We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Baik dan Bijak arrow Ijinkan Aku Menciummu, Ibu..
Ijinkan Aku Menciummu, Ibu.. E-mail
Pengirim: NN   
Kamis, 23 September 2004

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku "dipaksa" membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengijinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan.

Sehabis  makan,  aku  pun harus mencucinya sendiri juga piringbekas  masak  dan makan yang lain. Tak jarang aku merasa kesal dengan semua beban  yang  diberikannya  hingga  setiap  kali  mengerjakannya  aku selalu bersungut-sungut.

Kini,  setelah  dewasa  aku  mengerti  kenapa  dulu ia melakukan itu semua. Karena  aku  juga  akan  menjadi  seorang  istri  dari  suamiku,  ibu  dari anak-anakku  yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.  Terima  kasih  ibu,  karena  engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat  pertama  kali  aku  masuk  sekolah  di  Taman  Kanak-Kanak,  ia  yang mengantarku  hingga  masuk  ke  dalam kelas. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan.  Juga  rasa  jenuh dan bosannya menunggu, yang penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.

Kini  setelah  aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman  bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia  membutuhkan  pertolonganku  disaat  tubuhnya  melemah. Saat aku menjadi orang  dewasa,  aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang  menginjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan  dandanannya  yang  kuanggap  kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang  trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua
meter  di  depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut  cerita  orang,  sejak  aku  kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya,  ia  tak  pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan  semua  untuk  membelikanku  pakaian  yang  bagus-bagus  agar  aku terlihat  cantik,  ia  pakaikan  juga  perhiasan  di tubuhku dari sisa uang belanja  bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan  dan   kasih  sayang  mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika  aku  terjatuh,  membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku mengangis.

Selepas  SMA,  ketika  aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi, aku  semakin  merasa  jauh  berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasan  seringkali  menganggap  ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga  tak  mengerti  apa-apa, hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara  aku  dengannya  hanya  sebatas  permintaan  uang  kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai  wisuda  sarjana,  baru  aku  mengerti,  ibu  yang kuanggap bodoh, tak berwawasan  dan  tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu  meraih  gelar  sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a  di  setiap  sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada  hari  pernikahanku,  ia  menggandengku  menuju pelaminan. Ia tunjukan bagaimana  meneguhkan  hati,  memantapkan  langkah  menuju  dunia baru itu. Sesaat  kupandang  senyumnya  begitu  menyejukkan,  jauh  lebih  indah dari keindahan  senyum  suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh  di  kakinya, saat itulah aku menyadari ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini  setelah  aku  sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya  atau  menanyai  kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh  dan  taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada  ibu.  Sungguh,  kini  setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala   kiriman   uangku  setiap  bulannya  tak  lebih  berarti  dibanding kehadiranku  untukmu. Aku akan datang dan menciummu ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku...(No Name)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement