|
Pekerjaan yang kita lakukan, pekerjaan yang kita pilih sebagai isian saat ada formulir dari sebuah pertanyaan tentang "pekerjaan", ternyata membuat kita mahluk yang berbeda. Sewaktu saya masih kuliah, yang ada di pikiran saya adalah saya ingin menjadi seorang yang maju dalam profesi hukum. Pada saat kenyataan di lapangan tidak memberikan saya peluang untuk itu, saya harus segera pindah haluan.
Mungkin banyak orang yang begitu, sekolahnya apa, kemudian pekerjaannya apa. Tapi tidak pernah sekalipun saya berpikir kalau saya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Meskipun begitu saya membuka kesempatan itu tanpa prasangka buruk. "Apa susahnya jadi ibu rumah tangga?" mungkin begitu pikir saya pada mulanya. Toh, saya sudah cukup melihat bagaimana ibu saya menjadi ibu rumah tanga selama ini. Bukan berarti saya mengecilkan pekerjaan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Sekarang ketika pada akhirnya saat mengisi sebuah formulir saya menuliskan "homemaker" atau "stay at home mom" untuk pertanyaan pekerjaan, saya merasa lain dari yang lain. Bukan karena saya lebih istimewa, tapi ternyata menjadi ibu rumah tangga, saya dianggap mahluk tersendiri. Suatu hari ketika saya mengajak anak-anak naik kereta menuju New York, saya duduk di sebelah seorang wanita muda. Saya ajak dia ngobrol tentang sekolahnya, sedikit tentang kehidupannya sambil saya juga bercerita tentang diri saya. Kelihatan sekali pada saat saya bercerita tentang hal-hal yang saya ketahui non rumah tangga dan mengurus anak, dia antusias. Begitu saya sedikit bercerita tentang sepak-terjang saya sebagai ibu rumah tangga, bahasa tubuhnya berubah. Dia membuka-buka tasnya, berusaha melihat cellphone-nya, melihat ke luar jendela, dan lain-lain. Tapi begitu obrolan saya alihkan ke hal-hal yang berbau non rumah tangga dan mengurus anak, dia akan kembali membalasnya. Tapi memang pada kenyataannya kalau ibu rumah tangga bertemu dengan sesamanya, obrolan mereka akan lebih nyambung. Sebab rata-rata yang mereka bicarakan senada.
Sewaktu saya akhirnya bisa "bertemu" dengan kawan-kawan lama saat kuliah lewat milis, saya sempat bergembira. Sebab pengetahuan dan pandangan saya tentang hukun masih terus ada. Tidak sekalipun saya mengacuhkan berita tentang perubahan dalam hal hukum atau peraturan baik di Indonesia maupun di negeri tempat saya tinggal sekarang. Tadinya saya pikir saya bisa bertukar pikiran dengan kawan-kawan lama ini yang hampir semuanya bekerja di bidang hukum. Sedihnya, bisa dibilang tidak satu pun ada yang mengajak saya tukar pikiran atau ngobrol tentang hukum. Padahal saya kangen bisa membicarakan hal-hal yang serius, bukan cuma harga barang belanjaan di supermarket atau bagaimana caranya memasak sayur x. Bisa dibilang kawan kuliah yang waktu itu rajin mengajak saya ngobrol lewat YM karena dia butuh curhat tentang cowok yang sedang dia incar. Selain itu, nihil. Begitu ada awal obrolan dengan pertanyaan,"Lo ngapan di sana (di USA)?" dan saya jawab,"Gue jadi ibu rumah tangga". Saat itu juga bisa dipastikan obrolan kami selesai tanpa kelanjutan.
Dua hari lalu saya ngobrol di YM dengan kawan sekelas SMA. Dia termasuk yang bisa melihat saya sebagai Dian yang macam-macam isinya. Saya sebagai seorang ibu, sebagai seorang seniman, sebagai seorang pemerhati macam-macam dan tentu saja tempat curhat sesama wanita. Dia seorang pekerja kantoran dan masih lajang. Tapi tidak sekalipun dia merendahkan pekerjaan saya yang "cuma" ibu rumah tangga. Lalu minggu lalu 2 orang kawan kuliah menyapa dan mengirimkan email. Seperti gayung bersambut, saya dan 2 teman saya ini layaknya teman kuliah dulu yang asyik ngobrol di cafe kampus. Yang menjadi kesaamaan kami, kami sama-sama ibu rumah tangga. Obrolan yang tadinya tentang masa-masa kuliah, beralih menjadi urusan anak-anak. Biar begitu saya merasa senang, sebab ternyata pekerjaan seseorang itu bisa menempatkan dirinya begitu berbeda dari orang lain. Dari obrolan saya dan kedua teman saya itu, terasa sekali ibu rumah tangga adalah mahluk yang kurang dipandang di lingkup dunia lulusan kampus kami. Kami menjadi mahluk yang tidak bisa bercampur dengan orang-orang berjenis pekerjaan lain.
Benarkah begitu, orang-orang dengan masing-masing pekerjaan cuma bisa bersambung dengan orang-orang tertentu yang pekerjaannya sama? Para pengacara dengan para pengacara, dokter dengan dokter, pembuat kue dengan pembuat kue dan ibu rumah tangga dengan ibu rumah tangga. Coba saja anda yang ibu rumah tangga ngobrol dengan teman yang pekerja full time. Anda akan menemukan betapa berbedanya anda dengan dia. Dan untuk beberapa orang keadaan yang demikian bisa membuat minder. Saya sempat merasa kehilangan jati diri sejak saya menjadi ibu rumah tangga. Saya cuma istri suami saya, ibu dari anak-anak saya, dan tidak ada saya sebagai saya sendiri. Waktu saya berputar untuk mereka. Hingga suatu hari saya merasa, sayalah yang harus mencari keistimewaan saya sendiri. Untuk itu saya harus tahu macam-macam, sehingga kalau saya ngobrol dengan orang yang pekerjaannya lain dari saya, saya akan nyambung dengan dia.
Batu loncatan saya adalah saat saya harus bekerja membantu keuangan keluarga. Dari situ saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan. Tidak satu pun para pelanggan yang saya bantu tiap harinya melihat saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Bisa dibilang di mata mereka saya ya saya (ada yang tidak percaya saya sudah punya anak 3). Dengan mendengarkan mereka saya merasa lebih, saya nyambung dengan apa saja yang mereka bicarakan. Dan tidak pernah mereka menganggap remeh cerita-cerita saya tentang rumah tangga atau anak-anak. Bahkan sewaktu saya memberitahu mereka saya akan berhenti bekerja karena anak-anak, mereka bilang,"Good for you!" Tidak ada tanggapan,"Terus apa gunanya sekolah lo kalau lo cuma jadi ibu rumah tangga?" Tidak ada tanggapan,"Sayang banget, memangnya anak-anak lo nggak bisa lo titipin?" Pada akhirnya saya merasa cuma orang-orang yang sempit pemikirannya yang tidak bisa menerima orang lain karena pekerjaannya. Bisa jadi menjadi ibu rumah tangga itu berarti urusan dapur, membereskan rumah, mengurusi anak-anak dan segala tetek-bengek yang kurang keren. Tapi jangan pernah sekali-kali menganggap ibu rumah tangga itu mahluk asing yang tidak bisa nyambung dengan orang yang pekerjaannya lain dan meremehkannya. |