|
Sebagaimana layaknya wanita Indonesia, saya termasuk yang berterima kasih atas jasa Ibu Kartini yang bersusah-payah mengusahakan kemajuan para wanita bangsa. Kalau dibandingkan keadaan para wanita Indonesia sekarang dibanding dengan 30 tahun lalu misalnya, terasa jelas bedanya.
Sekarang banyak wanita Indonesia yang berkarir dan kebanyakan dari kita pun pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tapi tidak sedikiti juga wanita yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga meskipun iming-iming berkarir itu sepertinya selalu saja ada. Ya, berkat Ibu Kartini hak wanita Indonesia lebih dihargai dan kepentingan kita lebih diperhatikan. Tapi apa benar begitu adanya?
Saat membahas tentang persamaan hak antara wanita & laki-laki, kalau ada protes biasanya datang dari wanita yang merasa haknya masih belum mutlak sama. Tentu saja hak-hak wanita dan laki-laki tidak akan pernah mutlak sama. Misalnya saja dalam hal urusan rumah tangga & anak. Sekalipun kita mungkin pernah mendengar istilah “bapak rumah tangga” atau kerennya “stay at home dad’, tetap saja hak-hak wanita & laki-laki tidak akan pernah sama. Kalau hak-hak itu diupayakan supaya seimbang, dalam arti kesempatan untuk maju & melakukan usaha menuju kemajuan untuk diri sendiri & orang lain, itu lebih tepat sepertinya. Namun dibalik usaha memajukan hak-hak para wanita, sebenarnya ada momok yang bersembunyi dan memecah belah. Yang mengerikan pelaku & korbannya adalah kaum wanita sendiri.
Berkat jasa Ibu Kartini, kaum wanita Indonesia tidak lagi bodoh & dianggap tidak berdaya. Banyak wanita telah berjasa besar bagi bangsa & negara. Bahkan Indonesia lebih berani dibanding Amerika Serikat yang pernah memilih seorang wanita untuk menjadi pemimpin negara. Sayangnya, dunia wanita itu ternyata terpecah menjadi dua: dunia wanita karir & dunia wanita biasa. Yang saya sebut sebagai wanita biasa di sini adalah para wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Meskipun tidak ada yang biasa dari seorang wanita menjadi ibu rumah tangga. Sebab sejak dari dulu, pekerjaan utama wanita sebetulnya adalah sebagai pengurus rumah tangga, bukan sebagai presiden, direktur atau pun dokter. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah, sekalipun para wanita yang menjadi ibu rumah tangga ini memiliki keahlian tersendiri. Dan begitu seorang wanita memilih untuk “cuma” menjadi ibu rumah tangga, biasanya mereka ini akan dilihat hanya sebelah mata.
Yang menakutkan buat saya adalah kenyataan bahwa yang menyepelekan kedudukan para ibu rumah tangga ini adalah sesama wanita juga. Wanita yang merasa sudah capek-capek bersekolah tinggi dan patut mendapatkan karir yang sesuai dengan imbalan yang amat layak. Wanita ini lah yang sering mencemooh para ibu rumah tangga yang menurut mereka “percuma capek-capek sekolah tinggi”. Aneh betul, karena bersekolah tinggi itu dianggap tidak ada gunanya bagi wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Mungkin ilmu-ilmu di bangku kuliah itu tidak akan dipakai saat menenangkan si kecil, atau mendongeng sebelum tidur. Tapi tidak ada ilmu yang tidak berguna, apalagi begitu wanita menajdi seorang ibu. Dengan bersekolah tinggi, membuat si wanita lebih “berisi” yang akan menambah pengetahuannya dalam membina anak-anak & keluarganya.
Seorang kawan saya suatu saat dipojokkan oleh orang tuanya karena sang adik baru saja mendapatkan pekerjaan yang mentereng dengan bayaran dollar. Kawan saya & adiknya ini sama-sama pernah mengenyam pendidikan tinggi di sekolah ternama. Bedanya, sang adik memilih untuk memoles curriculum vitaenya lebih lanjut, sedangkan sang kakak memilih untuk menemani putri pertamanya & menjadi ibu rumah tangga. Yang paling ramai menyepelekan tentu saja dari pihak sang adik, yang merasa lebih punya pamor daripada sang kakak yang cuma ibu rumah tangga. Jeleknya, hal ini merembet pada suami sang kakak yang jadinya turut mengecilkan kedudukan istrinya yang tiap hari bekerja keras untuk keluarganya. Lagi-lagi akan terdengar kalimat,”Sayang ilmu kamu nggak terpakai”. Atau bakal terdengar keluhan seakan-akan sang istri tidak membantu suaminya secara material tentunya. Memang menjadi ibu rumah tangga itu bukan pekerjaan mentereng. Tapi pekerjaan berupa apa yang menuntut kesabaran tinggi sewaktu kerepotan datang, jam kerja yang tiap hari mungkin tidak menentu & penghargaan yang kurang? Pekerjaan ibu rumah tangga tentunya.
Saya tidak akan membahas besarnya gaji seorang ibu rumah tangga kalau dia mesti dibayar (menurut berita yang tadi saya tonton bisa sebesar $117,000 setahunnya). Yang saya ungkapkan di sini adalah tidak adilnya dunia wanita itu. Berkat upaya penyeimbangan hak-hak wanita untuk bisa memajukan dirinya, wanita terpecah ke dalam keadaan yang saling mencemooh. Seperti yang pernah saya baca di sebuah majalah bayi dari US tentang carreer mom versus stay at home mom. Masing-masing kubu merasa menang dan menuding kubu lain. Kubu wanita karir menuding kaum ibu rumah tangga karena tidak membantu keluarganya di bidang keuangan yang bisa menjamin kehidupan kelurga yang lebih sejahtera. Sedangkan kubu ibu rumah tangga menuding para wanita karir ini cuma mau menang sendiri dan tidak memperdulikan anak-anaknya, sebab tega menitipkan anak-anaknya pada orang asing (day care misalnya).
Seandainya saja sebuah pilihan itu mudah untuk dijalani apa adanya, mungkin dunia wanita tidak akan terpecah-belah. Mungkin fungsi kita berbeda saat ini karena pilihan pekerjaan yang kita jalani. Tapi di akhir cerita sebetulnya berujung sama, sebab wanita itu bisa. Bisa di sini adalah bisa memilih bagaimana dia menjalankan hak-haknya. Apakah itu untuk menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, tetap saja itu mengenai pengamalan hak-hak kita dan tidak ada gunanya meremehkan pilihan seseorang. Sebaik-baiknya kita, adalah yang selalu ingat untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri & ibu. Karena begitulah wanita diciptakan. Apapun nantinya bentuk pekerjaan kita, pada akhirnya seorang wanita akan dihadapkan untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri dan/atau ibu. Jadi buat apa menyepelekan wanita lain karena berbeda pilihan, tengoklah diri sendiri dan berjanji untuk memajukan harkat wanita lebih tinggi.
D. Yustisia |