We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda
Deritamu Gembiraku? E-mail
Pengirim: Liza Sasono   
Jumat, 30 Mei 2008

 Dulu aku ini termasuk orang yang tertutup. Ada masalah atau tidak, mukaku lempeng saja. Buat aku masalahku ya masalahku. Buat apa diceritakan ke orang lain. Biarpun saat itu aku punya sahabat, tapi sahabat toh tetap manusia. Rasanya tidak ada gunanya.

Lalu, suatu kali aku pernah kepergok seseorang lagi merenung. Sebenarnya yang kurenungkan tidak penting-penting amat. Tapi orang itu, yang notabene adalah teman sekelas yang selama ini kuanggap nerd, diam-diam mendekati dan berkata, "Eh, kamu lagi ada masalah ya?" Jelas saja aku kaget, ih siapa sih lo?! Berani-beraninya nanya aku punya masalah atau tidak. Langsung saja kujawab, "Sok tau ah! Emangnya siapa yang punya masalah?"
Lalu dia mengamati aku sejenak dan berkata, "Kamu orangnya misterius sih, tapi kelihatan kok kalau punya masalah. Ceritain saja, aku tidak bakal cerita ke orang lain, kok."

Eh, lancang sekali! Jelas saja tidak aku ladeni. Aku langsung pergi. Tapi kata-kata dia membuat aku tersentuh dan berpikir: Apa benar ya aku keliatan punya masalah? Apakah kalau punya masalah harus diceritakan pada orang lain? Apa itu membantu?

Di mana pun dia sekarang, kata-kata dia memang tepat sasaran. Bukan berarti juga aku berubah jadi orang yang suka curhat, tapi setidaknya kalau sudah tidak tahan aku pasti bakal cerita masalahku ke orang yang kupercaya. Jujur saja, sekarang sahabat susah dicari. Tapi ada beberapa teman yang kupercaya menjadi tempat mencurahkan masalah. Lebih tepatnya saling mencurahkan masalah. Termasuk suami dan adikku. Setelah hidup lebih dari 30 tahun di dunia yang gila ini, aku sudah bisa menilai orang macam apa yang bisa dipercaya untuk menjadi temanku. But, ini bukan soal mencari teman, tapi soal curhat.

Setelah hidup lebih dari 30 tahun ini juga, aku belajar bahwa saling berbagi masalah banyak gunanya, asalkan pada orang yang tepat tentu saja. Terus-terang saja, setiap kali mendengar curhat teman-temanku aku jadi merasa bukan orang paling malang sedunia. Dan setiap kali teman-temanku mendengarkan aku curhat, mereka merasa sedikit beruntung dalam kehidupan.

Kayaknya itu untungnya punya teman berbagi. Kedengarannya kasar ya. Tapi memang benar. Jika kita memberi, kita akan merasa bahagia, dan merasa bahagia adalah bentuk keegoisan. Karena manusia adalah makhluk egois maka kita tak bisa lepas dari perasaan kodrati itu. Well, sebenarnya kesimpulan itu kudapan dari seorang teman chating. Dan kupikir-pikir benar juga. Perasaan bahagia dan tenang adalah suatu bentuk keegoisan, entah apa pun alasannya. Maka setiap orang ingin bahagia dan hidup tenang. Manusia memang perlu menjadi egois, karena itu hal yang kodrati.

Dulu aku marah kalau dibilang egois. Eh, tapi dipikir-pikir benar juga, memang egois kok. Asal ada batas saja. Nah, masalah batas adalah hal lain. Kayaknya masing-masing pribadi juga tahu.

Lalu mendengarkan curahan cerita derita orang lain juga membuatku jadi egois. Semalam temanku curhat kalau keluarganya sedang dalam kesulitan keuangan sehingga terpaksa menjual rumah mewahnya untuk membayar utang. I feel sorry for her, truly. Tapi di dalam hati, aku merasa lega karena ternyata bukan aku saja yang pernah mengalami masalah buruk. Selama ini aku merasa jadi orang termalang di dunia. At least, aku bisa belajar tentang cara dia menghadapi masalah seperti itu. Pernah juga ada teman yang berpendapat bahwa manusia selalu bahagia di atas penderitaan manusia lain. Ih, sadis banget. Aku tidak setuju. Tapi lagi-lagi, setelah dipikir-pikir, kok ada benernya. Kita melihat bencana alam di daerah lain, tak sadar komentar: "Ih, kasian. Untung daerah kita tidak kena." Lalu kalau ada suami yang selingkuh, kita suka komentar: "Untung suami gue gak gitu" atau "Ternyata ada juga suami yang selingkuh selain suami gue." Pasti ada nada lega... gembira? Mungkin termasuk perasaan gembira karena kita tak sendirian. Jadi, biarpun kedengarannya kurang bijak, kalau disebut deritamu gembiraku ada benarnya juga. Biarpun...lagi-lagi... tidak enak mau mengakuinya.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru
Sindikasi
Sedang Online
Ada 1 tamu online




Advertisement