|
Halaman 2 dari 2
Ayahnyalah yang selalu percaya Eric bisa mencapai segala hal yang terbaik. Karenanya itulah Eric Weihenmayer selalu yakin tidak ada yang bisa menghambat mimpi-mimpinya, selain dirinya sendiri .
Pertanyaannya : Apa betul begitu ?. Apa betul tidak ada yang bisa menghambat mimpi-mimpi Eric Weihenmayer?
Saat masih remaja, setelah mulai jatuh cinta dengan olahraga mendaki gunung inilah, dan dibantu dorongan ayahnya, Eric bisa menaklukan puncak gunung Machu Picchu di Peru pada tahun 1987. Keberhasilan mendaki sampai puncak gunung tertinggi di Peru inilah, yang akhirnya mendorongnya memilih sebuah mimpi besar lainnya. Mendaki Ketujuh Gunung Tertinggi Dunia alias "The Seven Summits".
Itulah sebabnya saat turun dari pendakian puncak gunung Mount Kosciusko di New South Wales, Eric Weihenmayer sangat gembira dan bahagia sekali, karena akhirnya berhasil mendaki ketujuh puncak gunung tersebut. Yang menurutnya adalah puncak terakhir dari mimpi-mimpinya.
Ketujuh puncak gunung tersebut adalah
Asia: Mount Everest di Nepal, 29.035 kaki. South America: Aconcagua di Argentina, 22.840 kaki North America: Mount McKinley di Alaska, 20.320 kaki Africa: Mount Kilimanjaro di Tanzania, 19,339 kaki Europe: Mount Elbrus di Russia, 18.481 kaki Antarctica: Vinson Massif di the Sentinel Range, 16.067 kaki Australia: Mount Kosciusko di New South Wales, 7.310 kaki. Sebagian para ahli gunung mengatakan bahwa seharusnya puncak gunung tertinggi lainnya adalah 16.023-kaki Carstensz Pyramid (yang juga dikenal sebagai Puncak Jaya, di Irian Jaya) bukan Mount Kosciusko.
Karenanya Weihenmayer juga berencana untuk mendaki juga Carstensz Pyramid dalam waktu dekat.
Sebenarnya, apa kekurangan Eric Weihenmayer yang malah menjadikannya bak selebritis dunia?
Kekurangan Eric bagi orang lain mungkin menjadi penghambat, tetapi baginya, kekurangan itu adalah pendorong utama untuk mencapai mimpi-mimpinya. Eric buta! Ya, ia terlahir dengan penyakit genetik dari retina mata yang disebut 'retinoschisis'. Penyakit ini yang menyebabkan ia buta.
'Super Blind' itulah julukan Eric. Atlit buta yang luarbiasa. "Pendaki gunung buta—sama seperti pemain Bobsled Jamaica (film Cool Running, pen.)," kata Eric tersenyum.
Lahir dengan penyakit genetik dari retina mata yang disebut "retinoschisis", sejak kecil Weihenmayer tahu bahwa pada umurnyayang ke 13 dia pasti akan buta. Tetapi karena dukungan cinta kasih ibunya dan semangat dari ayahnya, malah membuat Eric selalu maju pantang mundur dalam hal apapun. Bahkan setelah kebutaannya, dia tetap punya kehidupan aktif yang penuh dengan petualangan ,bersepeda gunung kemana-mana dan aktif ikut perlombaan gulat .
Eric mendaki gunung dengan alat ciptaannya sendiri. Alat ini yangterdiri dari 2 tongkat logam untuk mendaki gunung yang bisa dirubah-rubah kepanjangannya, kemudian sambil bersandar pada tongkat yang satu, tongkat lainnya digunakannya untuk menyisir atau mengetes kondisi daerah di hadapannya.
Walau dia selalu naik bersama dengan beberapa pendaki gunung lainnya secara kelompok, tetapi dia dia tetap tidak pernah diperlakukan istimewa. Artinya dia tetap harus ikut membawa segala macam barang yang dibutuhkan dalam pendakian,mendirikan tenda, dan membangun dinding salju saat ada badai salju. Rekan pendaki gunungnya mengkaitkan bel pada ikat pinggang mereka untuk membantu Eric menentukan arah. Tapi Eric seringkali lebih mengandalkan ketajaman nalurinya, dalam cuaca dingin menusuk tulang atau saat panas membakar.
Karenanya rekan-rekan tim pendaki gunungnya menggelarinya "SuperBlind".
Dingin menggigit inilah yang menyertai petualangannya saat menaiki puncak Kilimanjaro di Afrika tahun 1997. Tetapi di tengah jalan, pendakian ini diberhentikan sementara guna pelaksanaan pernikahan Eric dan rekan sesama pendaki gunung, Ellen Reeve. Yang kini menghadiahinya dengan seorang anak perempuan berumur 4 tahun.
Rasa cintanya pada pendakian gunung, tidak berarti Eric melupakan pendidikannya. Lulus dari Boston College, Eric melanjutkan Masternya di bidang Education. Setelah lulus Masternya, dia pindah ke Phoenix, Arizona dan mengajar kelas 5 di Public Elementary School .
Disela-sela liburan musim panasnya, dia selalu menggunakan waktu tersebut melaksanakan mimpi-mimpinya menaiki puncak-puncak gunung ini. Sampai akhirnya beberapa tahun lalu dia memutuskan untuk menjadi Pendaki gunung Profesional Full Time.
Prestasi lainnya...bagaimana kalau ditambah dengan kebiasaanya menuruni puncak yang sudah didakinya dengan meluncur dengan alat Ski.
Sekarang puncak ketujuh sudah ditaklukan oleh pendaki gunung kelas dunia ini yang selalu ingin menjadi yang terbaik, walau tanpa punya kemampuan melihat sama sekali.
Karenanya kalau anda tahu ada anak yang tidak diharapkan punya prestasi, ceritakan pada anak ini cerita tentang Eric Weihenmayer, dan tunjukkan pada dunia bahwa mereka tidak selalu benar.
Dwitra Silvana Zaky, Reston,Virginia 2004, dari berbagai sumber
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |