We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Bersambung arrow Dream Maker in a Dream Taker World series: Og Mandino
Dream Maker in a Dream Taker World series: Og Mandino E-mail
Pengirim: Dwitra Silvana Zaky   
Jumat, 08 Oktober 2004

The Greatest Salesman in The World. Kisah ini dimulai dari keinginan seorang ibu, wanita Irlandia berambut merah, yang selalu mengingatkan anak lelaki satu-satunya, dengan kata-kata,"Suatu saat nanti , nak...kamu akan menjadi seorang penulis. Penulis yang akan sangat terkenal.Penulis terbesar sepanjang jaman".

Si anak lelaki yang masih berumur 4 tahun, hanya mengangguk-angguk, tanpa mengerti mengapa ibunya sering sekali mengulang-ulang kata-kata itu.

Karena keinginan kuat ibunya itulah, si anak lelaki kecil, Og Mandino, sejak awal sudah sering sekali diajak ke Perpustakaan Umum di dekat rumah mereka. Bahkan sejak kelas satu Elementary School, dia sudah diajarkan membaca buku-buku orang dewasa, yang penuh kata-kata bijaksana. Dan tiap kali menghabiskan satu buku, yang sering dia sendiri tidak mengerti artinya. Ibunya akan memintanya membuat ringkasan tulisan dari buku itu.

Hasilnya adalah dari satu buku tebal puluhan halaman, dia menulis hanya 3-4 lembar ringkasan dengan bahasa kanak-kanaknya. Tetapi ibunya tidak pernah perduli, beliau hanya tersenyum , kadang tertawa dengan bahasa lucu anak lelaki kecilnya, berusaha menjelaskan isi buku-buku tebal itu.

Hal ini mereka lakukan terus menerus, hingga si anak lelaki kecil ini menjelma menjadi remaja muda yang duduk di kelas terakhir High School, dan menjabat sebagai Editor dari majalah sekolahnya. Rencana mereka berdua, setelah Og Mandino lulus dari High School, dia
akan melanjutkan ke University of Missouri, yang mereka yakini memiliki sekolah Jurnalistik terbaik di Amerika saat itu.

Nyatanya Tuhan berencana lain. 6 minggu setelah kelulusannya, sang ibu yang sangat dicintainya, tiba-tiba saja meninggal mendadak di dapur, saat membuatkan makanan siangnya.

Kematian sang ibu membuat kehidupan Og Mandino oleng bagaikan kapal yang akan karam. Sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan atas meninggalnya ibunya yang tercinta.

Akhirnya, alih-alih masuk ke Universitas yang didambakannya, karena masalah ekonomi, dia terpaksa harus bekerja sebagai buruh di pabrik kertas. Pada tahun 1942, Og Mandino mendaftar di Air Force America, dan ditugaskan sebagai asisten pilot di pesawat Bombardier. 30 misi pembom-an diselesaikannya di Jerman.

Setelah Perang Dunia Kedua selesai, Og Mandino kembali ke Amerika. Disana dia menemukan kenyataan pahit, ternyata tidak banyak pekerjaan yang bisa dikerjakannya, apalagi karena pendidikannya yang hanya High School saja. Akhirnya setelah berbulan-bulan menganggur,  dia bisa menemukan pekerjaan menjual insuransi . Tidak lama setelah itu dia juga bertemu dengan seorang gadis, yang akhirnya menjadi istrinya.

10 tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang berat baginya, istrinya dan anak perempuan mereka. Sepertinya bagaimanapun kerasnya dia bekerja dan berapa panjang waktu yang dia butuhkan untuk bekerja, hutang-hutang yang harus dibayar tiap bulan selalu lebih besar dari pendapatannya. Mereka semakin lama tenggelam ke dalam tumpukan hutang, yang tiada habis-habisnya.

Hingga suatu saat, karena frustasinya, saat pulang ke rumah, Og Mandino mampir ke bar terdekat, dan mulai minum-minuman keras. Satu gelas minuman keras, lama kelamaan mejadi 2 gelas, 3 gelas, 4 gelas. Dan akhirnya tiap pulang ke rumah Og Mandino selalu dalam keadaan mabuk. Akibatnya sang istri dan anaknya yang sudah mulai besar tidak tahan, dan kemudian mereka membuat keputusan drastis, dengan cara meninggalkan Og Mandino begitu saja, tanpa kabar berita.

2 tahun berlalu, bahkan Og sendiri tidak ingat lagi apa saja yang terjadi pada masa-masa itu, karena ingatannya yang dikaburkan dengan minuman keras. Juga karena prestasi kerjanya menurun, hingga akhirnya dia dipecat dan harus berganti-ganti pekerjaan, yang mana uang penghasilannya kebanyakan dihabiskan untuk botol-botol minuman keras ini. Dengan mobil Ford tuanya, dia berkeliling dari kota yang satu ke kota lainnya.

Hingga suatu saat, di malam yang dingin di Cleveland, Og Mandino mengambil keputusan untuk membunuh dirinya. Keinginan ini berkelebat begitu saja, saat dia berjalan tertatih-tatih dan di bawah hujan deras, saat melewati jendela kaca toko penggadaian , dilihatnya sepucuk pistol kecil dengan tag harga $ 29.

Dikumpulkannya sisa uangnya yang hanya tinggal 3 sepuluh dollar-an , dan dia berkata pada diri sendiri, "Inilah jawaban dari permasalahku selama ini. Saya beli saja pistol itu, beli beberapa peluru, kembali ke kamar di losmen murah , lalu kutembakkan peluru itu ke kepalaku. Selesailah permasalahan hidupku yang berantakan ini".


 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement