|
Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan |
|
|
Pengirim: Nur Eva Afiati
|
|
Sabtu, 01 November 2008 |
|
Satu kali saya memberi kakak (anak pertama, usianya ketika itu belum 3 tahun) buku mewarnai bergambar shinkansen. Maksudnya, supaya kakak bisa belajar mewarnai berdasarkan pola yang ada. Selain itu, shinkansen adalah benda yang disukai kakak. Ternyata, buku seperti itu (mirip lembar kerja siswa) termasuk dalam buku yang tidak cocok untuk anak berusia di bawah 6 tahun. Setidaknya itu yang saya baca dari buku berjudul Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan, Penerapan Teori DAP Anak-anak usia 0-8 tahun yang ditulis oleh Ratna Megawangi dan kawan-kawan.
Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan adalah terjemahan bebas dari konsep Developmentally Approriate Practices (DAP). Konsep DAP muncul karena banyaknya kurikulum di sekolah Amerika pada kurun 1960 – 1970 an yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak (terutama untuk anak usia 8 tahun). Kenapa tidak sesuai? Karena kurikulum yang lama dianggap telah mematikan kecintaan dan semangat anak untuk belajar.
Bagaimana praktek pendidikan yang patut dan tidak patut sebenarnya? Ini salah satu contohnya, pendidikan untuk Taman Kanak-Kanak. Anak diajarkan menghafal nama angka-angka tanpa memahami konsep dari bilangan yang disebutkan. Misalnya, diminta menyebutkan nama atau urutan angka, 1 sampai 10. Cara seperti itu, termasuk cara yang tidak patut. Dalam pendidikan yang patut dan menyenangkan, anak belajar memahami konsep berhitung dengan menggunakan benda konkrit lewat bermain. Misalnya, anak diajak menghitung jumlah buah-buahan yang ia masukkan ke dalam keranjang ketika bermain belanja-belanjaan.
Belajar IPS untuk anak SD, misalnya. Termasuk cara yang tidak patut jika anak diminta membaca wacana tentang pasar kemudian menjawab pertanyaan seputar wacana. Dalam pendidikan yang patut, anak akan melakukan kunjungan ke pasar, atau anak menyebutkan nama-nama pasar yang ada di kotanya dan menggambarkan pasar yang terdekat dengan rumah. Dapat juga meminta anak melakukan kunjungan ke pasar dan mengamati proses jual beli di pasar. Atau, anak dapat memilih salah satu jenis produk, kemudian mendata berbagai harga yang ditawarkan dan hal lain yang menjadi pertimbangan sehingga anak memutuskan produk yang akan dibelinya. |