Menurut beliau, kampanye anti-puyer telah jelas dikemas oleh perusahaan farmasi mapan,karena keberadaan puyer yang menjadi pesaing mereka. Ditambah harganya yang murah meriah. Pihak pro anti-puyer tinggal "mencomot" seorang dokter atau ahli farmasi untuk memaparkan pada beberapa media pilihan tentang bahaya penggunaan puyer.
Mom yang lain menilai isi artikel yang ada pada link tersebut terasa janggal
" Memang kalau ISPA sudah langsung dikasih antibiotika ya? Bukannya penyebabnya virus, dan virus tidak mati oleh antibiotika?". Menurut beliau, yang terpenting dilakukan sebenarnya adalah penggunaan obat yang rasional.
Namun sayangnya, anak-anak balita "piyik" itu -- apalagi yang di bawah 1 tahun -- saat menderita demam dan dibawa ke dokter biasanya langsung diberikan puyer yang umumnya berisi luminal, diazepam, heptasan atau bahkan kadang ditambah CTM dan cetirizin .
".....lengkap deh. Padahal baby-nya gak perlu obat-obatan di atas, diazepam? tidak kejang, rasanya tidak perlu. Paling perlunya parasetamol saja, dan sediaan parasetamol sirup banyak, yang generik cuma 2000 perak saja, dua ribu rupiah!" tulisnya. Demikian halnya dengan kasus diare yang biasanya juga diberikan puyer. Khawatirnya, saat diberikan puyer, orangtua lupa kalau diare sejatinya yang sangat diperlukan adalah cairan. "Nah untuk kasus-kasus di atas, posisi saya jelas, NO to puyer......!" tutupnya di email beliau yang menanggapi tema diskusi puyer.
Mom yang lain setuju dengan pendapat terdahulu tentang pentingnya kampanye penggunaan obat yang rasional baik pada kasus puyer, obat resep ataupun obat warung. Menurut kaca mata awamnya, kelemahan puyer terletak pada kemungkinan validitas komposisi yang ada, keperluan pemilihan jenis obatnya, kemungkinan kontraindikasi yang terjadi serta penjagaan kontaminasi dari obat-obat lainnya pada alat gerusnya.
Ia menambahkan, beliau termasuk produk sistem penggunaan puyer dan antibiotik yang tidak jelas
"Sejak kecil kalau saya sekedar sakit pilek, batuk lalu pergi ke puskesmas atau ke dokter, pasti ada resep puyer di dalamnya. Terus terang saja, saya tidak tahu juga isinya apa:(. Apalagi untuk tahu kontra indikasi dan hal hal yang harus diperhatikan dalam pengkonsumsiannya, sama sekali tidak ada informasi!" tulisnya.
Ia juga menceritakan, saat kuliah ia banyak mengkonsumsi antibiotik. Bila ia terkena radang tenggorokan dan konsultasi ke dokter, pasti sang dokter meresepkan Amoxicillin. Namun yang mengherankan, selama ia 12 tahun merantau -- walau penyakit yang diderita sama; pilek,batuk, sakit tenggorokan -- penggunaan obat, apalagi antibiotik dapat dihitung dengan jari.
"Dan ternyata saya survive aja moms plus hasil general check up baik baik aja sampai sekarang,alhamdulillaah" tambahnya.
Di tempatnya bermukim, dokter tidak mudah memberikan obat, dan hal itu menurutnya tepat karena obat diberikan secara rasional. Pernah beberapa kali ia ke dokter dan merasa bahwa pasti akan diberikan antibiotik mengingat keadaan sakitnya --yang menurut subjektifnya-- sudah patut diberikan antibiotik. Setelah sang dokter memeriksa keadaannya, ternyata dokter hanya mengatakan "Sepertinya anda tidak perlu obat nih, hanya virus biasa. Makan banyak dan jangan makan yang berbumbu kuat ya, nanti sembuh kok, cuma ya harus sabar, karena memang sakit :)". Kejadian itu sering sekali ia alami, tak hanya saat ke dokter umum, pun di dokter anak, dokter THT dan dokter lainnya.
"Kami ke dokter, dan pulangnya tidak bawa apa apa (tentu kalau indikasinya tak mengarah kemestian pemberian obat atau antibiotik). Biasanya paling hanya diresepkan paracetamol untuk siap siap bila memang nantinya ada demam atau rasa yang kurang nyaman. Terus terang, saya nyaman dengan sistem pemberian obat seperti ini, amat rasional dan tidak sembarangan" tulisnya.
Satu hal yang ia sayangkan pula dari sistem pemberianobat di indonesia, kita sebagai konsumen tidak dibiasakan untuk kritis tahu apa yang kita konsumsi dan segala hal yang berkaitan dengannya. Ia menambahkan, baru saat ia merantau ia mulai belajar untuk lebih kritis karena setiap kali kita diberikan obat, pasti dengan lembar informasi penggunaan obatnya. Di lembar itu dengan jelas dapat terbaca:
- jenis bahan aktif yang digunakan
- kandungan dalam obat
- grup obat yang biasa digunakan utk pengobatan apa
- dalam kondisi apa obat tidak dapat digunakan
- apa yang harus diperhatikan saat pengkonsumsian obat di kondisi hamil dan menyusui
- apa yang harus diperhatikan saat mengkonsumsi obat
- efek obat bila dikonsumsi dengan obat jenis lain
- dosis yang diberikan (dalam kondisi normal, dalam kondisi fungsi ginjal yang terbatas, dalam kondisi khusus yang lain)
- bagaimana cara pengkonsumsiannya (apa dengan banyak air, sebelum vs sesudah makan etc)
- berapa banyak yang dikonsumsi
- apa yang harus dilakukan kalau tidak sengaja kita makan lebih dari dosis yang diberikan
- apa yang harus dilakukan kalau kita lupa mengkonsumsi 1 dosis
- apa yang harus diperhatikan kalau pengkonsumsian selesai atau terhenti
- efek samping apa saja yang mungkin muncul saat pengkonsumsian obat
- apa yang harus dilakukan bila terjadi efek samping yang dimaksud
- kapan masa kadaluarsa obat
- bagaimana cara penyimpanan obat
- tanggal terkini informasi obat itu dikeluarkan
- dll.
"Entah pengalaman moms mungkin berbeda dengan saya atau tidak, tiap kali saya menebus di apotik-apotik di indonesia, entah itu apotik level kota atau yang punya afiliasi di mana mana (sampai stand 2008), tak pernah saya mendapatkan lembar informasi penggunaan obat seperti di atas. Kalau dapat obat dalam bentuk sirup, biasanya sudah ditempel nama obatnya dengan kertas tempelan apotik dan disisakan dosis yang harus dikonsumsi. Kalau dapat dalam bentuk tablet, hanya lembaran tablet yang saya dapatkan dengan dikemas plastik berketerangan nama apotik plus dosis yang harus diberikan" demikian ia membagi pengalamannya. Ia juga menceritakan bahwa saat ia meminta lembar informasi penggunaan obat, baru diberikan petugas. Itupun dengan memasang muka "tak ikhlash" serta keberatan dan biasanya dengan iringan pesan sponsor
"Ini tinggal satu bu, jangan dihilangkan ya". (WRM/Inayati)