orangtua harus menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anaknya. Hal ini hanya dapat dilakukan bila sejak dini, orangtua telah memberikan pendidikan sex  untuk mereka.

Dalam sebuah seminar mengenai ‘Bicara Sex Kepada Anak’, Elly Risman S.psi, seorang psikolog yang bertindak sebagai pembicara, menjelaskan bahwa orangtua memikul tanggung jawab  sebagai pendidik seksualitas bagi anak-anaknya. Orangtua tidak dapat ‘mengekspor’ tanggung jawab ini kepada guru di sekolah atau lingkungan sekitar. Ini adalah tanggung jawab bersama, ayah dan ibu, sebagai pasangan yang telah diberi amanat oleh Tuhan. Masing-masing mempunyai porsi untuk menjelaskan masalah sex pada anak. Sebagai contoh, ayahlah yang harus menjelaskan tentang mimpi basah kepada anak lelakinya menjelang akil baligh. Sedangkan Ibu bertugas membeberkan apa itu menstruasi kepada anak gadisnya yang beranjak remaja.

Selanjutnya Elly menerangkan tentang hal-hal yang harus dilakukan orangtua. “Landasan paling penting bagi orangtua  dalam masalah ini adalah agama. Jadikanlah agama sebagai pedoman, karena panduan pendidikan sex pada anak sudah terangkum dalam ajaran agama. Orangtua harus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menerangkan dan menjawab pertanyaan anak. Selain itu, orangtua harus memutuskan masa lalu dan keluar dari tabu-saru yang selama ini membelenggu.”

Bagaimanakah kiat dasar mengasuh seksualitas? Elly mengungkapkan bahwa, pendidikan ini tidak mungkin dilakukan secara ‘borongan’, tetapi harus ‘dicicil’ sedini mungkin. Orang tua harus proaktif, terlibat penuh dan tidak menunggu anak bertanya. Contohnya, ketika sedang memandikan balita,  orangtua dapat sekaligus memberitahukan tentang tumbuhnya rambut lain di bagian tubuhnya. Ibu dapat berkata “ Nanti kalau adek sudah besar, akan tumbuh rambut di ketiak dan di kemaluan adek.”  Atau orangtua dapat menjelaskan tentang perlunya menjaga kemaluan dan bagian penting tubuhnya. “ Dek,  bagian dada sampai lutut adalah bagian penting tubuhmu, tidak boleh ada orang yang memegang kecuali ayah dan bunda ya.”



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement