|
Beberapa hari lalu saat saya menjemput kedua anak saya di perhentian bis sekolah, di gerbang masuk komplek ada dua anak yang berjalan ke arah yang berbeda. Mereka bukan masuk komplek tetapi berjalan menuju arah hutan yang memang ada di sekitar komplek.
Seketika saya menghentikan langkah kaki, menantap anak-anak tersebut yang semakin jauh berjalan. Di sekitar saya banyak anak-anak yang memang tinggal satu komplek dengan saya. “Hey, mau kemana mereka? tanya saya pada anak-anak yang ada di sekitar saya. “Nggak tahu,” jawab anak-anak tersebut serempak.
Dengan spontan saya berteriak “Hey… kembali kesini. Itu bukan jalan pulang.” Dari jauh anak-anak tersebut menjawab,”kami mau cari jalan yang cepat.” “Tidak! Lewat jalan sini. Itu berbahaya. Kembali.” teriak saya lagi. Kedua anak tersebut datang menghampiri saya.
“Nak, jalan pulang lewat sini. Daerah situ berbahaya,” ucap saya lembut sambil menatap keduanya. “Kami hanya ingin tahu,” jawab keduanya.
Akhirnya saya pun berjalan di belakang anak-anak tersebut, memastikan semua anak masuk ke lingkungan komplek apartemen. Saat itu hanya saya orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak tersebut. Karena memang anak-anak tersebut tidak dijemput orangtuanya di perhentian bis. Orangtua berpikir jarak dari perhentian bis ke rumahkan dekat.
Curiosity killed the cat, pernahkah Anda mendengar istilah tersebut? Istilah untuk mengambarkan bahwa terkadang rasa penasaran, ingin tahu dapat membahayakan jiwa.
Jika saya tidak perduli dengan keselamatan mereka saat itu tentulah anak-anak tersebut sudah masuk hutan lalu lupa pulang bahkan mungkin terjadi hal yang tidak diinginkan. Hanya karena anak-anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ternyata perbuatan kecil yang saya lakukan sangat berarti untuk kedua anak tersebut.
Sama seperti ketika saya kecil (puluhan tahun lalu). Terkadang saat keasikan main suka lupa akan waktu dan bahaya. Nah biasanya orang dewasa yang melihat saya saat itu akan menegur. Mereka itu bisa tetangga, saudara, teman keluarga yang kenal dengan saya bahkan ibu-ibu yang lewat.
Bandingkan dengan kondisi saat ini. Berapa banyak orang dewasa yang perduli dengan anak-anak disekitarnya. Bahkan mungkin kita tidak kenal siapa anak tetangga kita. Akibatnya banyak sekali anak-anak yang jadi korban kejahatan, terancam jiwanya. Jika saja setiap orang dewasa terutama ibu memperhatikan anak-anak disekitarnya seperti anak-anaknya sendiri tentulah kejahatan terhadap anak-anak dapat dikurangi.
Kalau setiap ibu memperhatikan anak-anak yang mereka temui dimana saja, maka Insya Allah, kecemasan kita sebagai orangtua untuk melepas anak bermain di luar rumah dapat dikurangi. Kita tahu ada ibu-ibu lain yang akan menjaga, mengawasi anak kita, seakan anak kita memiliki seribu ibu. Dan kita pun akan melakukan hal yang sama terhadap anak-anak yang kita temui dimanapun kita berada.
Kenapa saya menghimbau terutama ibu, karena setiap ibu tahu bagaimana rasanya hamil dan melahirkan anak dan betapa sebagai orangtua kita mencintai anak dan ingin yang terbaik untuk mereka.
Saya pernah mengutarakan hal ini pada salah seorang teman, saat itu tanggapannya,”memangnya anak itu mau dengar perkataan saya. Lha bukan siapa-siapa kok ngatur.” Well, untuk melakukan satu kebajikan jangan dipikir dulu ntar begini..ntar begitu.. jangan belum apa-apa sudah apatis. Saya yakin kalau anak tahu niat kita baik mereka pun akan menerimanya dengan baik. Anak dapat melihat dari tatapan mata kita, mendenger ketulusan dari ucapan kita dan juga dari bahasa tubuh kita.
Saya percaya, ibu sebagai anggota masyarakat itu punya potensi, kekuatan untuk melindungi anak-anak, kalau kita gunakan kekuatan tersebut untuk tujuan baik, Insya Allah kita dapat melihat anak-anak berlarian dengan bebas, gembira di luar rumah tanpa perlu kita penjarai dengan TV, internet, game ataupun hiburan yang tak mendidik.
Setujukah Anda dengan saya? http://meidyaderni.com |