|
Ada beberapa orang yang menyarankan agar tak menyapih anak dengan paksaan; tunggu sampai si anak ikhlas menolak sendiri disusuin. Tapi, ada kalanya, kita tak bisa menunggu, dengan berbagai pertimbangan.
Berikut ini tips-tipsnya, berdasarkan pengalaman saya dalam menyapih dua anak. I. Persiapan:
1. Sosialisasi Sejak sebulan-dua bulan sebelum menyapih, beritahu anak dengan cara sederhana, supaya anak tak kaget saat disapih. Contohnya: Ibu: Dek, ini susu punya bayi. Adek kan sudah besar, minumnya pake gelas, ya? (Saya pikir, sebaiknya jangan dikasih dot, karena nanti jadi bikin beban lagi, saat kita harus mengenyahkan dot dari si anak). Saat sedang bacain buku cerita pun, bisa kita plesetkan, “Tuh, ini bebeknya sudah besar, jadi nggak minum susu lagi sama Ibu Bebek. Anak bebek minumnya pake apaaa? Gelaaaassss…” Kalimat ini diulang-ulang terus, jangan bosan.
2.Pilih waktu yang nyaman: anak-ibu sehat, si ayah (atau orang yang akan mendampingi saat penyapihan, nenek atau baby sitter) ada waktu selama 2-3 malam untuk begadang. 3.Siapkan: kunyit bubuk atau bubuk kopi atau batrawali (sejenis tumbuhan yang getahnya pahi sekali) dan obat penahan sakit untuk ibu (parasetamol/acetaminophen) 4.Siapkan juga: susu UHT dan gelas lucu buat anak 5.Berdoa
II. Pelaksanaan:
1. Payudara ibu diolesi kunyit dan kasih tahu ke anak kalau payudara ibu sakit, ada darahnya (duh bohong, tapi mudah-mudahan ini termasuk white lie). Anak biasanya akan jijik dan menolak nyusu. Tapi, ada jenis anak yang ngotot, tetap nyusu. Nah, kalau anaknya begini, coba diolesi dengan sesuatu yang pahit, misalnya kopi. Tapi ada anak yang bahkan diolesi batrawali pun (yang pahitnya top banget) tetap saja ngotot nyusu dan mampu menahan rasa pahit itu. Kalau sudah begini, ya, jangan biarkan anak nyusu. Nangis, pasti. Tapi dikompensasi dengan pelukan dan kasih sayang dari ayah.
2. Malam pertama adalah yang paling berat dan sulit. Anak akan menangis sepanjang malam. Paling tertidur sebentar, lalu tersentak lagi dan menangis, “Mau susu Ibu….!” Tapi, saat diperlihatkan payudara yang diolesi kunyit, dia akan menolak karena jijik. Rasanya sedih sekali. Tapi, rasa sedih ini harus ditahan, kalau Ibu benar-benar berniat menyapih. Lagipula, esok hari, situasi akan semakin mudah, jadi jangan khawatir.
3. Esok harinya, curahkan perhatian semaksimal mungkin ke anak. Kehilangan ASI-nya dikompensasi sebisa mungkin dengan kasih sayang. Artinya, si Ibu juga harus stand-by di rumah, jangan kemana-mana dan meninggalkan anak ke pembantu. Tiap kali anak minta ASI, alihkan perhatian dengan cara mengajak main. Atau bila terpaksa, ya, perlihatkan lagi payudara yang sudah diolesi kunyit, “Tuh..kan… susu Ibu ada darahnya, sakiiiit..deh. Minum susunya pake gelas aja yaaaa?”
4. Payudara Ibu pasti sudah terasa sakit, atasi dengan obat penahan sakit. Sabar saja, 2-3 hari lagi, biasanya sakit akan hilang.
5. Malam kedua, Ibu biasanya tidak sanggup lagi menggendong anak, karena payudaranya sakit sakit. Nah artinya, sepenuhnya si Ayah yang harus bergadang dan mengurus anak saat anak tersentak bangun minta ASI. Tapi biasanya, malam kedua, tidak separah malam pertama. Anak akan lebih banyak tidur (dibanding malam pertama).
6. Esok harinya dan malam selanjutnya situasinya akan lebih baik. Anak sudah tidak lagi merengek tiap sebentar minta ASI. Biasanya malam ke-3 everything is under control. Anak tidur lebih tenang dan bahkan minta sendiri susu pake gelas! Payudara Ibu yang sangat bengkak pun perlahan akan mengempes dan hilang sakitnya.
Mudah-mudahan bermanfaat buat ibu-ibu yang akan menyapih ‘paksa’ anaknya. |