We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Bahasa Isarat Dengan Bayi
Bahasa Isarat Dengan Bayi E-mail
Pengirim: Lita Marliana   
Jumat, 30 Mei 2008

 Bahasa isyarat dipopulerkan sebagai parenting tool oleh Sign2Me, sebuah perusahaan yang berdiri di atas ide cara berkomunikasi antara orangtua dan bayi yang sama-sama dapat mendengar. Produknya pun bervariasi dari buku, VCD, sampai flashcard. Tidak ada yang benar-benar baru dalam metode ini, kecuali bahwa bahasa isyarat itu sendiri belum populer di tengah masyarakat yang 'bicara', apalagi di Indonesia.

Saya mengetahui tentang bahasa isyarat untuk bayi ini ketika masih mengandung Daud, hampir 2 tahun lalu. Sebuah ide yang sangat menarik, mengingat hal pertama yang membuat orangtua frustasi adalah tidak mengerti apa yang diinginkan oleh bayinya.

Sayangnya kemalasan untuk belajar menarik saya dari berlatih dan menerapkannya sedini mungkin. Lalu e-book itu terlupakan begitu saja. Terselip di antara ratusan e-book lain dan tersembunyi di laci ingatan. Hingga satu saat muncul kembali di rak sebuah toko buku besar, ketika kami sedang berbelanja buku untuk kedua anak kami.

Baby Language; Mengajarkan Bahasa Isyarat kepada Bayi. Pengarang yang berbeda, pengungkapan yang berbeda, ilustrasi yang berbeda, namun acuannya tetap sama; American Sign Language (ASL). Tuturannya lugas dan lucu, khas lelucon para orangtua yang sudah lulus setahun pertama usia bayinya (banyak hal yang baru bisa ditertawakan orangtua ketika usia si kecil sudah lewat setahun, kebanyakan karena sebelumnya tidak punya waktu untuk berpikir bahwa hal itu lucu!).

Kenapa bayi yang dijadikan fokus? Karena bayi adalah tahap pertama manusia, ketika dia belum dapat bicara tapi sebagai mahluk hidup sudah memiliki kebutuhan, primer (makan, minum, tidur) maupun sekunder (jalan-jalan, main). Anak yang sudah mampu bicara akan dapat mengungkapkan keinginannya, walau belum sempurna. Sedangkan bayi?

Ketika bayi menangis, ada sederetan protokol yang harus dilewati untuk mengetahui penyebabnya.

    * Pegang popoknya, basahkah? Atau tidak basah tapi bau? Ganti popoknya.

    * Pegang punggungnya, basahkah? Mungkin kepanasan. Ganti bajunya atau kipas-kipasi.

    * Letakkan jari (dalam keadaan bersih) di tepi mulutnya. Dikejarkah oleh bibirnya sambil lidahnya sibuk mengecap-ngecap? Mungkin lapar/haus.

    * Pegang kakinya, dinginkah? Mungkin kedinginan. Selimuti.

    * Tepuk-tepuk punggung/pahanya, mungkin ia sedang ingin ditepuk-tepuk.

    * Selipkan jari di genggamannya. Apakah ia berusaha mengangkat kepala? Mungkin ingin bangun/digendong.

    * Pegang dahi/lehernya, panaskah? Mungkin ia tidak nyaman karena demam.

Apa yang dapat terlewat oleh protokol tersebut? BANYAK. Bagaimana jika bayi anda mau bilang:

 * Kaget. Takut.
Beberapa bulan belakangan ini, si bungsu sering terlihat panik, lari mengejar ayah atau bundanya ketika Maghrib tiba. Ketika diamati baik-baik (perlu beberapa hari), ternyata ia takut pada suara adzan. Tidak sembarang adzan. Adzan Maghrib dari mushola dekat rumah. Suara adzan di TV tidak menakutinya. Suara adzan di waktu shalat yang lain juga tidak membuatnya kaget. Agak aneh. Tapi ya itulah.

* Sakit.
Sakit perut, sakit kepala, telinganya sakit. Jika bayi anda tiba-tiba menangis sangat kencang dan anda jumpai ia dalam keadaan normal (tidak telungkup atau terlentang, yang berarti bukan karena jatuh) dan tidak ada apa-apa, tidak berarti ia baik-baik saja. Dari mana anda tahu bagian yang sakit?

* Ambilkan bukuku!
Ia belum lama bangun tidur dan teringat buku yang tadi dibuka-bukanya sebelum jatuh tertidur. Mana sekarang? Kok ngga ada?

* Ngga mau!
Ngga mau dilihat sama eyang, ngga mau diajak omong, ngga mau diajak bercanda, ngga mau digendong, ngga mau direbahkan di kasur. Pokoknya ngga mau! Maunya yang tadi! Apa ya yang tadi itu?

* Mau susu!
Bukan susu bunda! Argh, bukan susu di gelas yang pakai sedotan itu! Maunya yang di kotak!

* Lapar!
Mau makan, bukan susu! Ih, ngga ngerti banget deh. Mau makan kok dikasih susu sih?! Aku kan bukan bayi 6 bulan lagi. Roti, tau!

Setelah beberapa bulan jengkel setiap pagi karena rutinitas-tak-jelas-tiap-pagi (dari tawaran ke toilet, jalan-jalan, main, sampai susu), sekarang kami tahu lewat isyarat tangan Daud segera setelah ia bangun tidur dan duduk: MAKAN!

* Hei, apa itu? Yang tadi lewat di atas! Itu yang berisik! Aduuuhhh… dasar para orang dewasa lemot. [Pesawat]

* Sudah, hentikan! Kok malah ditawarin terus sih? Bukan, bukan diganti. STOP!

Bahasa isyarat tidak menjanjikan mukjizat dan solusi sekejap. Bahasa isyarat tidak membuat segalanya menjadi indah. Bahasa isyarat tidak membuat anak anda menjadi mahir dan pintar 'bicara' dalam sehari. Butuh waktu bagi orangtua, anak, dan lingkungannya untuk mencapai tahap ketika bahasa isyarat memuluskan proses komunikasi.

Tangan
Beberapa keuntungan bahasa isyarat

Mendorong anak untuk berkomunikasi lebih awal. Ketika kata belum dapat terucap, maka gerakan tangan menjadi jalan keluar penyampaian maksud.

Meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengetahui bahwa apa yang dikatakannya dimengerti oleh orang dewasa (terutama orangtua, orang dewasa yang paling penting!), anak menjadi lebih semangat untuk 'berbicara' dan 'bercerita'. Selain itu anak akan berani berkomunikasi dengan mereka yang mengalami halangan berbicara. Tentu dengan asumsi bahwa yang diajak bicara juga mengerti bahasa isyarat. Kalau tidak, sama saja.

Mengurangi frustasi orangtua dan anak. Siapa yang tidak frustasi ketika maksud tak kunjung ditangkap? Jangankan bayi, kita yang mampu berbicara saja bisa jengkel luar biasa jika lawan bicara salah fokus terus.

Membangun rasa percaya dan memperkaya interaksi. Secara alami, kita akan merasa lebih dekat dengan orang yang dapat diajak berkomunikasi. Dengan mengerti apa yang dikatakan bayi, kita menjadi lebih berempati, lebih mudah mengerti apa yang dialami dan dirasakan oleh si kecil yang sedang belajar mengenali rimba dunia.

Membantu mengenali kepribadian dan pikiran anak. Ketika si bungsu memperhatikan tamu ibu lekat-lekat lalu membuat isyarat 'bayi', barulah saya sadar bahwa yang diperhatikannya adalah bayi yang ada di gendongan, bukan tamu ibu. Dan ketika tiba-tiba ia 'berkata' 'tidur', ia bercerita pada saya bahwa bayi di gendongan tamu ibu itu sedang tidur (walaupun sebenarnya tidak benar-benar tidur, hanya menyandarkan kepala).

Atau ketika sedang bermain sore-sore, tiba-tiba Daud menatap saya sambil berkata 'makan'. "Kan tadi Daud sudah makan?", tanya saya. Lalu ia menatap ke arah lain sambil menunjuk. Oh. Temannya sedang makan. "Oh ya, Dini sedang makan, ya", kata saya. Sementara ibu-ibu lain (yang juga sedang bersama anaknya) hanya menatap kami heran. Percakapan yang aneh, mungkin. Atau, sepertinya yang lebih aneh adalah tangan kami yang ikut bicara.

Beberapa hal penting mengenai pengajaran bahasa isyarat


Isyarat sambil bicara. Mengisyaratkan sesuatu tidak berarti anda tidak perlu mengajarinya bagaimana mengatakan sesuatu secara verbal. Katakan "Tidur" sambil memberi isyarat 'tidur'. Anak akan memahami dengan lebih baik hubungan antara isyarat, kata-kata, dan gerak tubuh anda. Dus memahami maksudnya.

Kendali motorik anak belum semahir anda. Jadi anda dapat mengharapkan munculnya isyarat-isyarat yang mirip untuk maksud yang berbeda. Walau di awalnya akan sedikit membingungkan, tapi situasi akan membantu anda untuk mengerti maksudnya. Namun tetap saja 'makan' dan 'minum' dapat tertukar dimengerti oleh anda.

Anak dapat terpengaruh oleh asosiasi. Jika anak sering ditawari 'lagi' pada saat makan, bisa jadi ia mengira bahwa 'lagi' adalah 'makan'. Dengan begitu, alih-alih berkata 'makan', ia akan membuat isyarat 'lagi'. Ini wajar, para orang dewasa yang harus jeli dan telaten meluruskan maksudnya. Misalnya dengan membuat kata 'lagi' tidak hanya muncul pada saat makan tapi juga saat bermain, "Baloknya 'lagi'?".

Anda tidak harus mengubah isyarat yang sudah disepakati. Yang paling umum tentu saja mengangguk untuk 'ya' dan menggeleng untuk 'tidak'. Ini lebih mudah dimengerti dan lebih alami untuk anda (dan anak anda) lakukan ketimbang mengisyaratkan 'ya'. Boleh saja anda ajarkan keduanya. Pastikan anak anda tidak bingung. Kuncinya adalah konsistensi.

ASL dijadikan acuan supaya bahasa isyarat yang anda pergunakan juga dapat dimengerti oleh pengguna dari belahan dunia lain. Dengan mengacu pada standar, anda akan mempermudah komunikasi lintas komunitas. Tapi jika anak anda telah menciptakan sendiri isyarat yang lebih mudah dan nyaman bagi kata-kata tertentu (karena sering dipakai, misalnya), tak perlu paksakan untuk menghapus dan menggantikannya dengan isyarat baku.

Bahasa isyarat tidak menghalangi anak dari berbicara. Seiring umur dan kendali motorik terhadap perangkat bicara, anak akan tetap belajar berbicara. Selain tangannya berkata 'makan', anak juga akan belajar berkata "Makan" atau "Ma'em". Dengan bantuan anda, tentunya.

Isyarat bukan kewajiban, tapi tambahan yang menyenangkan. Tidak apa-apa untuk mengajarkannya satu isyarat untuk benda yang diminta. Tapi ternyata tidak efektif untuk mewajibkannya memberi isyarat benda yang dimaksud sebelum diberikan padanya.

Pengalaman pribadi saya, Daud sama sekali mogok dari bilang 'susu' ketika saya minta ia bilang 'susu' sebelum saya memberinya. Menangis kencang tanpa peduli saya bilang apa. Dan terus menangis sampai apa yang diminta diberikan. Tentu saja saya tahu dia bisa mengisyaratkan 'susu', karena dia sering melakukannya di waktu lain. Tapi tidak jika saya wajibkan sebagai syarat pemberian.

Saya mengalah. Ya sudahlah. Ganti metode. Sekarang ketika semua gerak-geriknya seolah 'berkata' minta susu -kecuali satu: isyarat 'susu'- saya berikan saja sambil mengisyaratkan susu tanpa memintanya untuk menirukan. Ternyata dia tidak lagi menangis kencang untuk menuntut susu. Cukup naik ke kasur, mengatur posisi yang diminati, lalu menatap saya sambil mengisyaratkan 'susu'. Duh, mana bisa ditolak kalau sudah begini.

Memulai pelajaran bahasa isyarat

Nothing is too much. Ketika saya berbicara satu kalimat penuh dan seluruhnya disertai isyarat, suami saya menegur, "Kebanyakan, bunda". Saat itu Daud tampak tidak sungguh-sungguh menyimak, atau mungkin tidak mengerti apa yang saya katakan. Sama sekali. Saya cuma nyengir. "Ngga, ah. Lama-lama juga biasa". Membela diri. Biasa.

Tapi ketika Daud mengeluarkan 'koleksi' isyaratnya di saat-saat tertentu, tahulah saya bahwa sekalipun ia tidak 100% menatap saya, ia tetap mengenali isyarat yang saya ajarkan. Nothing is too much, really.

Anak punya caranya sendiri dalam belajar, mengingat, dan mengungkapkan ingatannya. Bisa saja tiba-tiba 'kunci', 'motor', 'pesawat terbang', 'jangan'. Sesukanya. Seperti kita belajar bahasa asing. Dicekoki, bingung, lalu lama-lama terbiasa dan mahir.

Mulai kapan saja. Walaupun ada usia minimal rata-rata bagi anak untuk dapat melakukan isyarat yang sesuai maksud dan dapat anda mengerti, tak ada halangan untuk memulainya kapan saja. Tidak ada terlalu dini, tidak pula ada terlambat. Tidak ada terlalu sedikit, tidak pula ada terlalu banyak. Alah bisa karena biasa.

Tip dari saya sederhana saja: konsisten dan persisten. Sabar sih pasti. Sudah default, setelan peran orangtua dari sononya. Mana ada punya anak tapi tidak punya sabar?

Sekarang, belum genap 2 bulan bahasa isyarat dikenalkan ke Daud. Tapi manfaatnya bagi kami telah sangat terasa. Setidaknya ia tak harus menunggu setengah jam, dan dihabiskannya dengan menangis dan marah-marah hingga para orang dewasa di rumah menyadari bahwa ia ingin makan atau susu.

Dari Baby Language; Mengajarkan Bahasa Isyarat Kepada Bayi, dan Sign with Your Baby dengan banyak tambahan di sana-sini dari penulis. Saat ini buku tentang pengajaran isyarat kepada bayi sudah sangat banyak. Anda dapat pilih sendiri yang sesuai dengan minat, di luar buku yang menjadi rujukan saya ini.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement