|
“Bunda, Cassie dirawat di rumah sakit,” ucap putri saya sepulang dari sekolah. Cassie adalah teman sekolah putri saya. Seorang anak berusia 9 tahun yang periang, pintar, kurus, African-American.
Selanjutnya putri saya bercerita apa yang dialami temannya itu. Saat di sekolah Cassie sering tertidur di kelas. Dia sering mengeluh letih. Dan klimaknya Cassie hampir jatuh pingsan di dalam kelas. Untunglah saat itu gurunya sedang berada di dekat Cassie, sigap memeluknya, sehingga dia tidak terjatuh.
Cassie pun dilarikan ke rumah sakit dan ternyata setelah menjalani pemeriksaan Cassie dinyatakan mengidap Diabetes Melitus atau dikenal dengan kecing manis.
Penyakit diabetes melitus disebabkan kurang berfungsinya kelenjar ludah perut atau pankreas. Pankreas terletak di belakang lambung, berisi cairan semacam getah yang membantu mencerna makanan.
Salah satu cairan yang dihasilkan adalah insulin. Zat ini dihasilkan langerhans, kelompok sel yang tersebar di dalam pankreas. Tugas insulin adalah mengatur penggunaan karbohidrat atau glukosa dalam tubuh. Ketika pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup, maka zat gula (karbohidrat) dari makanan dan minuman manis tak dapat dimanfaatkan. Kelebihan gula akan larut ke dalam air seni sehingga disebut kencing manis.
Dan gula ini dapat pula larut ke dalam darah, maka saat diperiksa di laboratorium, endapan glukosa ini akan terlihat, sehingga di sebut gula darah. Penderita penyakit ini akan selalu kekurangan karbohidrat sehingga selalu merasa lapar dan haus.
DM ada 2 type yaitu type 1 disebabkan faktor keturunan, sedangkan type 2 bukan faktor keturunan.
Pada anak ternyata baru akan terdeteksi menderita diabetes biasanya pada usia 7 tahun ke atas. Tetapi bisa muncul sejak usia dini, bahkan bayi sekali pun. Hanya saat masih kecil, meski kekurangan insulin, biasanya tidak banyak. Jadi, tidak terlalu tampak meski kadar gulanya naik. Baru setelah anak semakin besar, makin kelihatan karena kebutuhan insulinnya makin banyak.
DM pada anak ditandai dengan sejumlah gejala yang mirip dengan gejala diare seperti muntah, sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dehidrasi berat, kejang-kejang dan sebagainya.
Banyak orang tua melihat gejala yang terjadi pada anaknya sebagai diare berat. Padahal dia sudah terserang diabetes. Tidak jarang anak penderita diabetes dibawa ke rumah sakit dalam keadaan koma.
Untuk itu orangtua harus memperhatikan kebiasaan makan dan aktivitas fisik anaknya di rumah. Selain juga memperhatikan perkembangan berat badan anak tersebut. Anak yang terindikasi menderita DM biasanya sering cepat merasa lapar dan haus, buang air kecilnya banyak dan berat badannya tidak/sukar naik.
Kadar gula darah yang normal pada anak sama dengan kadar gula yang normal bagi orang dewasa yakni berkisar antara 100-140 mg/dl.
Seringkali terjadi kalau anak banyak makan dan banyak minum, orang tua menganggap wajar. Sering kencing juga dianggap wajar, wong makan minumnya juga banyak. Itu yang membuat orang tua dan dokter kecolongan. Baru setelah anak terkena infeksi, baru diabetesnya kelihatan.
Sekarang Cassie mendapatkan perhatian khusus dari klinik sekolah, sebelum makan dan sesudah makan harus diperiksa gula darahnya, juga mendapatkan suntikan insulin setiap hari. Cassie pun harus diatur makannya, setiap 2 jam sekali diberikan snack untuk menjaga kestabilan gula darahnya. |