|
Pada salah satu pertemuan di majelis keayahbundaan (parenting) yang saya asuh bersama seorang teman, saya bertanya kepada hadirin: "Pernahkah anda marah kepada pasangan (suami/istri)?" Hampir semua mengangguk dengan semangat, sambil tersenyum. Hampir semua, karena di antara hadirin ada yang belum berkeluarga.
"Pernahkah Anda sedemikian marah sehingga ingin melayangkan tangan atau kaki kepada pasangan Anda?" Semuanya terbelalak sebelum akhirnya menggeleng dengan heran.
Lalu saya bertanya lagi, "Pernahkah Anda marah kepada anak Anda?" hampir semua menganggukkan kepalanya. Hampir semua, karena di antara yang hadir juga ada orang-orang yang belum punya anak.
"Pernahkah Anda sedemikian marah sehingga rasanya ingin melayangkan tangan (untuk memukul atau mencubit)?" Masih banyak yang mengangguk, dengan agak malu.
"Lalu melaksanakan keinginan itu, yaitu memukul atau mencubit si anak?" Ada beberapa kepala yang tertunduk. Syukurlah tidak banyak.
"Kenapa?" tanya saya. "Kenapa Anda tidak berani untuk memukul bahkan merasa ingin (cuma merasa ingin) memukul suami/istri Anda?" Hadirin tersenyum-senyum bingung, pada ngomong sendiri.
Kemudian saya tanya lagi, "Pernahkah Anda dititipi untuk menjaga seorang anak yang sangat bandel, atau melihat orang lain (teman, tetangga, guru) dititipi menjaga seorang/lebih anak, atau sekadar melihat kelakuan seorang anak yang sangat bandel?" Semua mengangguk. sebagian besar hadirin memang berencana membuat suatu kegiatan libur untuk anak.
"Apa yang anda lakukan/ucapkan? Apakah anda memukulnya, atau menghardiknya?" Semua tersenyum sambil menggeleng. "Wong anak orang, je". kata seseorang."Kalo anak saya yang begitu sih, baru...." kata yang lain lagi.
"Yeah tentu saja kita tidak lakukan itu, dan sebagian orang akan berucap, anak ustadz sih' atau 'anak si Fulan sih', atau kalau kita bukan yang dititipi, hanya melihat kelakuan seorang anak yang sangat mengesalkan, kita akan bilang dengan sangat geram. 'duh, anak itu! kalo anak saya kayak gitu.... nggak tau deh."
"Kenapa," saya ulang pertanyaan saya. "Kenapa kita tidak berani membentak atau memukul pasangan kita, atau anak orang lain. kenapa?" Hadirin ribut. banyak yang berebut ingin menjawab.
Saya suarakan jawaban mereka "karena segan kan? karena segan sama yang bersangkutan (kalau itu pasangan kita), atau segan sama orangtuanya, kan? juga karena takut, bukan? juga takut kalau yang bersangkutan akan membalas, atau takut dampak hukumnya, atau takut orangtuanya marah, atau untuk menjaga hubungan baik dengan orangtuanya. begitu kan?" semuanya sepakat.
Lalu saya tanya lagi, pertanyaan yang sekarang saya ajukan juga buat kita semua. "Lalu kenapa kita berani-beraninya menghardik, membentak, bahkan memukul anak kita? siapakah kita sehingga tanpa rasa segan menyakiti perasaan, bahkan kadang fisik makhluk-makhluk yang dititipkan Allah kepada kita?"
"Kalau anak itu adalah anak orang lain, anak tetangga, anak ustadz dll. kita lantas menahan diri dan tetap berbaik-baik kepadanya, kenapa tidak kepada anak kita yang adalah kepunyaan Allah? "Kalau kita tidak menghamburkan kata-kata kasar kepada anak orang lain karena khawatir 'apa kata orangtuanya nanti', kenapa kita tidak ingat dan mengkhawatirkan 'apa kata Dia nanti'?
"Kalau kepada manusia saja kita punya rasa segan, rasa takut, kenapa tidak kepada Allah?" (Eva Y. Nukman, ibu dari 3 orang anak) |