|
Membangun Kepercayaan Diri Anak |
|
|
Pengirim: Meidya Derni*
|
|
Sabtu, 01 November 2008 |
|
Rasa percaya diri anak akan tumbuh subur jika anak merasa berkuasa dan memiliki tanggungjawab pada dirinya. Anak bukan digunakan sebagai alat pemuasan keinginan orangtua sehingga segala sesuatunya diatur oleh orangtua. Bahkan anak tidak diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sampai masa depan anak sendiri.
Untuk itu yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak antara lain adalah:
- Melihat anak sebagai pribadi yang unik, menghargai setiap usaha anak. Tidak membandingkan seorang anak dengan saudara kandung atau kawan sebayanya. Melihat kelebihan anak dari pada kekurangan anak. Mendukung minat anak walaupun berbeda dengan keinginan kita sebagai orangtua. Kadangkala sebagai orangtua tanpa kita sadari kita telah membandingkan anak dengan saudaranya. “Kamu ini makan berantakan. Adik kamu bisa makan dengan rapi.” “Kakak kamu suka gambar. Masa kamu tidak tidak suka gambar.”
- Realistis Terhadap Kemampuan Anak. Pelajarilah tumbuh kembang anak. Jangan mengharapkan anak melakukan sesuatu untuk meningkatkan gengsi Anda. Misalnya saja saat ini orangtua berlomba-lomba mengajarkan anaknya membaca sejak bayi. Orangtua bangga jika anaknya dapat membaca sejak dini. Padahal semua itu sebenarnya bukan untuk anak tetapi untuk memenuhi keinginan gengsi orangtua saja.
- Berilah kebebasan pada anak untuk melakukan kesalahan alias biarkan anak belajar dari kesalahan tersebut. Ingatkan anak untuk tidak takut gagal. Ajarkan anak ketrampilan dalam memecahkan masalah agar mereka bisa terus berusaha. Daripada Anda memikirkan kesalahan anak lebih baik memusatkan pikiran bagaimana cara menyemangati anak.
- Bangun kesuksesan. Ciptakan suasana untuk meminimalkan kegagalan. Misalnya dengan memerinci tugas ke dalam rentetan langkah mudah dan menceritakan mereka secara jelas dan singkat. Sediakan latihan. Beri anak kesempatan untuk berpartisipasi di bidang yang mereka kuasai.
- Semangati anak. Lihat usaha yang sudah dilakukan anak, daripada kecewa dengan hasil yang dicapai oleh anak.
- Hargai perasaaan anak. Ajarkan anak untuk menerima dan menghadapi perasaannya sendiri. Jika anak merasa kecewa dengan teman mainnya, dengarkan apa yang dirasakan anak, berikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan anak.
- Berikan pilihan. Anak tidak akan mengetahui pengertian kepemilikan dan tanggung jawab, jika orang lain selalu mengambil keputusan terhadap apa akan mereka melakukan. Untuk itu berikan pilihan sesuai umur anak, juga ijinkan mereka untuk mengadakan percobaan.
- Berikan tanggungjawab dan ajarkan untuk bekerjasama. Beri kesempatan pada anak untuk menolong atau melakukan tugas di rumah. Hindari membantu anak melakukan sesuatu jika hal tersebut dapat dilakukan oleh anak sendiri. Misalnya, biarkan anak memakai sepatu sendiri walaupun Anda harus menunggu.
- Bangun sense of humor. Tetapi jangan sampai mentertawakan anak. (MD) * Penulis buku parenting dan bacaan anak *Owner http://betterkidz.com |