|
Halaman 1 dari 5 Tanah pekarangan di belakang rumah sudah mulai retak-retak Retakannya menyerupai sarang laba-laba dengan sumur di tengah-tengahnya. Namun sumur itu kering. Kemarau telah menyerap habis semua air di dalamnya. Surti mengamati lubang sumurnya yang dalam dengan pandangan sedih. Ini artinya ia harus berjalan sekitar 3 kilometer lagi ke kampung sebelah untuk mengambil air. Membayangkan perjalanannya saja sudah membuat lututnya lemas. Ia baru saja pulang menggarap sawah milik seorang kaya di desa lain dan perjalanan tadi memakan waktu hampir 1 jam.
Tubuhnya lelah bukan main. Di beberapa kampung – kecuali kampungnya yang selalu mengalami kekeringan – musim tanam baru tiba, jadi hampir seminggu ini ia mondar-mandir untuk menanam padi di sawah. Lumayan dibayar empat ribu perak per petak sawah, ditambah makan siang gratis dan bisa memetik daun singkong sepuasnya. Paling tidak hari ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk belanja. Kini sesampainya di rumah ia berharap menemukan anak perempuannya yang sudah gadis untuk disuruh merebus daun singkong dan mengulekkan cabe merah, tapi ternyata gadis itu raib entah ke mana. Ia malah menemukan rumahnya dalam keadaan berantakan, dan sama sekali tidak ada persediaan air, kecuali sekendi air minum di atas meja bambu. Semula ia berharap menemukan air di sumurnya untuk menanak nasi, tapi yang ditemuinya hanya lumpur yang mengering di dasar sumur.
Surti menghela napas. Dengan langkah gontai ia berjalan masuk kembali ke rumah gedeknya. Parto suaminya baru pulang dengan peluh membanjiri tubuhnya. Biasanya dalam keadaan begini suaminya pasti akan langsung minta makan.
“Air di sumur kering, Pak. Jadi aku belum masak,” ujar Surti cepat-cepat, berharap lelaki itu akan menawarkan diri untuk mengambil air.
“Ambil di tempat lain,” kata Parto sekenanya.
“Di mana? Di kampung si Ragil?”
“Jangan sebut nama bajingan itu!” bentak Parto sambil melotot.
“Habis di mana lagi yang paling dekat?”
“Ya sudah! Ambil saja di sana.”
“Aku baru pulang tandur. Masih capek.”
“Lha? Kaupikir aku habis dari mana? Aku juga baru pulang narik becak. Nih!”
Parto melemparkan selembar 20 ribuan ke meja. “Tolong belikan indomi saja di warung si Kentung, sekalian mintakan air segayung. Biar aku masak indomi sendiri.”
Surti menurut, meskipun hatinya perih. Sejak kapan suaminya menarik becak? Pasti dia habis main togel di pasar. Tapi bagaimanapun ia masih bersyukur Parto mau memberikan hasilnya. Jadi tidak ada salahnya Surti menuruti perintahnya yang terkadang di luar batas kewajaran. Ketika sampai di warung si Kentung yang sedang ramai, Surti memberanikan diri untuk meminta air. Di saat seperti ini bagi penduduk desanya air lebih berharga dari berlian.
“Mas Kentung, boleh minta airnya segayung?”
“Boleh, boleh. Sebentar saya ambilkan.”
“Biar saya ambil sendiri, Mas. Lagi banyak orang yang beli.”
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 4 5 Berikut > Terakhir >>
|